طبيب الطب النبوي Dokter Pengobatan Nabawi

Islam, Hukum, Sholat, Tatacara

ADAB TIDUR (ii) : Bacaan, Do’a dan Dzikir Ketika Tidur

with one comment


Adab-Adab Ketika Tidur

Penulis Al-Ustadz Abu Muawiah

bedroom3-classicMembaca sebuah surat dari surat-surat dalam Al-Qur`an.

Termasuk petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau tidak tidur sampai beliau membaca sebuah ayat dari Al-Qur`an. Bacaan Al-Qur`an sebelum tidur perumpakan penjagaan bagi seorang Muslim godaan syaithan dalam tidurnya, dan syaithan tidak akan menemani dalam mimpinya.

Ada banyak atsar yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan bab pembahasan ini dan juga sangat beragama lafazhnya. Di sini akan kami sebutkan beberapa yang dapt kami kumpulkan.

  • Membaca ayat kursi.

Dalam hal ini terdapat kisah dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ketika ia bersama dengan orang yang mencuri dari perbendaharaan zakat. Ketika Abu Hurairah radhiallahh ‘anhu berkeninginan untuk melaporkannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang tersebut berkata: “ Lepskanlah aku, maukah aku ajarkan satu kalimat yang niscaya Allah akan memberikan manfaat bagimu dengannya?” Aku berkata: “Kalimat apakah itu?” Ia berkata: ”Jika engkau mendatangi tempat tidurmu untuk tidur, maka bacalah ayat kursi,yakni :

Allahu Laa Ilaha illa Huwal Hayyul Qaayum “

Sampai selesai ayat tersebut, maka sungguh Allah senantiasa akan menjagamu dan syaithan tidak akan bisa mendekatimu sampai datangnya waktu subuh.

[Berkata Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu-] maka ia pun aku lepaskan. Dan keesokan paginya, RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Apa yang terjadidengantahanan engkau semalam?” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, dia meyakinkanku bahwa dia telah mengajariku beberapa kalimat yang Allah akan memberi manfaat bagiku dengannya, maka akupun melepaskannya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Kalimat apakah itu?”

Aku berkata: “ Ia berkata kepadaku, jika engkau mendatangi tempat tidurmu, maka bacalah ayat kursi dari awal sampai akhir ayat, yakni :

Allahu Laa Ilaha illa Huwal Hayyul Qaayum ”, dan ia berkata kepadaku bahwa Allah senantiasa akan menjagaku dan syaithan tidak akan bisa untuk mendekatimu sampai datang waktu shubuh . – dan mereka – yatu para sahabat adalah kaum yang paling bersemangat dalam hal-hal kebaikan-. Maka bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Adapun ia, sesungguhnya perkataannya adalah benar namun ia adalah pendusta. Tahukah engkau, siapa yang telah engkau ajak berbincang selama tiga malam itu wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab: “Tidak”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ia adalah syaithan.”[1]

  • Membaca surat Al-Ikhlas, dan Al-Mu`awidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) kemudian meniup[2] dengan tangannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa membaca surat Al-Ikhlas dan Al-Mu`awidzatain dan meniupnya di tangannya kemudian mengusapkannya ke seluruh badan yang mampu dijangkau dengan tangan beliau.

Berkata Ummul Mu`minin Aisyah -radhiyallahu ‘anha-:

“Apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak beristirahat di tempat tidurnya pada setiap malamnya beliau menyatukan dua telapak tangannya kemudian meniup kedua te;apak tangannya yang dilanjutkan dengan membaca padanya ‘Qul Huwallahu Ahad’ dan ‘Qul A`udzu birabbil falaq’ serta ‘Qul A`udzu birabbinnas’, kemudian mengusapkan tangannya ke seluruh tubuh beliau yang sanggup beliau jangkau, dimulai dari bagian kepala kemudian wajah kemudian bagian tubuh yang paling dekat dijangkau. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya tiga kali.”[3]

Dari hadits di atas dapat diambil faedah bahwasannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu melakukannya pada setiap hendak tidur, sebagaimana diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Aisyah -radhiyallahu ‘anha-: “Pada setiap malam.”

