KUPAS TUNTAS MASALAH GAY (LIWATH)
Penerjemah : Syuhada Abu Syakir Iskandar As Salafy
Karakter para Pelaku Liwath (Gay)
1. Fitrah mereka terbalik dan terjungkir dari fitrah yang diberikan oleh Allah Subhaanahu wa ta’ala kepada kaum lelaki. Sesungguhnya tabiat mereka bertentangan dengan tabiat manusia yang diciptakan oleh Allah Subhaanahu wa ta’ala bagi kaum pria, yaitu memiliki syahwat terhadap kaum wanita, bukan pada lelaki.
2. Kelezatan dan kebahagian yang mereka rasakan ketika melampiaskan syahwatnya berada dalam kubangan najis-najis, sampah-sampah, dan bau (kotoran manusia). Maka hilanglah air kehidupan di sana.
3. Rasa malu, tabiat, dan keberanian mereka lebih rendah daripada binatang, baik secara watak maupun dibuat-buat.
4. Pada benak mereka terus-menerus ada pikiran, angan-angan, dan keinginan untuk berbuat keji setiap saat. Sesungguhnya para lelaki berada di hadapan mereka di setiap waktu, setiap kali mereka berjalan, bepergian, keluar, dan masuk tidaklah hilang dari mereka bayangan kaum lelaki. Maka jika salah seorang dari mereka melihat seorang anak laki-laki, pemuda, atau lelaki dewasa, ia ingin melakukan (perbuatan keji itu) kepadanya atau dilakukan terhadap dirinya.
5. Engkau akan mendapatkan mereka memiliki sedikit rasa malu. Sungguh bumi telah mengisap air rasa malu dari wajahnya sehingga ia tidak merasa malu kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala, tidak pula kepada para makhluk-Nya. Dan jika seperti ini (keadaannya) maka tidaklah ada manfaat padanya, tidak pula ada kebaikan darinya.
6. Ia tidak memiliki kekuatan yang dimiliki kaum lelaki, tidak pula keberanian mereka dan sifat keras mereka. Ia adalah seorang yang lemah selama-lamanya di hadapan setiap pria karena sesungguhnya ia membutuhkan (kepuasan dan kasih sayang) dari pasangan umurnya. Hal lainnya adalah Allah kjadikan wajah-wajahnya sebagai wajah yang paling buruk.
7. Allah Subhaanahu wa ta’ala telah menyifati mereka bahwa mereka adalah اَلْفَسَّاقُ (orang-orang yang fasik) dan أَهْلُ السُّوْءِ (para pelaku kejelekan), sebagaimana dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.” (QS. Al-Anbiya [21]:74)
8. Mereka adalah اَلْمُسْرِفُوْنَ (orang-orang yang berlebihan), sebagaimana dalam firman-Nya:
“Malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.“ (QS. Al A’raf [7]: 81)
Maksudnya ialah melampaui batas-batas hukum Allah Subhaanahu wa ta’ala.
9. Allah Subhaanahu wa ta’ala menyebut mereka اَلْمُفْسِدُوْنَ (para pelaku kerusakan) dalam ucapan nabi mereka (yakni Nabi Luthq), sebagaimana dalam firman-Nya:
“Luth berdo’a: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu”. (QS. Al-Ankabut [29] : 30)
10. Allah Subhaanahu wa ta’ala menamai mereka dengan اَلظَّالِمُوْنَ (para pelaku kezaliman), sebagaimana dalam firman-Nya:
“Mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini; sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Ankabut [29]: 31)
Hendaklah engkau memerhatikan mereka-mereka yang disifati oleh Allah Subhaanahu wa ta’ala dengan sifat-sifat ini dan yang dicela dengan celaan-celaan ini. Mereka pantas mendapatkannya. Sungguh mereka melakukan dosa yang aneh menurut tabiat, akal, pikiran, dan perangai, sampai-sampai Abdul Malik bin Marwan berkata,
” لَوْ لاَ أَنَّ اللهَ ذَكَرَ آلَ لُوْطٍ فِي الْقُرْآنِ، مَا ظَنَنْتُ أَنَّ أَحَدًا يَفْعَلُ هَذَا “
“Seandainya Allah Subhaanahu wa ta’ala tidak menyebutkan (kisah) kaum Luth ini dalam Al-Qur’an, aku tidak menyangka ada seorang pun yang akan melakukan perbuatan ini.”
