طبيب الطب النبوي Dokter Pengobatan Nabawi

Islam, Hukum, Sholat, Tatacara

Hukum Nikah Kecelakaan : MBA (Married By Accident) dan Hukum Mengadopsi “Anak Haram” Hasil Zina

with 6 comments


Hukum Nikah Kecelakaan :  MBA (Married By Accident) dan Hukum Mengadopsi “Anak Haram” Hasil Zina

السلام عليكم ورحة الله…..

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله وصحبه و من واله….

Ama ba’du…. langsung saja ust, ada beberapa pertanyaan yang ditanyakan kepada ana tapi ana masih ragu jawabannya berikut pertanyaannya :

1. Apa hukum menikahi wanita sedangkan dia dalam keadaan hamil karna perzinaan yang dilakukan oleh keduanya sahkah pernikahan nya?

2. Hukum pernikahan dengan memakai wali hakim sedangkan wali nasabnya masih ada tetapi mereka tidak  merestuinya, hanya kakak laki-laki wanita tersebut yang hadir akan tetapi kakaknya menyerahkan kepada wali hakim untuk perwalian adiknya, apakah pernikahan mereka sah ?

3. apakah talak tiga yang diucapkan dalam satu ucapan jatuh 3 atau 1? manakah pendapat yang rajih diantara pendapat para ulama?

demikian pertanyaan yang ana ajukan mohon jawabannya segera, atas jawaban antum ana ucapkan
جزاكم الله خير الجزاء

akmal andre_akmalxxxx@yahoo.com

Jawaban Al-Ustadz Dzulqornain Abu Muhammad

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

  1. 1. Nikah dengan perempuan yang hamil karena zina tidaklah syah kecuali dengan dua syarat:

Satu : Dia telah bertaubat dari perbuatan zinanya.

Dua : Dia telah lepas iddah dengan melahirkan kandungannya.

Dua syarat di atas tentunya diterangkan oleh sejumlah dalil. Namun, ana belum punya banyak waktu untuk menjelaskannya pada kesempatan ini.

Pensyaratan di atas yang difatwakan oleh para ulama dan guru-guru kami di masa ini, seperti Al-Lajnah Ad-Da`imah, Syaikh Ibnu Baaz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, Syaikh Muqbil dan selainnya.

kapan pernikahan dengan perempuan hamil karena zina tanpa dua syarat di atas maka nikahnya tidak syah.

2.  Perwalian seorang perempuan asalnya adalah hak ayah kemudian siapa yang diwasiatkan oleh sang ayah untuk mewakilinya, kemudian kakek perempuan dari pihak ayahnya, kemudian anaknya ke bawah (cucu,cicit dan seterusnya), kemudian saudara laki-laki perempuan yang seayah dan seibu dengannya, kemudian saudara laki-laki perempuan yang seayah dengannya, kemudian pamannya dari pihak ayah dan ibunya, kemudian pamannya dari pihak ayahnya, kemudian ashobah terdekatnya, kemudian yang membebaskannya (kalau dulu dia adalah seorang budak).

Apa bila tidak ada maka pemerintah adalah wali bagi siapa yang tidak punya wali.

3. Ada silang pendapat dalam hal tersebut. Dan yang benarnya bahwa hal tersebut hal terhitung jatuh satu talak.

Wallahu A’lam

***

Mengangkat Anak dari perbuatan Zina

Assalamu’alaikum,

Ustadz Dzulqarnain yang semoga dimuliakan oleh Allaah Ta’ala,Ana mau bertanya mengenai mengangkat anak yang dikemudian hari (setelah beberapa bulan) ternyata di ketahui bayi tsb dari perbuatan zina ( Dalam hal ini kekuranghati- hatian si Ibu angkat). Apakah harus mengembalikan bayi tersebut ke ibunya ? (karena saat ini si ibu tinggalnya tidak begitu jauh)…atau tetap terus memeliharanya. .?

Note : Sebenarnya mau ditanyakan waktu Daurah Tabligh Akbar di Batam,karena tidak ada forum tanya jawab sehingga tidak sempat di tanyakan.