Adapun tata caranya adalah dengan meniup kedua telapak tangannya, kemudian mengusapkan dengannya ke seluruh badan yang mampu dijangkau, dimulai dari kepala dan wajah kemudian yang terdekat dari badan.

Faedah lainnya dari hadits ini juga bahwa meniupnya adalah dengan tiga kali tiupan. Kemudian faedah meniup tersebut dimaksudkan untuk mencari barakah dengan hawa basah, dan hawa yang bersinggungan langsung dengan telapak tangan, sebagai bentuk ruqyah dan bagian dari dzikir-dzikir yang baik. Demikian yang diterangkan oleh Al-Qadhi Rahimahullah.[4]

Faedah: Meniup tangan disertai bacaan Al-Ikhlas dan Al-Mu`awidzatain, tidaklah dikhususkan ketika hendak tidur saja bahkan hal itu disunnahkan bagi orang yang merasakan sakit, agar ia meniup kedua telapak tangannya tiga kali kemudian mengusapkan ke tubuhnya. Al-Bukhari meriwayatkan dari hadits Aisyah -radhiyallahu anha-:

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika merasakan sakit beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meniup tangannya kemudian membaca Al-Mu`awidzat kemudian mengusapkan dengannya ke tubuhnya. Maka tatkala beliau dalam keadaan sakit yang sangat. Beliau mulai dengan menyatukan kedua telapak tangan beliau kemudian membaca Al-Mu`awidzat[5] yang kemudian meniupnya dan mengusapkannya ke seluruh tubuh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[6]

  • Membaca surat (Al-Kafirun) sebagai bentuk berlepas diri terhadap kesyirikan.

Dari Farwah bin Naufal dari bapaknya -radhiallahu ‘anhu-: Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Naufal:

“Bacalah ‘Qul Yaa Ayyuhal kaafiruun’ kemudian tidurlah setelah selesai membacanya karena itu merupakan bentuk berlepas diri dari kesyirikan.”[7]

  • Membaca surat (Tabarak/ Al-Mulk) dan (Alif Lam Mim Tanzil As-Sajdah).

Berdasarkan hadits Jabir -Radhiallahu ‘anhu-:

“Rasulullah belum akan tidur sampai beliau membaca ‘Alif Lam Mim Tanzil As-Sajdah’ dan ‘Tabarakalladzi biyadihil mulk’.”[8]

Faedah: Tentang surat Tabarak terdapat atsar bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyenangi untuk selalu membacanya. Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Satu surat dari Al-Qur`an yang tiga puluh ayatnya dapat memberi syafaat bagi yang membacanya sehingga akan diampuni baginya dosa-dosanya yaitu ‘Tabarakalladzi biyadihil mulk’.”[9]

  • Membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah.

Berdasar hadits Abu Mas`ud Al-Badri -Radhiallahu ‘anhu-: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah, siapa saja yang membacanya pada malam hari telah cukuplah dua ayat tersebut baginya.”[10]

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “ telah cukuplah dua ayat tersebut baginya “An-Nawawi -Rahimahullah- mengatakan: “Dikatakan bahwa makna “telah cukuplah dua ayat tersebut baginya” sebagai pengganti shalat al-lail. Ada yang berpendapat telah cukup sebagai penjaga dari syaithan. Ada yang berpendapat sebagai penjaga dari suatu yang membahayakan, dan semua makna tersebut saling menguatkan.”[11]