Siksa dan Hukuman bagi Kaum Luth
Disebutkan bahwasanya Allah Subhaanahu wa ta’ala menghujani mereka dengan bebatuan yang tidak seorang pun dari mereka luput dari siksa itu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi (…sampai-sampai ada seorang pedagang dari mereka yang sedang singgah di Al-Haram dan batu yang akan menimpanya pun menunggu selama empat puluh hari sampai ia selesai dari urusan dagangnya, lalu keluar dari Al-Haram, maka batu itu pun menimpanya… ).[1]
Kerasnya siksa (di atas) menunjukkan bahwasanya Liwath merupakan perbuatan keji yang sangat besar sebagaimana yang ditunjukkan dalam banyak firman Allah Subhaanahu wa ta’ala. Datang sebuah berita yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi tentang cabang iman dari Abu Hurairah dan dishahihkan oleh Al-Hakim dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda,
“لَعَنَ اللَّهُ سَبْعَةً مِنْ خَلْقِهِ مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَوَاتِهِ، وَرَدَّدَ اللَّعْنَةَ عَلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثَلاثًا، وَلَعَنَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ لَعْنَةً تَكْفِيهِ، فَقَالَ: مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ …..”
“Allah Subhaanahu wa ta’ala melaknat 7 golongan dari makhluk-Nya dari atas 7 lapis langit.” Lalu, beliau ` melaknat satu golongan di antara mereka sebanyak tiga kali. Setelah itu, melaknat setiap golongan satu kali-satu kali, kemudian bersabda, “Terlaknatlah, terlaknatlah, terlaknatlah orang-orang yang melakukan perbuatan kaum Luth….”[2]
Hadits ini masih panjang. Adapun laknat yang dimaksud yaitu dibenci dan diusir dari rahmat Allah Subhaanahu wa ta’ala, semoga Allah Subhaanahu wa ta’ala melindungi kita darinya.
Berkata Asy-Syaukani dalam Nailul Authar bab “Al-Huduud”, “Orang yang berbuat dosa ini dan melakukan kehinaan serta perbuatan tercela harus dihukum dengan sebuah hukuman, yang mana orang-orang bisa mengambil pelajaran darinya. Ia disiksa dengan siksaan yang dapat mematahkan syahwat fasiknya yang sewenang-wenang. Siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth maka layak dihukum dengan siksaan yang keras dan keji, seperti dengan adzab yang telah mereka terima. Sungguh Allah Subhaanahu wa ta’ala telah menenggelamkan dan membinasakan mereka dengan azab tersebut, baik yang perjaka maupun yang telah menikah.”
Allah Subhaanahu wa ta’ala telah menghukum pelaku dosa dan malapetaka ini dengan sekejam-kejamnya hukuman agar menjadi pelajaran bagi generasi setelah mereka. Tidaklah sesuatu yang pernah terjadi pada generasi terdahulu jauh dari generasi terkini. Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman,
”Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. (QS. Hud [11]: 83)
Allah Subhaanahu wa ta’alapun menenggelamkan bumi dengan mereka dan menghujani mereka dengan batu-batu dari neraka secara bertubi-tubi.
