طبيب الطب النبوي Dokter Pengobatan Nabawi

Islam, Hukum, Sholat, Tatacara

ADAB Makan & Minum (Bg.10. HUKUM MAKAN MINUM SAMBIL BERDIRI..)

with one comment


Bab Adab-Adab Makan dan Minum

Oleh : Al-Ustadz Abu Muawiah Hafidzahullah

Berikut di antara adab-adab yang kami sebutkan pada pembahasan kali ini:

    1. Hukum minum dan makan sambil berdiri.
    2. Tidak disenangi bernafas dalam bejana dan meniup padanya.
    3. Disenangi mengambil nafas sebanyak tiga kali ketika minum, dan bolehnya minum dengan sekali tegukan
    4. Makruh minum dimulut bejana/cerek air.

1.  Hukum minum dan makan sambil berdiri

Para ulama berbeda persepsi tentang hukum mnum sambil berdiri. Dan perbedaan persepsi diantara mereka bermuara pada sejumlah hadits-hadits yang shahih yang secara zhahirnya bertentangan. Sebagian diantara hadits-hadits tersebut menerangkan larangan minum berdiri sedangkan sebagian lainnya adalah sebaliknya. Dan kami akan melampirkan sebagian diantaranya :

  1. Anas radhiallahu ‘anhu meriwayatkan , bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  melarang minum sambil berdiri “. Dan pada riwayat lainnya : “ Melarang seseorang minum sambil berdiri “[1]
  2. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhialahu ‘anhu beliau berkata : “ Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  melarang dari minum sambil berdiri “[2]
  3. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : “ Dan janganlah sekali-kali salah seorang diantara kalian minm smabil berdiri, barang siapa yang lupa maka hendaknya dia memuntahkannya “[3]

Hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya minum sambil berdiri :

  1. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : Saya menuangkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dari air zam-zam, lalu beliau minum sambil berdiri “[4]
  2. Dari An-Nazzal, beliau berkata : “ Ali radhiallahu ‘anhu datang menuju pintu Ar-Rahbah, lalu beliau minum sambil berdiri. Beliau berkata : Sesungguhnya beberapa orang tidak menyukai salah seorang diantara mereka minum sambil berdiri. Dan sesungguhnya saya telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  melakukannya sebagaimana kalian telah melihatku melakukannya “ pada lafazh riwayat Ahmad : “ beliau berkata : Bagaimana pendapat kalian jika saya minum sambil berdiri, karena sesungguhnya saya telah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  minum sambil berdiri. Dan jika saya minum sambil duduk, sesungguhnya saya tleah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  minum sambil duduk “[5]
  3. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : “ Kami dizaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri dan kami makan sambil berjalan “[6]
  4. Atsar dari Aisyah, Sa’ad bin Abu Waqqash, bahwa mereka berdua membolehkan seseorang minum sambil berdiri. Ibnu Umar dan Ibnu Az-Zubair juga terlihat minum sambil berdiri[7].

Berdasarkan hadits-hadits ini yang secara kontekstual kontradiktif  dengan selainnya, ulama berselisih dalam menerangkan hukumnya. Pendapat yang paling tepat menurutku adalah yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah didalam Fatawa beliau, beliau mengatakan : “ Akan tetapi menyelaraskan hadits-hadits tersebut dengan menyatakan adanya keringanan di saat mempunyai udzur. Hadits-hadits larangan minum berdiri yang berada didalam As-Shahih seperti: “ Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  melarang minum sambil berdiri “, hadits yang diriwayatkan oleh Qatadh dari Anas : “ bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  melarang minum sambil berdiri “. Qatadah berkata : Bagaimana dengan makan ? Beliau berkata : Hal itu lebih buruk dan jelek.