Membaca doa-doa dan berdzikir

Termasuk petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak tidur adalah beliau beerdoa lebih dahulu di malam sebelum tidur. Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang hendak tidur di tempat tidurnya tanpa berdzikir kepada Allah -Subhanahu wa Ta`ala- maka Allah -Subhanahu wa Ta`ala- akan menjauh darinya di hari kiamat.Dan barang siapa yang duduk pada suatu tempat duduk, dan tidak berdzikir kepada Allah ‘aza wajalla , kecuali Allah akan menjauh darinya pada hari kiamat”[12]

Siapa saja yang memperhatikan doa-doa yang diucapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu hendak tidurnya, tercakup di sana makna-makna yang agung dan mulia, di sana pula tercakup tentang tauhid dan jenis-jenisnya, tercakup pula bentuk kelemahan kefakiran kita di hadapan Allah -Subhanahu wa Ta`ala-, terdapat juga permohonan ampun, taubat, inabah dan membentengi diri dari adzab di hari akhirat. Terkandung juga permohonan untuk meminta perlindungan kepada Allah -Subhanahu wa Ta`ala- dari godaan hawa nafsu dan syaithan. Terkandung juga pujian kepada Allah -Subhanahu wa Ta`ala- atas nikmat-nikmat-Nya, dan kandungan-kandungan lain maknanya sangatlah luas dan tiada batasnya dimana tempat ini tidak memungkinkan untuk disebutkan semuanya.

Nantinya akan kami sebutkan sebagian doa-doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak tidur agar kita semua dapat mengambil faedah darinya dengan mengharapkan tambahan amal kebaikan. Sesungguhnya orang yangmendapatkan taufik Allah adalah yang berlomba mengerjakan amal-amal kebaikan.

  • Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu, dari adzabMu di hari Engkau bangkitkan hamba-hamba-Mu.”

Dari Hadits Hafshah -radhiyallahu ‘anha- (istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Rasulullah setiap hendak tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya, kemudian membaca doa: ‘Allahumma qinni adzabaka yauma tab`atsu ibaadaka’ (Ya Allah, aku berlindung kepadaMu, dari adzabMu di hari Engkau bangkitkan hamba-hamba-Mu. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya tiga kali.”[13]

  • Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Dengan nama-Mu Ya Allah aku mati dan aku hidup kembali.”

Dari hadits Hudzaifah bin Al-Yaman -radhiallahu ‘anhu- berkata:

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap hendak menuju tempat tidurnya berdoa: ‘Bismika Allahumma amuutu wa ahyaa…’ (Dengan nama-Mu Ya Allah aku mati dan aku hidup kembali).[14]

  • Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Ya Allah, Engkaulah yang menghidupkan diriku dan Engkaulah Dzat yang akan mematikan aku (kelak).”

Dari hadits Abdullah bin Umar -Radhiallahu ‘anhuma-, bahwa Ibnu Umar -Radhiallahu ‘anhuma- menyuruh seorang laki-laki yang hendak mendatangi tempat tidurnya untuk berdoa: “Állahumma khalaqta nafsi wa anta tawaffaha, laka mamatuha wa mahyaha, in ahyataha fahfadh-ha, wa in amataha faghfir laha, Allahumma inni as`alukal `afiyah.” (Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah yang telah menciptakan diriku dan Engkaulah yang akan mematikan aku. Engkau memiliki hak menghidupkan dan mematikan. Jika Engkau menghidupkan diriku, maka peliharalah ia, dan jika Engkau mematikannya, ampunilah ia. Ya Allah aku memohon keselamatan kepadaMu). Maka berkata kepadanya seorang laki-laki: “Apakah engkau mendengarnya dari Umar?” Ia berkata: “Dari orang yang lebih baik dari Umar -radhiallahu ‘anhu- dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[15]

  • Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Dengan nama-Mu Ya Rabbi, kuletakkan tubuh ini, dan dengan pertolongan-Mu aku mengangkatnya….”