Al-Jauhari berkata,
” حِجَارَةً مِنْ طِيْنٍ، طُبِخَتْ بِنَارِ جَهَنَّمَ، مَكْتُوْبٌ فِيْهَا أَسْمَاءُ الْقَوْمِ، وَمَعْنَى مَنْضُوْدٍ أَيْ : مُتَتَابِعٌ يَتَّبِعُ بَعْضُهَا بَعْضًا ”
“Yaitu batu-batu dari tanah yang dipanaskan dengan api neraka jahanam, tertulis padanya nama-nama kaum. Adapun makna bertubi-tubi ialah saling mengikuti, yang satu sama lain saling mengikuti.“[3]
Semua ini balasan atas perbuatan mereka yang keji. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“وَإِذَا بِدِيَارِهِمْ قَدِ اقْتُلِعَتْ مِنْ أَصْلِهَا وَرُفِعَتْ نَحْوَ السَّمَاءِ حَتَّى سَمِعَتِ الْمَلائِكَةُ نَبَاحَ الْكِلابِ وَنَهِيْقَ الْحَمِيْرِ… بِأَنَّ قَلْبَهَا عَلَيْهِمْ كَمَا أَخْبَرَ بِهِ فِيْ مُحْكَمِ التَّنْزِيْلِ فَقَالَ عَزَّ مَنْ قَائِلٌ :
“Sungguh tempat tinggal mereka berpindah dari tempat asalnya lalu diangkat ke arah langit, sampai-sampai para malaikat mendengar gonggongan anjing-anjing dan suara-suara keledai…. Sesungguhnya peristiwa terbaliknya tempat tinggal mereka dikisahkan dalam مُحْكَمُ التَّنْزِيْلِ (yakni Al-Qur’an), Allah Dzat yang Mahamulia berfirman,
“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Huud [11]: 82)
Beliau melanjutkan,
“فَجَعَلَهُمْ آيَةً لِلْعَالمَِيْنَ وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِيْنَ وَنِكَالا وَسَلْفًا لِمَنْ شَارَكَهُمْ فِيْ أَعْمَالِهِمْ مِنَ الْمُجْرِمِيْنَ، وَجَعَلَ دِيَارَهُمْ بِطَرِيْقِ السَّالِكِيْنَ”،
“Maka Allah Subhaanahu wa ta’ala menjadikan mereka sebagai tanda untuk alam semesta, nasihat bagi orang-orang yang bertakwa dan peringatan serta teguran bagi siapa saja yang mengikuti perbuatan mereka dari kalangan para pelaku dosa. Allah Subhaanahu wa ta’ala jadikan tempat tinggal mereka sebagai jalan yang dilalui (oleh manusia).”
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah Subhaanahu wa ta’ala) bagi orang-orang yang memerhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah Subhaanahu wa ta’ala) bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-Hijr [15]:75-77)
Beliau melanjutkan,
“أَخَذَهُمْ عَلَى غِرَّةٍ وَهُمْ نَائِمُوْنَ، وَجَاءَهُمْ بَأْسُهُ وَهُمْ فَيْ سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُوْنَ، فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ فَقَلَبَتْ تِلْكَ اللَّذَّاتُ آلامًا، فَأَصْبَحُوْا بِهَا يُعَذَّبُوْنَ”.