Sedangkan hadits-hadits yang memberi keringanan, semisal hadits yang diriwayatkan didalam Ash-Shahihain dari Ali dan Ibnu Abbas , beliau berkata ; “ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  minum air zam-zam sambil berdiri .“ Dan yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ali : Bahwasanya Ali berada di tanah lapang yang berpasir dan dia minum dalam keadaan berdiri, kemudian beliau berkata : Sesungguhn ya manusia dimakruhkan minum sambil berdiri, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan seperti apa yang aku lakukan. Dan hadits Ali ini telah diriwayatkan padanya ada atsar bahwasanya Rasulullah melakukan hal itu saat minum air zam-zam, sebagaimana datang pada hadits Ibnu ‘Abbas, hal ini adalah ketika berhaji, dan orang-orang disana melaksanakan thawaf dan minum dari air zam-zam, mereka mengambil air serta meminta minum darinya, dan tidak ada tempat untuk duduk , bersamaan dengan ini beliau lakukan selang waktu sedikit sebelum beliau meninggal, jadilah hal ini dan yang semisalnya dikecualikan dari hal tersebut sebagai larangan. Dan hal ini datang dari perkara syariat : Bahwa larangan dari sesuatu diperbolehkan ketika ada hajat, bahkan dia lebih ditekankan hukum pembolehannya dari sekedar dibolehkan ketika ada hajat, bahkan pula perkara haram yang diharamkan dia dimakan dan diminum, seperti bangkai dan darah yang diperbolehkan dalam keadaan darurat.[8]

2. Tidak disenangi bernafas dalam bejana dan meniup padanya.

Termasuk adab-adab ketika minum adalah seorang yang minum sebaiknya tidak bernafas dalam bejana dan tidak pula meniupnya, padanya ada hadits-hadits yang shahih, diantaranya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Apabila salah seorag diantara kalian minum maka janganlah dia bernafas dalam bejana …Al-Hadist.[9]Dan diantaranya pula hadits Ibnu ‘Abbas : Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang bernafas dalam bejana dan meniupnya.[10]Larangan bernafas dalam bejana ini adalah salah satu adab yang mana ditakuti akan mengotorinya dan menjadikan bau busuk serta terjatuhnya sesuatu dari mulut dan hidung padabejana dan sejenisnya, Hal ini adalah pendapat Imam An-Nawawi.[11]

Adapun meniup minuman, maka padanya akan diperoleh dari mulut yang meniup bau yang tidak sedap yang memuakkan karenanya. Terlebih lagi jika yang minum bergantian dan berbilang, maka nafas-nafas yang meminum akan mencampur-adukkannya, oleh karena itu Rasulullah menggabungkan  antara larangan dari bernafas dalam bejana dan meniupnya, demikianlah pendapat Ibnu Al-Qayyim.[12]

3. Disenangi mengambil nafas sebanyak tiga kali ketika minum, dan bolehnya minum dengan sekali tegukan

Disebutkan didalam hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya mengambil nafas sebanyak tiga kali sewaktu minum, dan beliau bersabda :

“ Sesungguhnya hal ini akan lebih menghilangkan rasa dahaga, lebih menjaga dan lebih bermanfaat  “ Anas berkata : Maka saya mengambil nafas tiga kali ketika minum “[13]

Yang dimaksud dengan mengambil nafas ketika minum sebanyak tiga kali adalah dengan menjauhkan bejana air dari mulut sipeminum, lalu dia mengambil nafas tiga kali, karena mengambil nafas dibejana suatu yang dilarang.

Dan diperbolehkan meminum dengan sekali tegukan dan bukan suatu yang makruh. Dan ini ditunjukkan pada hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau mengunjungi Marwan bin Al-Hakam, dan dia berkata kepadanya : “ Apakah anda telah mendengar jikalau Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah melarang menghembuskan nafas didalam bejana  air ? Abu Sa’id berkata : Benar. Maka seseorang berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya dahafa saya tidak hilang hanya dengan sekali tegukan. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  besabda : “ Jauhkanlah cerek air dari mulutmu kemudian ambillah nafas “. Orang itu berkata : Namun sesungguhnya saya melihat ada kotoran pada cerek tersebut . Beliau bersabda : “ Maka buanglah “[14]

Malik mengatakan : “ tidak mengapa seseorang minum hanya dengan sekali mengambil nafas. Dan saya berpendapat ini adalah rukhshah/keringanan dari penjelasan yang ada pada hadits : “ Sesungguhnya dahaga saya tidaklah hilang hanya dengan sekali mengambil nafas “[15]