Dari hadits Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika salah seorang di antara kalian hendak beriustirahat di tempat tidurnya, maka hendaklah ia mengebutkan (menyapu) tempat tidurnya dengan kain sarung, karena sungguh ia tidak tahu lagi apa yang terjadi di tempat tidur tersebut setelahnya. Kemudian hendaklah ia tidur menghadap kearah kanan, kemudian hendaklah ia membaca doa: “Bismika Rabbi wadha`tu janbi, wa bika arfa`ahu, in amsakta nafsi farhamha, wa in arsaltaha, fahfadh-ha bima tahfadhu bihi `ibaadakash shalihiin.” (Dengan menyebut nama-Mu, Ya Rabbi, kuletakkan tubuh ini, dengan pertolonganMu aku mengangkatnya. Kalau Engkau mematikan aku, maka berikan rahmatMu kepadanya, jika Engkau membiarkannya hidup, maka peliharalah, sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih).[16]

  • Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Ya Allah, Penguasa langit, Penguasa bumi dan yang memiliki Arsy yang agung….”

Dari Hadits Abu Hurairah -Radhiallahu ‘anhu- berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami jika kami menuju tempat tidur kami untuk berdoa: ‘Allahumma, Rabbas-samawati, wa rabbal-ardli, wa rabbal `arsyil `adhiim, rabbana wa rabba kulli syai`in, faaliqul-habbi wan-nawa, wa manzilat-taurata wal-injila wal –furqan, a`udzubika minn syarri kulli syai`in, anta aakhidun binashiyatiha, Allahumma anta al-awwalu fa laisa qablaka sya`iun, wa antal-akhiru falaisa ba`daka sya`iun, wa antadh-dhahiru falaisa fauqaka sya`iun, wa antal bathinu falaisa duunika sya`iun iqdli `annad-daina wa aghnina minal faqr’. (Ya Allah, Rabb langit dan Rabb bumi dan Rabb Arsy yang agung, Wahai Rabb kami, Rabb segala sesuatu, yang menciptakan biji-bijian dan benih tanaman,. Yang menurunkan Taurat dan Injil serta Al-Furqan (Al-Qur`an), aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang mana Engkau-lah yang memegang ubun-ubunnya. Engkau adalah Al-Awwal, yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu, dan Engkau adalah Al-Akhir, yang tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Engkau adalah Adh-Dhahir, yang tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Dan Engkau adalah Al-Bathin, yang tidak ada sesuatu pun di bawah-Mu. Berilah kami kemampuan untuk melunasi hutang dan bebaskanlah kami dari kefakiran‘).”[17]

  • Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Ya Allah, Pencipta langit dan bumi….”

Dari hadits Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- bahwa Abu Bakr Ash-Shiddiq -radhiallahu ‘anhu- berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepada kami satu kalimat untuk kami ucapkan pada pagi dan sore hari.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ucapkanlah: ‘Allahumma faatiras samaawati wal ardli, aalimal ghaibi wasy syahaadati, Rabba kulli syaiin wa maliikahu, Asyhadu alla ilaha illa Anta, audzubika min syarri nafsii wasy syarrisy syaithaani wa syirkihi’. (Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui yang ghaib dan semua yang tak terlihat, aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar selain Engkau, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan diriku sendiri dan dari kejelekan syaithan dan campur tangannya).

Kemudian sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga:

“Ucapkan itu pada pagi hari, pada sore hari dan pada waktu engkau hendak tidur.”[18]

  • Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, memberi kami minum, memberi kami kecukupan dan memberikan kepada kami tempat tinggal….”

Anas bin Malik -radhiallahu ‘anhu- meriwayatkan, beliau berkata: “ Bahwa apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi tempat tidurnya, maka ucapkanlah: “Alhamdulillahilladzi ath`amanaa wa saqanaa, wa kafaanaa, wa aawanaa, fa kam mimman laa kaafiya lahu walaa mu`wiya”. (Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, memberi kami minum, memberi kami kecukupan dan memberi kepada kami tempat tinggal. Karena banyak orang yang tidak memiliki kecukupan dan tempat tinggal).[19]

  • Tasbih dan Tahmid dibaca tiga puluh tiga kali (33 X) dan takbir dibaca tiga puluh empat kali (34 X).