“Allah Subhaanahu wa ta’ala menghukum mereka dengan tiba-tiba dalam keadaan mereka sedang tidur, siksaan datang kepada mereka dalam keadaan mereka bingung. Maka tidaklah bermanfaat bagi mereka apa-apa yang telah mereka amalkan, kelezatan-kelezatan itu berubah menjadi rasa sakit, kemudian disiksalah mereka dengannya.” Maka kekejian mereka yang terasa sedap dan manis ketika di dunia, berubah menjadi siksa ketika datang kematian.[4]
مَآرِبُ كَانَتْ فِيْ الْحَيَاةِ لأَهْلِهَا …
عِذَابًا فَصَارَتْ فِيْ الْمَمَاتِ عَذَابًا …
Kekejian di dunia bagi pelakunya adalah lezat…
Akan tetapi, setelah datang kematian menjadi azab…
Kelezatan-kelezatan berubah menjadi kerugian, hancurlah syahwat, dan datanglah kesedihan. Mereka merasakan sedikit nikmat, tetapi disiksa begitu panjang, sampai dikatakan: jika engkau melihat bagian atas dan bawah dari golongan ini, api keluar dari lubang-lubang wajah dan tubuh mereka, mereka berada di permukaan Al-Jahiim (neraka), mereka minum dari gelas-gelas yang isinya air mendidih sebagai pengganti dari kelezatan minuman (ketika di dunia), dikatakan kepada mereka dalam keadaan diseret di atas wajah mereka: rasakanlah apa-apa yang telah kalian lakukan,
“Masukklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu; kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.“ (QS. Ath-Thuur [52]:16)
Sungguh Allah Subhaanahu wa ta’ala telah memperdekat jarak azab antara umat ini yakni—kaum Luth—dengan saudara-saudara mereka dalam perbuatan (yang sama). Maka Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman dalam rangka memberikan rasa takut kepada mereka bahwa janji (Allah Subhaanahu wa ta’ala) pasti datang,
”Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (QS. Hud [11]: 83)
فَيَا نَاكِحِيْ الذَكْرَانِ يُهْنِيْكُمُ الْبُشْرَى …
فَيَوْمَ مَعَادِ النَّاسِ إِنَّ لَكُمْ أَجْرًا
كُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَازْنُوْا وَلُوْطُوْا وَأَبْشِرُوْا …
فَإِنَّ لَكُمْ زَفًّا إِلَى الْجَنَّةِ الْحَمْرَا
فَإِخْوَانُكُمْ قَدْ مَهَّدُوْا الدَّارَ قَبْلَكُمْ …
وَقَالُوْا إِلَيْنَا عَجِّلُوْا لَكُمُ البُشْرَى
وَهَا نَحْنُ أَسْلافٌ لَكُمْ فِيْ انْتِظَارِكُمْ …
سَيَجْمَعُنَا الْجَبَّارُ فِيْ نَارِهِ الْكُبْرَى
فَلا تَحْسَبُوْا أَنَّ الَّذِيْنَ نَكَحْتُمُوْا …
يَغِيْبُوْنَ عَنْكُمْ بَلْ تَرَوْنَهُم جَهْرَى
وَيَلْعَنُ كُلُّ مِنْكُمَا لِخَلِيْلِهِ …
وَيَشْقَى بِهِ الْمَحْزُوْنُ فِيْ الْكَرَّةِ الأُخْرَى
يُعَذَّبٌ كُلُّ مِنْهُمَا بِشَرِيْكِهِ …
كَمَا اشْتَرَكَا فِيْ لَذَّةٍ تُوْجِبُ الْوِزْرَى
Wahai dua lelaki (pelaku gay) akan datang kepada kalian kabar gembira…
Kelak pada hari manusia dikumpulkan, akan ada balasan bagi kalian…
Makanlah kalian, minumlah, berzinalah, lakukanlah gay, dan bergembiralah…
Sesungguhnya kalian akan digiring ke surga merah…
Saudara-saudara kalian sungguh telah mendapatkan tempat tinggal tersebut sebelum kalian…
Mereka berkata, “Bersegeralah kalian kepada kami, bagi kalian ada kabar yang menyenangkan.”…
Kami inilah para pendahulu kalian yang larut dalam penantian akan diri kalian…
“Allah Subhaanahu wa ta’ala Al-Jabbar akan mengumpulkan kita dalam neraka-Nya yang sangat besar.”…
Maka janganlah kalian mengira bahwasanya orang-orang yang kalian setubuhi…
Akan hilang dari kalian, bahkan kalian akan melihat mereka dengan jelas…
Masing-masing dari kalian berdua akan melaknat kekasihnya…
Akan merasa duka orang yang sedih dengannya di waktu yang lain…
Masing-masing dari keduanya akan disiksa bersama pasangannya…
Sebagaimana mereka berdua telah berpasangan dalam kelezatan yang mendatangkan dosa…
(Al-Jawaab Al-Kaafi, hlm. 197-198)
Siksa yang Akan Didapat
Jadi, siksa yang mereka dapat ialah sebagai berikut:
1. Dibinasakan.
2. Dibalikkan tempat tinggal mereka.
3. Ditenggelamkan.
4. Dirajam (dilempari) dengan batu-batu yang menghujani mereka dari langit.
5. Ditimpakan bencana yang Allah Subhaanahu wa ta’ala belum menimpakan bencana itu kepada umat selain mereka dikarenakan besarnya kerusakan dari dosa ini.