Syaikhul Islam mengatakan : “ Hadits ini merupakan dalil – hadits diatas – bahwa sekiranya rasa dahaganya telah hilang hanya dengan sekali mengambil nafas dan tidak lagi butuh untuk mengambil nafas, maka hal tersebut diperbolehkan. Dan saya tidak mengetahuiada imam yang mewajibkan mengambil nafas tiga kali, dan mengharamkan minum hanya dengan sekali tegukan “[16]

4. Makruh minum dimulut bejana/cerek air

Tentang permasalahan ini ada beberapa hadits yang shahih. Dari abu Hurairah radhiallahu ‘anha beliau berkaa : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam   telah melarang minum dimulut al-qirbah – sejenis botol penyimpan air dari kulit – dan cerek, dan melarang tetangganya menancapkan kayu didindingnya “[17]

Dan dari Ibnu Abbas – radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah melarang seseorang minum dimulut bejana “[18]

Pada kedua hadits tersebut berisikan larangan yang sangat jelas dari minum dimulut al-qirbah dan cerek. Dan yang semestinya adalah dengan menuangkan minuman tersebut ketempat air lalu minum darinya. Larangan ini oleh sebagian ulama memahaminya sebagai suatu larangan, dan sebagian lainnya menganggapnya hanya sebatas makruh, dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Diatara mereka menjadikan hadits-hadits larangan sebagai nasikh – yang menghapuskan hukum – hadits-hadits yang membolehkan[19].

Para ulama menyebutkan beberapa kandungan hikmah yang menyebabkan larangan ini, dan kami akan menyebutkan sebagian diantaranya :

  • Seringnya nafas orang yang minum melalui mulut cerek akan menyebabkan bau busuk dan tidak sedap yang akan menjadikan perasan muak.
  • Dan juga terkadang didalam qirbah atau cerek ada serangga atau hewan  atau kotoran atau selainnya yang tidak disadari oleh yang minum, lalu masuk kedalam kerongkongannya dan menimbulkan mudharat kepadanya.
  • Diantaranya terkadang air akan bercampur dengan liur yang minum yang menjadikan orang lain merasa jijik[20].
  • Terkadang liur dan nafas yang minum akan menyebabkan penyakit kepada orang lain, dimana meurut para pakar kedokteran bahwa bibit penyakit bisa saja berpindah melalui liur dan nafas.

Masalah : Telah shahih, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  minum dari mulut qirbah yang tergantung. Maka Bagaimanakah menyesuaikan perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang menunjukkan pemboleha minum dimulut qirbah dengan larangan beliau dari ucapannya ?

Jawab : Ibnu Hajar mengatakan : “ Syaikh kami didalam Syarh At-Tirmidzi mengatakan : Sekiranya dibedakan apabila dalam keadaan yang ada udzur, seperti misalnya qirbah yang tergantung, dan seseorang yang butuh untuk minum tidak mendapatkan wadah dan tidak mampu untuk menjangkau dengan tangannya, maka pada keadaan tersebut tidaklah makruh, dan kepada keadaan itulah, hadits-hadits yang telah disebutkan diatas tersebut dipahami. Dan antara seseorang yang tidak mempunyai udzur, maka hadits-hadits larangan dipahami pada keadaan ini. “

Saya – yang berkata adalah Ibnu Hajar – “ Dan pendapat tersebut dikuatkan pula, bahwa hadits-hadits yang menunjukkan pembolehan semuanya menunjukkan bahwa qirbah tersebut dalam keadaan tergantung, dan minum dari qirbah yang tergantung lebih khusus daris ekedar minum dari qirbah. Dan tidak ada argumen dari hadits-hadits yang menunjukkan pembolehan secara mutlak, melainkan hanya pada keadaan ini saja. Dan memahami pembolehan tersebut pada keadaan darurat sebagai upaya menyelaraskan kedua hadits tersebut lebih utama dari pada menggiringnya sebagai nasikh , Wallahu a’lam[21]


[1] HR. Muslim ( 2024 ), Ahmad ( 11770 ), At-Tirmidzi ( 1879 ), Abu Daud ( 3717 ), Ibnu Majah ( 3424) dan Ad-Darimi ( 2127 ).