Ali -Radhiallahu ‘anhu- meriwayatkan bahwa ketika itu Fathimah -radhiyallahu ‘anha- sedang melingkarkan tangannya, tiba-tiba datanglah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan tentang pembantunya, karena beliau tidak menemukannya. Maka aku sebutkan demikian kepada Aisyah -radhiyallahu ‘anha-. Ketika datang beritanya, dia berkata: Lalu beliau mendatangi kami sedangkan kami telah mendatangi tempat tidur kami. Lalu sayapun bangung, kemudian beliau berkata: Tetaplah ditempatmu. Lalu beliau duduk diantara kami, hingga saya merasakan dinginnya kedua kaki beliau didadaku.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ketahuilah, aku akan menunjukkan kepada kalian berdua apa yang lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pembantu, yaitu jika kalian berdua mendatangi tempat tidur kalian atau kalian hendak tidur padanya, maka bertakbirlah tiga puluh tiga kali, bertasbih tiga puluh tiga kali, dan bertahmid tiga puluh tiga kali. Maka ini yang demikian adalah lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.”[20]

  • Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Dengan menyebut nama Allah, aku meletakkan tubuh ini, Ya Allah, berilah ampunan bagiku atas dosa-dosaku….”

Dari Abu Zubair Al-Anmaari -radhiallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika seseorang hendak ke tempat tidurnya pada malam hari, ucapkanlah: ‘Bismillahi wadha`tu jambii, Allahummagh firlii dzambii, wa akhsaa syaithanii wa fakka rahaanii, waj`alnii fin nadyil a`la’. (Dengan menyebut nama Allah, aku meletakkan tubuh ini, Ya Allah, berilah ampunan bagiku atas dosa-dosaku, usirlah syaithan dari diriku, bebaskan apa yang masih tergadai dariku, jadikanlah aku dalam tempat yang paling Tinggi).”[21]

  • Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Aku berlindung dengan firman-firman Allah yang sempurna, dari kemarahan dan siksa-Nya….” Bagi orang yang terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk.

Dari Amr bin Syu`aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwasanya: “Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan mereka (para sahabat) doa-doa ketika terbangun dari tidur di malam hari: ‘A`udzu bikalimaatillahit tammati min ghadhabihi wa `iqaabihi, wa syarri `ibaadihi, wa min hamazaatisy syaithaan wa an yahdluruun’. (Aku berlindung dengan firman-firman Allah yang sempurna, dari kemarahan dan siksa-Nya, dari makhluk ciptaan-Nya dan dari godaan syaithan ketika datang mengganggu).”

Dalam riwayat Al-Imam Ahmad dengan lafazh:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami doa-doa yang kami ucapkan ketika tidur dan ketika terbangun di malam hari: ‘Bismillahi a`udzu bikalimaatillahit tammati….[22] al-hadits.

  • Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu dan aku hadapkan wajahku kepada-Mu….”

Dari Al-Barra` bin ‘Azib -radhiallahu ‘anhu- berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila engkau hendak tidur maka berwudlulah seperti wudlumu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi kananmu lalu ucapkanlah: ‘Allahumma aslamtu wajhii ilaika wa fawwadl-tuamrii ilaika, wa alja`tu dhahrii ilaika, raghbatan wa rahbatan ilaika, laa malja`a wa laa manjaa`a minka illa ilaika, Allahumma aamanta bikitaabikal ladzii arsalta, fa in mutta minlailatika fa anta `alal fithrah, waj`alahunna aakhir maa tatakallamu bihi’. (Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku letakkan urusan-urusanku kepada-Mu, kusandarkan punggungku kepada-Mu, seraya berharap rahmat-Mu dan takut akan siksa-Mu, tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat menyelamatkan diri dari siksa-Mu melainkan kepada-Mu, Ya Allah, aku beriman kepada Kitab-Mu yang Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang engkau utus, jika aku Engkau cabut nyawaku malam ini maka matikanlah aku dalam keadaan fithrah (Islam) dan jadikanlah kalimat tauhid –syahadatain- sebagai akhir ucapanku…)[23].”