Hendaklah berhati-hati orang yang menjalani kehidupan yang gelap ini, begitu juga orang yang berjalan di atasnya, dan kita berlindung kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala darinya.
Hubungan Jahiliah dan Gay
Kaum jahiliah yang semua kejelekan diumpamakan kepada mereka baik perkara hukum, adat kebiasaan,..(bersambung ke bagian 3, Insya Allah)
SUMBER : Buku “SEKS BEBAS UNDER COVER” Penerbit TooBagus Publishing Bandung
Judul Asli : Wa Laa Taqrobul Fawaahis, Penulis Syaikh Jamal bin Abdurrahman Ismail dan DR. Ahmad Nida




















Posted by rico kardo on 11 January, 2012 at 00:28
gay adalah laki2 yg pengecut dan otomatis dia adalah paling penakut se dunia.
gay adlah orang yg ga mau bertanggung jawab.
aku percya se orang pelacur bisa berubah dan bencong juga bisa berubah.
tapi aku ga pernah percya sama yg nm nya gayy bisa berubah….
Posted by askaban on 28 July, 2011 at 13:43
liwath sekarang sudah menjamah pesantren, banyak juga para ulama dan ustad yg kita kenal pernah melakukannya walaupun sangat rapat mereka menutupinya. penyakit ini bisa menimpa siapa saja selama imannya blm kuat. Dekatlah dan takutlah pada Allah maka akan ada jalan yg baik dalam hatimu dan ampunan bagimu. kita sama sama berjihad berjuang menjauh dari liwath.
Posted by Hartono Bing on 18 July, 2011 at 20:28
mari kita berjuang untuk bertaubat…..
Posted by Hukum Islam Bagi Pelaku SODOMI « Mahad Tauhidullah Surabaya on 30 November, 2010 at 17:00
[...] (liwath) dan SODOMI (ANAL SEX) akhir-akhir ini semakin banyak terjadi di Indonesia. Homoseks ala kaum gay ini merupakan perbuatan asusila yang sangat terkutuk dan menunjukkan pelakunya seorang [...]
Posted by Chalfari on 10 November, 2010 at 01:29
aq sungguh tak mngerti dgn smua ini….???
seandai x prasaan ini bs d titipkn ama seorang ulama dan aq ingin tau komentar mreka jk mmiliki prasaan ini…???
Aq lelah memiliki perasaan yg sbenarx aq benci utk memilikix ini…
Seandaix aq ditanya…, Wahai qm pemuda gay apakah qm pengen berubah mnjadi normal…???, jk jawaban qm iya maka pergilah ke bulan besok mk qm akan jd normal…
Maka dengan serta merta (1.000.000.000.000.000 %) aq akn melakukanx…
Q sakit…, bukan hujatan ato hinaan yg Q inginkn dr kalian semua yg mnghujat ttapi yg Q inginkn adl solusi utk menghilangkan prasaan itu 1.000.000.000.000.000.000.000.000.000 %….
Q TAK MENGERTI…., I AM CONFUSED…., I POOR ANIMAL….,
Sering trlintas aq pengen bunuh diri, tp niat itu Q urungkn karna bnuh diri akan langsung mematikn amal ibadah aq…, namun klo gay, aq yakin suatu hari aq bs bertobat darix…
I hope so…, amiiiinnnn…
Thanks
Posted by Adi on 20 October, 2010 at 17:48
Ass..
Aq mw tanya niH..