[2] HR. Muslim ( 2025 ),ahmad ( 10885 ) dan Al-Baghawi didalam Syarh As-Sunnah ( 3045 )

[3] HR. Muslim ( 2026 ), Ahmad ( 8135 ), tanpa sabda beliau : “ hendaknya dia memuntahkannya “.

[4] HR. Al-bukhari ( 1637 ), Muslim ( 2027 ), Ahmad ( 1841 ), At-Tirmidzi ( 1882 ), An-Nasa`I ( 2964 ) dan Ibnu Majah ( 322 ).

[5] HR. Al-Bukhari ( 5615 ), Ahmad ( 797 (, An-Nasa`i ( 130 ) dan Abu Daud ( 3718 )

[6] HR. Ahmad ( 4587 ), Ibnu Majah ( 3301 ), Al-Albani menshahihkannya ( 3364 ), Ad-Darimi ( 2125 )

[7] Al-Muwaththa’ ( 1720, 1721, 1722 )

[8] Al-Fatawa ( 32/209-210)

[9] HR. Al-Bukhari ( 5630 ), Muslim ( 267 ), Ahmad ( 22059 ), At-Tirmidzi ( 1889 ), An-Nasa`i (47), dan Abu Daud ( 31 ).

[10] HR. At-Tirmidzi ( 1888 ), dan beliau berkata : Hadits hasan shahih,Dan HR. Abu Daud ( 3728 ), dan syaikh Al-Albani menshahihkannya, HR. Ibnu Majah ( 3429 ) tanpa penyebutan at-tanaffus.

[11] Syarh Shahih Muslim jilid kedua ( 3/130)

[12] Zaadu Al-Ma’aad ( 4/235).

[13] HR. Al-Bukhari ( 45631 ), Muslim ( 2028 ) dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat Muslim , Ahmad ( 11776 ), At-Tirmidzi ( 1884 ), Ibnu Majah ( 3416 ), dan Ad-Darimi ( 2120 ), Ibnu Majah dan At-Tirmidzi tidak menyebutkan potongan kedua yang ada pada hadits tersebut.

[14] HR. At-Tirmidzi ( 1887 ), danbeliau berkata : hadits ini hadits hasan shahih , ahmad ( 10819 ), Malik ( 1718 ) dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat Malik, dan Ad-Darimi ( 2121 ).

[15] At-Tamhid karya Ibnu Abdil Barr ( 1 / 392 )

[16] Al-Fatawa ( 32 / 209 )

[17] HR. Al-Bukhari ( 5627 ), Ahmad ( 7113 ) tanpa penggalan kedua hadits diatas. Dan Ahmad meriwayatkan penggalan kedua hadits diatas pada riwayat lainnya. Juga diriwayatkan oleh Muslim ( 1609 ), At-Tirmidzi ( 1353 ), Abu Daud ( 3634 ), Ibnu Majah ( 2335 ), Malik ( 1462 ) dan kesemuanya menyebutkan penggalan kedua dari hadits diatas selain pengglan yang pertama.

[18] HR. Al-Bukhari ( 5629 ), ahmad ( 1990 ), At-Tirmidzi ( 1825 ), An-Nasa`I ( 4448 ), abu Daud ( 3719 ), ibnu Majah ( 3421 ) dan Ad-Darimi ( 2117 ).

[19] Lihat : Fathul Bari ( 10 / 94 )

[20] Lihat : Zaad Al-Ma’ad ( 4 / 233 ), Fathul Bari ( 10 / 94 ) dan Al-Adab Asy-Syar’iyah ( 3 / 166 )

[21] Fathul Bari ( 10 / 94 )

SUMBER : 

http://al-atsariyyah.com/?p=471

About these ads

Written by أبو هـنـاء ألفردان |dr.Abu Hana

December 18, 2008 at 02:32

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. SubhanAlloh, artikel yang menarik, betapa tingginya adab-adab Islam..


Bagaimana menurut Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s