Faedah : Dari Syadad bin Aus -Radhiallahu ‘anhu- dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sayyidul Istighfar (tuannya dari doa-doa) adalah engkau mengucapkan: ’Allahumma anta Rabbii, laa ilaha illa anta khalaqtani wa ana abduka wa ana `ala `ahdika wa wa`dika mas tatha`ta, a`udzubika min syarri ma shana`ta, abuu`un laka bini`matika `alayya, wa abuu`un bi dzambii faghfirlii fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta’. (Ya Allah, Engkaulah Rabbku yang tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau, engkaulah yang telah menciptakan aku, dan aku adalah hamba-Mu, aku selalu berada dalam janji-Mu dan ketetapan-Mu sebatas yang aku mampu. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang ku perbuat, aku mempersaksikan dan mengetahui atas nikmat-nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku, akupun mempersaksikan dan mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang akan mengampuni dosa-dosa selain Engkau). Siapa saja yang mengucapkannya di siang hari kemudian ia meninggal sebelum sore hari maka dia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari kemudian meninggal sebelum shubuh tiba maka dia termasuk penghuni surga.”[24]

Merupakan anugerah dari Allah -Subhanahu wa Ta`ala- kepada para hamba-Nya yang beriman, yaitu adanya amalan yang ringan tapi sangat besar pahalanya. Oleh sebab ini maka sepantasnya bagi seorang Muslim untuk tidak melalaikan berdoa dengan doa ini pada siang maupun malam harinya. Dan hendaklah ia menekuninya bersama dengan menghadirkan syarat-syaratnya. Sehingga akan bisa berhasil meraih surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar aku menjadi penghuni surga-Mu, yang mereka para penghuni surga adalah orang-orang yang Engkau ridhai dan mereka pun ridha kepada Engkau. Amin.

Ketika bermimpi, apa yang sebaiknya diucapkannya dan apa yang sebaiknya dilakukannya jika yang dilihatnya dalam mimpi menyenangkan atau menakutkan.

Apa-apa yang dilihat oleh orang yang tidur itu bisa jadi itu adalah mimpi biasa, dan bisa jadi itu merupakan ru’ya / ilham, adapun ar-ru’ya ini datangnya dari Allah, sedangkan mimpi bisa jadi datangnya dari syaithan.

Dari Abu Qatadah, beliau berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Mimpi yang baik- ar-ru’ya ash-shalihah itu asalnya dari Allah sedangkan mimpi biasa itu datangnya dari syaithan. Maka salah seorang dari kalian bermimpi yang menakutkan maka hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya, dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari kejelekan-kejelekannya, sehingga tidak akan dapat memudharatkanmu.”[25]

Dalam Shahih Al-Bukhari dari jalan yang lain:

“Barangsiapa yang bermimpi sesuatu yang ia membencinya, maka hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya tiga kali, dan hendaklah ia berlindung dari godaan syaithan.”

Dalam riwayat Muslim:

“Mimpi yang baik itu asalnya dari Allah, sedangkan mimpi yang buruk itu datangnya dari syaithan, maka barangsiapa yang bermimpi tentang sesuatu sedangkan ia tidak menyukainya. Maka hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya dan berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang memudlaratkan dan janganlah ia menceritakan kepada siapapun. Karena sesungguhnya mimpi itu, jika mimpi yang baik, maka itu adalah merupakan kabar gembira, dan jangan menceritakan tentang mimpi tersebut kecuali pada orang yang ia cintai.”