Seorang gay tidak pernah ingin menjadi gay, ia ingIn layak nya menjadi seorang pria tUlen,
tp mengapa Allah sepertinya begitu melaknat kaum gay?
Pdhl mrka tdk ingin seperti itu dan itu pun Allah yg memberikan penyakit gay kpd kaum ini,
apakah maksud Allah, apakah kami salah?
Mencintai sesama jenis? Bukankah Allah yg memberikan rasa itu, ,
mengapa tidak ia normalkan saja semua manusia,
jujur bagi saya ini sangat tdk adil!
Tlg d replay..
Posted by pencari kebenaran on 12 October, 2010 at 18:45
semoga kita diselamatkan dari perbuatan yang dilaknati Alloh SWT tersebut. amin.
Posted by warix on 30 August, 2010 at 10:28
Assalamu’alaikum,
aku dulu seorang gay, berawal dari hidup satu kost dengan teman sama lelaki, awalnya main-main, akhirnya keterusan.sehingga aku tau betul seluk beluk kehidupan gay. setelah 5 tahun aku memutuskan berhenti menjadi gay, aku ingin hidup dalam ridha Allah, ini kubuktikan dengan menikah dengan seorang perempuan.
anehnya, meskipun sudah menikah, perasaan tertarik dengan sesama laki-laki masih ada, dan susah sekali untuk dihilangkan, berbagai macam cara kulakukan untuk menghilangkan rasa itu, termasuk puasa terus aku lakukan untuk menebus dosaku. tapi rasa itu masih tetap ada. kadang aku bertanya kepada Tuhan, kenapa aku yang harus dipilih menjadi seorang gay ? kenapa aku yang harus menempuh dan melalui jalan gay ? tapi kupikir lagi, aku harus berjuang untuk melawan penyakit ini, ini adalah setan yang bersarang didalam diriku, berjuang melawan meskipun aku harus mati.mungkin ini adalah ujian untuk menuju keridhaan Allah. sekarang aku hanya punya prinsip “tidak akan melakukan perbuatan gay lagi meskipun godaan itu masih bersarang di diriku”.
setiap orang yang pernah melakukan hubungan gay akan sangat, sangat, sangat susah untuk menghilangkan perasaan itu, dan aku yakin ini terjadi pada semua orang yang pernah melakukannya. aku hanya bisa berharap agar semua kaum gay berhenti melakukannya dan keluar dari dunia gay, seperti yang saya lakukan, dengan penuh perjuangan dan ikhlas karena Allah.
@ Wa’alaikumussalaam Warohmatullaahi Wabarokaatuh.
Pintu taubat akan senantiasa terbuka sebelum mencapai sakaratul maut.. Allah Ta’ala Maha Pengampun atas segala kesalahan dan ketergelinciran hamba-Nya.
Buang semua buku-buku, foto atau gambar atau aksesoris yang akan menggiring atau mengingatkan pada perbuatan homo, Bergaullah dengan orang-orang shaleh, pelajari agama Islam dengan benar (tempatnya di sini)
silahkan baca juga http://kaahil.wordpress.com/2008/11/10/aku-seorang-gay-yang-ingin-bertaubat/
Baarokallaahu fiikum
Posted by Penjelasan tentang Liwath « Catatan Kang Ian on 1 June, 2010 at 22:42
[...] (liwath) dan SODOMI (ANAL SEX) akhir-akhir ini semakin banyak terjadi di Indonesia. Homoseks ala kaum gay ini merupakan perbuatan asusila yang sangat terkutuk dan menunjukkan pelakunya seorang [...]
