طبيب الطب النبوي Dokter Pengobatan Nabawi

Islam, Hukum, Sholat, Tatacara

Hukum Adzan dan Qomat Pada Bayi Baru Lahir

with 15 comments


Azan dan Iqomah di Telinga Bayi

Al-Ustadz Abu Muawiah

Sepanjang pemeriksaan kami, ada lima hadits yang menyebutkan masalah ini, berikut penjelasannya:

1. Hadits Abu Rafi’ Maula Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-.

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاَةِ

“Saya melihat Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengumandangkan azan di telinga Al-Hasan bin ‘Ali -seperti azan shalat- tatkala beliau dilahirkan oleh Fathimah.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (6/391-392), Ath-Thoyalisy (970), Abu Daud (5105), At-Tirmidzy (1514), Al-Baihaqy (9/305) dan dalam Asy-Syu’ab (8617, 8618), Ath-Thobrony (931, 2578) dan dalam Ad-Du’a` (2/944), Al-Hakim (3/179), Al-Bazzar (9/325), Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah (11/273), dan Ar-Ruyany dalam Al-Musnad (1/455). Semuanya dari jalan Sufyan Ats-Tsaury dari ‘Ashim bin ‘Ubaidillah bin ‘Ashim dari ‘Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari Abi Rafi’ -radhiyallahu ‘anhu-.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thobrany (926, 2579) tapi dari jalan Hammad bin Syu’aib dari ‘Ashim bin ‘Ubaidillah dari ‘Ali ibnul Husain dari Abi Rafi’ dengan lafadz:

أَنَّ النبي صلى الله عليه وسلم أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رضي الله عنهما حِيْنَ وُلِدَا وَأَمَرَ بِهِ

“Sesungguhnya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengumandangkan azan di telinga Al-Hasan dan Al-Husain -radhiyallahu ‘anhuma- tatkala keduanya lahir, dan beliau memerintahkan hal tersebut”.

Maka dari jalan ini kita bisa melihat bahwa Hammad bin Syu’aib menyelisihi Sufyan Ats-Tsaury dengan menambah dua lafadz; “dan Al-Husain” dan “beliau memerintahkan hal tersebut(1)”.
Akan tetapi jalan Hammad -termasuk kedua lafadz tambahannya- adalah mungkar, karena Hammad bin Syu’aib telah menyelisihi Sufyan padahal dia (Hammad) adalah seorang rowi yang sangat lemah. Yahya bin Ma’in berkata, “Tidak ada apa-apanya (arab: laisa bisyay`in)”. Imam Al-Bukhary berkata dalam At-Tarikh Al-Kabir (3/25), “Hammad bin Syu’aib At-Taimy, Abu Syu’aib Al-Hummany …, ada kritikan padanya (arab: fiihi nazhor)(2)”. Al-Haitsamy berkata mengomentari riwayat ini dalam Majma’ Az-Zawa`id (4/60), “Ath-Thobrony meriwayatkannya dalam Al-Kabir sedang di dalamnya ada terdapat Hammad bin Syu’aib, dan dia adalah rowi yang sangat lemah”.(3)

Kita kembali ke jalan Sufyan Ats-Tsaury. Di dalamnya sanadnya ada ‘Ashim bin ‘Ubaidillah dan dia juga adalah rowi yang sangat lemah. Imam Abu Hatim dan Abu Zur’ah berkata, “Mungkar haditsnya dan goncang haditsnya”. Imam Ahmad berkata dari Sufyan ibnu ‘Uyainah (beliau) berkata, “Saya melihat para masyaikh (guru-guru) menjauhi hadits ‘Ashim bin ‘Ubaidillah”. ‘Ali ibnul Madiny berkata, “Saya melihat ‘Abdurrahman bin Mahdy mengingkari dengan sangat keras hadits-hadits ‘Ashim bin ‘Ubaidillah”. Dan hadits ini adalah salah satu hadits yang diingkari atas ‘Ashim bin ‘Ubaidillah, sebagaimana dalam Mizanul I’tidal (4/8). Lihat juga Al-Jarh wat Ta’dil (6/347) karya Ibnu Abi Hatim dan Al-Kamil (5/225).
Berkaca dari uraian di atas, kita tidak ragu untuk menghukumi hadits ini sebagai hadits yang sangat lemah (arab: dho’ifun Jiddan).

2. Hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍ يَوْمَ وُلِدَ, فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى

“Sesungguhnya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengumandangkan azan di telinga Al-Hasan bin ‘Ali pada hari beliau dilahirkan. Beliau mengumandangkan azan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman (8620) -dan beliau melemahkan hadits ini- dari jalan Al-Hasan bin ‘Amr bin Saif dari Al-Qosim bin Muthib dari Manshur bin Shofiyyah dari Abu Ma’bad dari Ibnu ‘Abbas.

Ini adalah hadits yang palsu. Imam Adz-Dzahaby berkata -memberikan biografi bagi Al-Hasan bin ‘Amr bin Saif di atas- dalam Al-Mizan (2/267), “Dia dianggap pendusta oleh Ibnu Ma’in, Imam Al-Bukhary berkata, “Dia adalah pendusta””.

3. Hadits Al-Husain bin ‘Ali -radhiyallahu ‘anhuma-.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

مَنْ وُلِدَ لَهُ, فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى, لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ

“Barangsiapa yang dikaruniai seorang anak, lalu dia mengumandangkan azan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya, maka Ummu Shibyan (jin yang mengganggu anak kecil) tidak akan membahayakan dirinya”.

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dalam Asy-Syu’ab (8619), Abu Ya’la (678), dan Ibnu As-Sunny dalam ‘Amalul Yaum (623) dari jalan Yahya ibnul ‘Ala` Ar-Rozy dari Marwan bin Salim dari Tholhah bin ‘Abdillah dari Al-Husain bin ‘Ali.

Hadits ini bisa dihukumi sebagai hadits yang palsu karena adanya dua orang pendusta di dalamnya:

1. Yahya Ibnul ‘Ala`. Imam Al-Bukhary, An-Nasa`i, dan Ad-Daraquthny berkata, “Dia ditinggalkan (arab: matra ditinggalkan (arab: matruk)”. Imam Ahmad berkata, “Dia adalah pendusta, sering membuat hadits-hadits palsu”. Lihat Al-Mizan (7/206-207) karya Adz-Dzahaby dan Al-Kamil (7/198) karya Ibnu ‘Ady, dan mereka berdua menyebutkan hadits ini dalam jejeran hadits-hadits yang diingkari atas Yahya ibnul ‘Ala`.

2. Marwan bin Salim Al-Jazary. An-Nasa`i berkata, “Matrukul hadits”, Imam Ahmad, Al-Bukhary, dan selainnya berkata, “Mungkarul hadits”, dan Abu ‘Arubah Al-Harrony berkata, “Dia sering membuat hadits-hadits palsu”. Lihat Al-Mizan (6/397-399)

4. Hadits ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma-.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا حِيْنَ وُلِدَا

“Sesungguhnya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengumandangkan azan di telinga Al-Hasan dan Al-Husain -radhiyallahu ‘anhuma- tatkala mereka berdua dilahirkan”.