Dalam riwayat Muslim juga dari Jabir -radhiallahu ‘anhu-:

“Maka hendaklah ia meludah meludah ke sebelah kirinya tiga kali, dan hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syaithan tiga kali, serta hendaklah ia berpindah posisi tidurnya dari posisi sebelumnya.”[26]

Dalam riwayat Muslim juga dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu-:

“Maka jika seseorang bermimpi yang ia tidak menyukainya maka hendaklah ia bangun kemudian shalat dan janganlah ia menceritakan tentang mimpinya itu kepada siapapun.”[27]

Hadits di atas dengan sekian banyak jalur periwayatannya mengandung beberapa faedah, diantaranya bahwa mimpi itu bisa jadi adalah mimpi yang baik dan bisa jadi merupakan mimpi yang jelek. Mimpi yang baik berasal dari Allah sementara mimpi yang buruk berasal dari syaithan yang dinamakan dengan al-hilm.

Diantara faedahnya pula: Bahwa barang siapa yang bermimpi dengan mimpi yang baik maka hendaklah mengabarkannya dan kemudian hendaklah ia mengharapkan kebaikan. Dan janganlah mengabarkan tentang mimpinya kecuali kepada orang yang dicintainya. Karena itu merupakan kabar gembira dari Allah. Dalam riwayat Al-Imam Ahmad disebutkan: “Barangsiapa yang bermimpi dengan mimpi yang menakjubkannya, maka hendaklah ia menceritakannya, karena mimpi itu merupakan kabar gembira yang datangnya dari Allah ‘azza wajalla.”

Diantaranya: Bahwa barangsiapa yang melihat menakutkannya, maka disukai baginya untuk meludah ke sebelah kirinya sebanyak tiga kali, kemudian memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk atau dari kejelekannya, dan jika ia mengulanginya sebanyak tiga kali maka itu lebih utama, kemudian hendaklah ia berpindah posisi dari posisi tidurnya semula, kemudian jika ia bangun untuk shalat maka itu lebih utama lagi. Jika ia melakukan yang demikian itu atau sebagiannya saja yang ia lakukan –sebagaimana datang dalam hadits-hadits di atas- maka sungguh tidak akan memudharatkannya serta janganlah ia menceritakan tentang mimpinya tersebut kepada siapapun.

Bersambung ke Bagian 3…

Sumber :

http://al-atsariyyah.com/?p=542#more-542


[1] . HR Al-Bukhari dalam Kitab Al-Wikaalah, Bab Idza wakala rajulan fatarakal wakiilu syai`a, fa ajawazul muwakkal fahuwa jaiz… kemudian menyampaikan hadits secara mu`allaq. Hadits tersebut diriwayatkan secara maushul pada riwayat An-Nasa`i dan Al-Isma’ili dan Abu Nu`aim… (lihat kitab Fathul Bari, 4/569).

[2] . Meniup maksudnya adalah sesuatu yang lebih ringan dari meludah

[3] . HR. Al-Bukhari, no. 5017.

[4] . Syarh Shahih Muslim Al-Imam An-Nawawi, jilid keenam (14/150)

[5] . Masuk padanya pada keumuman tersebut surat Al-Ikhlas. (Lihat Fathul Bari, 8/680).

[6] . HR. Al-Bukhari, no. 4439), Muslim, no. 2192, Ahmad, no. 24310, Abu Daud, no. 3902, Ibnu Majah, no. 3529, dan Malik, no. 1855.

[7] . HR. Abu Daud, no. 5055 dan hadits ini adalah lafazhnya. Dishahihkan oleh Al-Albani -rahimahullah-, Ahmad, no. 23295, At-Tirmidzi, no. 3403, dan Ad-Darimi, no. 3427.

[8] . HR. Al-Bukhari dalam Kitab Al-Adab Al-Mufrad (1027). Berkata Al-Albani -Rahimahullah-: “Shahih Lighairihi” (917).

[9] .HR. Abu Daud, no. 1400, dan dihasankan oleh Al-Albani -Rahimahullah-. Ahmad, no. 7910, At-Tirmidzi, no. 2891, dan Ibnu Majah, no. 3782.