Posted by hairil yakin on 23 April, 2010 at 11:35
saya sering membaca artikel-artikel tentang gay, khususnya gay dipandang dari segi agama. semua juga tahu, gay berseberangan dengan agama islam. saya lebih banyak membaca yang isinya hujatan, makian, dan perasaan jijik akan kehidupan gay. namun saya sangat jarang mendapati artikel keagamaan yang memberikan solusi akan permasalahan gay ini. kadang kita langsung memberikan ultimatum yang sangat radikal, namun ternyata hal ini malah membuat kaum gay tidak menggubrisnya sama sekali, mereka seakan menentang lebih keras lagi ultimatum tersebut. hal ini hampir sama dengan anak kecil, anak kecil kalau dilarang malah melawan. kalau kita memang peduli akan keberadaan gay dan menginginkan mereka bisa menjalani kehidupannya dengan normal, kenapa kita tidak menggunakan pendekatan personal, bukan kah nabi juga sering melakukan pendekatan personal, pelan-pelan, lemah lembut, namun hasilnya memuaskan. kita butuh memakai hati kita mendekati mereka, karena mereka juga punya hati.
@ Betul sekali, penyakit Gay memang perlu untuk disembuhkan.. adapun metode penyampaian dakwah maka haruslah disampaikan dengan HIKMAH : maksudnya adalah dengan ‘ilmu bukan dengan perasaan atau akal semata.
http://kaahil.wordpress.com/2008/11/10/aku-seorang-gay-yang-ingin-bertaubat/
1. ada beberapa orang yang bisa menerima jika disampaikan nasehat.. namun ada juga yang baru bisa menerima setelah diberikan teguran.. hal itu tergantung kondisinya.
http://kaahil.wordpress.com/2010/03/24/sikap-hikmah-dalam-dakwah-salahkah-bersikap-keras-dalam-dakwah-telah-salah-orang-yang-beranggapan-bahwa-islam-hanya-mengajarkan-dakwah-dengan-sikap-lemah-lembut-dan-kasih-sayang-saja/
2. adapun siksaan yang akan didapatkan bagi pelaku gay, juga tidak boleh ditutupi karena itu juga bagian dari Tuntunan yang Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam sampaikan.. dan tentunya itu juga merupakan bagian dari agama Islam itu sendiri.
3. Ancaman, hukuman, dll adalah bentuk kasih sayang kita terhadap mereka kaum Gay sekaligus “pencegahan” bagi yang belum kena agar terhindar dari penyakit tersebut. Kita sangat mengaharapkan mereka sadar dan bertaubat, sehingga siksaanya cukuplah di dunia dan mudah-mudahan mereka bisa terbebas dari adzab neraka yang sangat pedih..di akherat nanti, Wallaahu ‘alam.
Baarokallaahu fiikum..
Posted by nata on 4 March, 2010 at 13:03
Aku mohon do’a dan dukungannya agar aku terlepas dari jeratan lubang kenistaan ini..
@ Baarokallaahu fiikum..
Posted by Hukum Islam Bagi Pelaku SODOMI, HOMOSEKSUAL dan GAY serta Hukum ANAL SEX (Hubungan Lewat Dubur) Terhadap Isteri « طبيب الطب النبوي | Dokter Pengobatan Nabawi | on 18 January, 2010 at 23:22
[...] Homoseksual (liwath) dan SODOMI (ANAL SEX) akhir-akhir ini semakin banyak terjadi di Indonesia. Homoseks ala kaum gay ini merupakan perbuatan asusila yang sangat terkutuk dan menunjukkan pelakunya seorang [...]
Posted by Dani lamusu on 24 December, 2009 at 21:28
Aq sangat takut akan azab dari tuhan.Ju2r pembaca yang dikasih Allah Swt.Aq pernah jadi gay.Berawal dari teman kerja.Kt tingal disatu kozt2an.Makax kita selalu berbuat zina.Tapi aq sadar,itu dosa.Alhamdulilah,aq udah sadar.Tapi,masa laluku sangat menghatuiku.Bahkan klau aq punx teman dekat cowo.Aq takut bisa terulang lagi.Krna skrang aq punx teman dekat yang udah aq anggap keluarga.Gimana biar aq bisa bebas dari dunia gay.Walau aq udah rajin sholat,tapi aq takut semua bisa terulang kembali.Aq hanx pasrah pda maha kuasa.Aq btuh coment:085256174077.Di tngu ya.Thanks
@Allah Ta’ala Maha Pengampun wahai Saudaraku,semoga Allah Ta’ala memberikan segala kemudahan untukmu agar bisa terlepas dari belenggu dan bisikan Syaitan laknatullah..
