طبيب الطب النبوي Dokter Pengobatan Nabawi

Islam, Hukum, Sholat, Tatacara

ADAB Makan & Minum (Bg.2. Larangan makan sambil bertelekan/menelungkupkan wajah)

with one comment


Larangan makan sambil bertelekan atau menelungkupkan wajahnya.

Oleh : Al-Ustadz Abu Muawiah Hafidzahullah


Abu Juhaifah meriwayatkan , bahwa beliau berkata : “ Saya pernah berada disisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka beliau bersabda kepada seseorang yang berada disampingnya : Tidaklah sekali-kali saya makan sambil bertelekan “[1]

Ibnu Hajar mengatakan : “ Cara betelekan yang dilarang telah terjadi perbedaan pendapat, ada yang mengatakan : Dengan bersandar sewaktu makan dengan posisi apapun juga. Ada yang berpendapat : Duduk serong kesalah satu sisi tubuhnya . Ada yang berpendapat : Duduk dengan menopang kepada tangan kirinya diatas tanah …

Beliau berkata : Ibnu Adiy meriwayatkan dengan sanad yang dha’if : “ Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang bersandarkan dengan tangan kirinya ketika makan “

Malik berkata : “ Ini adalah salah satu bentuk bertelekan “

Saya – Ibnu Hajar – berkata : “ Dan ini adalah isyarat dari Malik bahwa makruh setiap yang termasuk dalam bertelekan sewaktu makan, dan tidak mengkhususkannya dengan posisi tertentu …

Ibnu Hajar mengatakan : “ Dan apabila hal ini suatu ketetapan bahwa makruh atau termasuk khilaf aula – menyalahi amalan yang utama – , maka posisi duduk yang sunnah disaat makan adalah dengan duduk berjingkat pada lutut dan menegakkan tumit, dengan melipat kaki kanan dan duduk diatas kaki kiri “[2]

Dan tinjauan makruhnya posisi duduk ini dikarenakan merupakan posisi duduk para penguasa yang angkuh dan raja-raja negeri asing. Dan merupakan posisi duduk orang-orang yang berkeinginan memperbanyak makannya.[3]

Dan posisi yang kedua dari cara makan seseorang yang terlarang adalah makan sambil duduk bersandar/bertelungkup di atas perutnya.

Dari hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu , beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang orang-orang berbuat tamak, dan melarang duduk diatas meja yang terhidang khamar, dan melarang seseorang duduk bertelungkup diatas perutnya “[4]

Faedah : Cara duduk ketika makan : Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dengan posisi muq’in dan disebutkan dari beliau, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk ketika makan dengan duduk tawarruk, yaitu duduk diatas kedua lutut dan meletakkan telapak kaki kiri beliau atas punggung kaki kanan beliau, sebagai bentuk sikap tawadhu’ – rendah diri – kepada Rabb-nya ‘azza wajalla. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim[5].

Adapun posisi duduk ketika makan yang pertama adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, belaiu berkata : “ Saya telah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk dengan posisi muq’in[6], sedang memakan kurma “[7]

Adapun posisi duduk yang kedua : Diriwayatkan dari Abdullah bin Busr radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : “ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi hadiah seekor kambing, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertopang dengan kedua lututnya menyantap kambing tersebut. Maka seorang Arab Badui berkata kepada beliau : Posisi duduk apakah ini ?. Beliau bersabda : Sesungguhnya Allah menjadikan aku sebagai seorang hamba yang mulia dan tidak menjadikan aku sebagai seorang penguasa angkuh lagi pembangkang “[8]


[1] HR. Al-Bukhari ( 5399 ), dan lafazh diatas adalh lafazh hadits Al-Bukhari, Ahmad ( 18279 ) , At-Tirmidzi ( 1830 ), Abu Daud ( 3769 ), Ibnu Majah ( 3262 ) dan Ad-Darimi ( 2071 ).

[2] Fathul Bari ( 9 / 452 ), Saya berkata : Posisi ini yaitu dengan menegakkan kaki kanan dan duduk diatas kaki kiri, diriwayatkan oleh Abu Al-Hasan Al-Muqriy didalam Asy-Syamail dari hadits beliau – Abu Juhaifah – :” Apabila beliau duduk, maka beliau melipat lututnya yang kiri dan menegakkan kaki kanannya … “ Sanadnya dha’if. Al-‘Iraqi mengatakannya didalam Takrij Ihya’ ‘Ulumuddin 2 / 6, cet. Daar Al-Hadith, cet. I 1412.

[3] Lihat : Zaad Al-Ma’ad ( 4 / 222 ) dan Fathul Bari ( 9 / 452 )

[4] HR. Abu Daud ( 3774 ) dan Al-Albani menshahihkanya dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah ( 3370 )

[5] Zaad Al-Ma’ad ( 4/ 221 )

[6] Yaitu duduk diatas kedua dubur nya dengan menegakkan kedua lutut beliau. Syarh Muslim Jilid 7 ( 13/ 188 )

[7] HR. Muslim ( 2044 ), Ahmad ( 12688 ), Abu Daud ( 3771 ) dan Ad-Darimi ( 2062 )

[8] HR. Ibnu Majah ( 3263 ) dan lafazh hadits tersebut lafazh riwayat Ibnu Majah. Ibnu Hajar didalam Al-Fath ( 9 / 452 ) menghasankan sanadnya. Al-Albani berkata : Shahih ( 5464 ). Riwayat diatas juga diriwayatkan oleh Abu Daud ( 3773 ) tanpa menyebutkan kedua lutut.

SUMBER :

http://al-atsariyyah.com/?p=471

About these ads

Written by Abu Hana El-Firdan

December 9, 2008 at 05:06

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Terima Kasih Ya Rosullallah

    @ Baarokallaahu fiikum..

    Moch. Ibrohiem Misky

    February 28, 2009 at 02:21


Bagaimana menurut Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s