Diriwayatkan oleh Imam Tammam Ar-Rozy dalam Al-Fawa`id (1/147/333), dan di dalam sanadnya terdapat rowi yang bernama Al-Qosim bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Hafsh Al-’Umary. Imam Ahmad berkata tentangnya, “Tidak ada apa-apanya, dia sering berdusta dan membuat hadits-hadits palsu”. Lihat Al-Kasyful Hatsits (1/210)

5. Hadits Ummul Fadhl bintul Harits Al-Hilaliyah -radhiyallahu ‘anha-.

Dalam hadits yang agak panjang, beliau bercerita bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda kepadanya ketika beliau sedang hamil:

فَإِذَا وَضَعْتِيْهِ فَأْتِنِي بِهِ. قَالَتْ: فَلَمَّا وَضَعْتُهُ, أَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى

“Jika kamu telah melahirkan maka bawalah bayimu kepadaku”. Dia berkata, “Maka ketika saya telah melahirkan, saya membawanya kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka beliau mengumandangkan azan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya …”.

Al-Haitsmy berkata dalam Al-Majma’ (5/187), “Diriwayatkan oleh Ath-Thobrany dalam Al-Ausath (4), dan di dalam sanadnya ada Ahmad bin Rosyid Al-Hilaly. Dia tertuduh telah memalsukan hadits ini”.

Sebagai kesimpulan kami katakan bahwa semua hadits-hadits yang menerangkan disyari’atkannya adzan di telinga kanan bayi yang baru lahir dan iqomah di telinga kirinya adalah hadits-hadits yang yang sangat lemah dan tidak boleh diamalkan, wallahu A’lam.

_________
(1) Maka riwayat ini menunjukkan wajibnya mengazankan bayi yang baru lahir, karena asal dalam perintah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah bermakna wajib.
(2) Ini termasuk jarh (kritikan) yang sangat keras tapi dengan penggunaan lafadz yang halus, dan ini adalah kebiasaan Imam Al-Bukhary -rahimahullah-. Imam Al-Bukhary menggunakan lafadz ini untuk rowi-rowi yang ditinggalkan haditsnya. Lihat Fathul Mughits (1/372)
(3) Lihat kritikan lain terhadapnya dalam Al-Kamil (2/242-243) karya Ibnu ‘Ady
(4) Al-Mu’jamul Ausath (9/102/9250)

Sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=950

About these ads

15 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. syukron posting gan antum saya suka saya sering belajar dari posting ini syukronnn

    Satria Beningtones

    May 7, 2013 at 10:18

  2. assalamualaikum.. menurut ssaya .. ADZAN adalah bertujuan mengajak sholat …
    nah kalo bayi baru lahir di ajak sholat apa ya bisa.. bukan kah sia – sia …

    HAFID

    November 12, 2012 at 22:00

  3. dari mana anda tau kalo semua hadis itu lemah.,.,.,
    mnurut saya mengzankan bayi saat baru lahir itu sangat perlu, .
    karena kata-kata allahu akbar dan lainnya di otak yang bekerja sebagai pita kaset, sebagai kata-kata pertama yang di rekam, harena sewaktu lahir otak itu masih losong, jadi ini lah yang di katakan bahwa setiap bayi itu di lahirkan dalam keadaan suci.

    nengsih

    October 12, 2012 at 00:13

    • 1. dari ucapan para ulama ahlul hadits, silahkan anda baca referensi/footnote rujukan kitabnya
      2. kalau dalam syari’ah Islam untuk menghukumi sesuatu itu harus dengan dalil yang shohih (benar), bukan dengan mengikuti akal/perasaan semata. apa yg menurut perasaan baik belum tentu menurut timbangan dalil syar’i itu dibenarkan..

  4. pak Zainal Muttaqien, ini informasi baru yang perlu ditelusuri lebih jauh.