1. jauhi dan tinggalkanlah komunitas mereka, bergabunglah dengan orang-orang sholeh. Bersabarlah atas cacian, cemoohan dan gunjingan orang-orang awam.
2. pelajari dan dalami dienul Islam yang sangat indah ini, silahkan baca jadwal dan lokasi kajian umum Ahlussunnah wal jama’ah disini..
2. perbanyak do’a dan infaq sedekah, niscaya akan diberikan jalan dan kemudahan..
Sangatlah mudah bagi Allah Ta’ala untuk mengembalikan seseorang kembali kepada jalan-Nya yang lurus.
Baarokallaahu fiikum..
Posted by iwa on 24 November, 2009 at 00:51
AQ sadar…setelah mebaca ini betapa takuytnya AQ.akan siksaan yg aka didapat para kaum Gay,tapi siapapun tidak mau menjadi Gay….tapi karena bawaan dari lahir,lingkungan,atau karena terjebak kehidupan Gay sulit ditinggalkan,seperti kita sangat suka minum dingin…setelah kita tau minuman dingin tidak baik..kita dapat tinggalkan,tapi suatu waktu akan haus minuman dingin itu akan menjadi pilihan untuk menhilangkan dahaga. AQ pernah hidup didunia Gay….hal ini karena keterpaksaan Ekonomi…AQ ..dari kluarga sangat sulit suaktu ketika datang seorang yg baik sekli mau membantu kehidupan pribadi ku….setelah AQ ikut dengannya ternyata dia seorang Gay….karena janji manis serta rayuannya AQ terpaksa..melayani keinginanya….AQ tidak menikamati…..AQ merasa terpaksa….tiap kali AQ menolak dia slalu menagis dan merenta2..AQ kasihan…AQ tak tahan…..3 th lamanya kehidupan itu AQ jalani…AQ dapat tinggalkan dia..dalam ketidak berdayaannya….meminta memelas,memohon agar AQ tidak meninggalkanya….AQ tidak perduli….tapi 10 th kemudian AQ .merasa rindu akan kehidupan Gay….AQ takut…tapi bagimana,,,AQ TERjebak kembali….namhn hanya sewakyu2 saja….kini AQ sudah berkeluarga dan punya anak…AQ sangat takut dan kwatir kelak anakku mengalamui kehidpan seperti AQ…..sekarang AQ berusaha sekuat tenaga meninggalkan impian masa laluku…..dan hidup normal…..sangat susah dan perlu perjuangan,,,,,
@ Jazaakallaahu khairan..
Semoga Allah Ta’ala memberikan segala kemudahan bagi kaum gay, agar meninggalkan perbuatan dosa tersebut dan kembali kepada kehidupan lahiriyah normal.
Posted by Sodikin Nador on 6 September, 2009 at 09:03
Assalamualaikum….
ngeri banget baca nya , yang pasti aq bukan kaum gay .
mau tanya kalau nama anak bernama awalan Luth bagus apa buruk ?, soalnya nama anakku Luth
Tks .
@ Wa’alaikumussalaam Warohmatullaahi Wabarokatuh.
Luth adalah nama salahseorang Nabi yang mulia, Para ulama sepakat akan diperbolehkannya memberikan nama dengan nama para nabi.
Diriwayatkan dari Yusuf bin Abdis Salam, ia berkata:”Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepadaku Yusuf” (HR. Bukhori –dalam Adabul Mufrod-; At-Tirmidzi –dalam Asy-Syama’il-). Berkata Ibnu Hajjar Al-Asqolaniy: Sanadnya Shohih.
Selengkapnya silahkan baca disini :
Etika Memberi Nama Anak Dalam Islam