[10] . HR. Al-Bukhari, no. 4008, Muslim, no. 8*7, Ahmad, no. 16620, At-Tirmidzi, no. 2881, Abu Daud, no. 1397, Ibnu Majah, no. 1368, dan Ad-Darimi, no. 1487.

[11] . Syarh shahih Muslim jilid ketiga (6/76).

[12] .HR. Abu Daud, no. 5059 dan dishahihkan oleh Al-Albani Rahimahullah.

[13] . HR. Ahmad, no. 25926, Abu Daud, no. 5045, dan hadits ini adalah lafazhnya. Dishahihkan oleh Al-Albani -Rahimahullah- namun tanpa lafazh ‘tiga kali’. At-Tirmidzi, no. 3398, Ahmad, no. 22733 dari hadits Hudzaifah bin Al-Yaman -Radhiallahu ‘anhu-.

[14] . HR. Al-Bukhari (

[15] . HR. Muslim (2712) dan Ahmad (5478).

[16] . HR. Al-Bukhari, no. 6330, Muslim, no. 2714, Ahmad, no. 7313, At-Tirmidzi, no. 3401, Abu Daud, no. 5050 dan lafazh ini adalah lafazh riwayat beliau. Ibnu Majah, no. 3874, dan Ad-Darimi, no. 2684.

[17] . HR. Muslim, no. 2713, Ahmad, no. 8737, At-Tirmidzi, no. 3400, Abu Daud, no. 5051, dan Ibnu Majah, no. 3831.

[18] . HR. Abu Daud, no. 5067, dan di shahihkan oleh Al-Albani. Ahmad, no. 7901, At-Tirmidzi no. 3396, dan Ad-Darimi, no. 2689.

[19] . HR. Muslim, no. 2715, Ahmad, no. 12142, At-Tirmidzi, no. 3396, dan Abu Daud, no. 5053.

[20] . HR. Al-Bukhari, no. 6318, Muslim, no. 2727, Ahmad, no. 605, At-Tirmidzi, no. 3408, Abu Daud, no. 2988, dan Ad-Darimi, no. 2685.

[21] . HR. Abu Daud, no. 5054, dan dishahihkan oleh Al-Albani Rahimahullah..

[22] . HR. Abu Daud, no. 3893, dan dihasankan oleh Al-Albani Rahimahullah. Ahmad no. 6657, dan At-Tirmidzi, no. 3528.

[23] . HR Al-Bukhari no. 247, Muslim, no. 2710, Ahmad, no. 18044, At-Tirmidzi, no. 3394, Abu Daud, no. 5046, Ibnu Majah, no. 3876, dan Ad-Darimi, no. 2673.

[24] . HR. Al-Bukhari, no. 6306, Ahmad, no. 16662, At-Tirmidzi, no. 3393, dan An-Nasa`i, no. 5522.

[25] . HR. Al-Bukhari, no. 3292, 6995, Muslim, no. 2261, 2262, 2263, Ahmad, no. 22129, At-Tirmidzi, no. 2277, Abu Daud, no. 5021, Ibnu Majah, no. 3909, Malik, no. 1784, dan Ad-Darimi, no. 2141.

[26] . HR. Al-Bukhari, no. 3292, 6995, Muslim, no. 2261, 2262, 2263, Ahmad, no. 22129, At-Tirmidzi, no. 2277, Abu Daud, no. 5021, Ibnu Majah, no. 3909, Malik, no. 1784, dan Ad-Darimi, no. 2141.

[27] . HR. Muslim, no. 2262.

About these ads

Written by أبو هـنـاء ألفردان |dr.Abu Hana

March 20, 2009 at 06:03

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. thanks yaaa ats info”ny :)
    nice info gan hhe :)

    arieotsky

    April 24, 2011 at 20:49


Bagaimana menurut Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s