    terima kasih juga untuk artikel ini, tapi di artikel sebelah katanya hadisnya lemah semua. wallohu a’lam

    hhrma

    September 12, 2012 at 12:14

  5. saya pernah membaca suatu pendapat bahwa bayi yang baru lahir sebaiknya dibacakan kalimat isti’adzah . mhon penjelasan krna sebentar lgi insyaAllah saya akan melahirkan

    nany anggraini

    September 11, 2012 at 18:19

  6. Yang jelas… sebab-sebab adanya azan itu karena perintah sholat.. coba simak apa yang di baca saat azan…sayang nya banyak ustad yang menerangkan bahwa azan pada bayi baru lahir adalah wajib… dan ulama yang mengetahui tentang hal ini jarang sekali menerangkan kepada umat… yang lebih parah adalah taklid buta yang dilakukan umat tanpa tau apa alasan ibadah ini di lakukan….tanpa mau tau alasan nya & hanya mengikuti trend atau bahasa qur’an agama nenek moyang mu…padahal kata qur’qn masuklah kedalam islam secara keseluruhan tapi coba lihat & simak ritual apa saja yang dilakukan selain azan… mengubur bali pake bumbu masak dll … bukan kah hal itu sama artinya dengan mencampur adukan keyakinan islam dengan yang lain…

    Abi

    September 8, 2012 at 01:16

  7. Kalau kita lihat ritualnya mengazani dan iqomah ditelinga bayi yang baru lahir hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh saudara kita penganut agama Hindu yang membisikkan maha mantera gayatri ditelinga kanan dan kiri. Jadi siapa meniru siapa ini, sedangkan kalau kita simak kelahiran Hindu yang lebih dulu daripada Islam, maka kayaknya yang belakangan yang meniru sambil tidak ada contohnya.

    Zainal Muttaqien

    August 26, 2012 at 21:31

  8. “Sebagai kesimpulan kami katakan bahwa semua hadits-hadits yang menerangkan disyari’atkannya adzan di telinga kanan bayi yang baru lahir dan iqomah di telinga kirinya adalah hadits-hadits yang yang sangat lemah dan tidak boleh diamalkan, wallahu A’lam.”

    Sekarang pertanyaannya adalah adakah hadist atau ayat al quran yang menerangkan azan atau iqomah ditelinga bayi tidak boleh diamalkan?

    Bagaimana dengan naik pesawat, bukankah tidak ada hadist yang menerangkan kita boleh naik pesawat? apakah naik pesawat juga tidak boleh diamalkan?

    apas sukri

    July 28, 2012 at 11:31

  9. Terlepas dari hadits yang di kemukakan di atas yang saya tau.. azan atau qomat peruntukkan nya untuk perintah shalat…bukan untuk bayi lahir atau untuk orang meninggal… atau untuk dikumandangkan ketika hujan yang disertai angin… coba lihat sejarah azan atau qomat….coba lihat arti dari azan yang di ucapkan…

    abi

    July 12, 2012 at 04:56

  10. Terimakasih atas pencerahannya, saya jadi lebih tahu tentang hal ini

    rudi

    March 31, 2011 at 19:57

  11. Terus paling baik bayi dibacain apa?

    @ Wallaahu ‘alam, tidak ada ketentuan bacaan tertentu yang harus dibacakan kepada bayi yang baru lahir.

    Rumah Adhwa

    December 6, 2010 at 14:52

  12. Ahmad (6/391-392), Ath-Thoyalisy (970), Abu Daud (5105), At-Tirmidzy (1514), Al-Baihaqy (9/305) dan dalam Asy-Syu’ab (8617, 8618), Ath-Thobrony (931, 2578) dan dalam Ad-Du’a` (2/944), Al-Hakim (3/179), Al-Bazzar (9/325), Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah (11/273), dan Ar-Ruyany dalam Al-Musnad (1/455). Semuanya dari jalan Sufyan Ats-Tsaury dari ‘Ashim bin ‘Ubaidillah bin ‘Ashim dari ‘Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari Abi Rafi’ -radhiyallahu ‘anhu-. <———– tapi kan ada perawi salah satunya at-tirmidzi yang perawinya lumayan di benarkan.. dan perawai2 lainnya yang di akui??? hanya Hammad bin Syu’aib menyelisihi Sufyan Ats-Tsaury saja yang perawinya lemah??

    Shakira

    June 18, 2010 at 13:55


Bagaimana menurut Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s