Jazakallah Khairan,

Abu ZikRa

Jawaban Al-Ustadz Dzulqornain Abu Muhammad

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Pertama, Siapa yang mengambil anak angkat untuk dia pelihara dan dia didik adalah tergolong perbuatan yang terpuji. Semoga Allah memberi pahala kepada siapa yang melakukannya.

Kedua, Anak yang lahir dari zina, dosa bukanlah menjadi tanggungannya, melainkan tanggungan Ibunya yang berzina bersama orang yang menzinahinya. Karena Allah Ta’ala berfirman,

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

“Tidak seseorang itu menanggung dosa orang lain.” (An-Najm: 38)

Ketiga, Adapun hadits yang berbunyi,

ولد الزنا شر الثلاثة

“Anak zina adalah yang paling jelek dari tiga orang.” (Dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Daud dan selainnya. Dihasankan oleh Imam Al-Albany dalam Ash-Shohihah no. 672)

Makna dari hadits,

1. Dia yang paling jelek apabila dia mengikuti perbuatan kedua orang tuanya.

2. Anak zina karena terlahir dari air yang jelek maka ada kemungkinan dia tumbuh dengan berjiwa jelek pula. Walaupun kita semua tahu bahwa hidayah itu di tangan Allah.

Keempat, Juga saya ingatkan bahwa anak angkat bukanlah mahrom bagi orang tua angkatnya.

Wallahu A’lam

SUMBER : milinglist nashihah@yahoogroups.com versi offline dikumpulkan kembali oleh dr.Abu Hana untuk http://kaahil.wordpress.com

***

Hukum Mengadopsi Anak Zina

Al-Ustadz Abu Muawiah

Tanya:
Assalaamu’alaikum ust,
Ana ingin bertanya beberapa soalan berkenaan anak angkat dan ibu susuan:
a)Apakah dibolehkan mengambil anak angkat dari hasil penzinaan dimana si ibu tidak mampu menjaga anak itu?

b)Bolehkah seorang wanita memakan pil dari doktor untuk memperbanyakkan susunya supaya ia boleh menjadi ibu susuan kepada anak angkatnya?

c)Siapakah yang berhak atas anak yang lahir dari perzinaan, ibu kandungnya atau ibu angkat/ibu susuannya?
“Ibnu Ismail” <ibnuismail@salafy.ws>

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah.
1.    Ia boleh, bahkan itu termasuk perbuatan yang terpuji kalau memang ibu kandungnya tidak bisa merawatnya. Hanya saja anak itu tidak akan bisa menjadi mahramnya kecuali melalui jalur syar’i, yaitu dengan disusui sehingga dia menjadi anak susuannya. Adapun keberadaan dia sebagai anak zina maka dosa ibunya tidaklah menyebabkan dia boleh diperlakukan seenaknya, karena seorang tidak menanggung dosa yang tidak dia lakukan.

2.    Boleh saja, dengan syarat pil tersebut tidak menimbulkan mudharat baginya dan tentunya harus ada izin dari suaminya.

3.    Jika ibu kandungnya bisa merawat anaknya dengan baik, baik dari sisi ekonomi maupun akhlaknya ke depan, maka tentu saja ibu kandungnya lebih berhak untuk merawat karena dia merupakan darah dagingnya sendiri.
Demikian, wallahu Ta’ala a’lam.

SUMBER :  http://al-atsariyyah.com/?p=1778

***

Hukum Anak ‘Haram’

Al-Ustadz Abu Muawiah

Tanya:
Bismillah,
Assalamu’alaikum warohmatulloh wabarokatuh
Ya Ustadz, ana mau tanya berkenaan dengan nasab. Begini:
Ibu ana pernah cerita sama ana, kata beliau, ketika menikah sama bapak ana dulu, mereka menikah tanpa wali. beliau mengakui bahwa menikahnya dengan bapak ana adalah dengan cara “kawin lari”.
Setelah mengetahui hal itu, ana kemudian  bilang sama ibu ana agar menikah lagi sama bapak karena sebenarnya mereka belum sah nikahnya. beliau sebenarnya mau, tapi bapak ana yg gak mau.
Nah, yg ingin ana tanyakan. Pertama, masalah nasab ana ini gimana, ya Ustadz. Di blog ana, ana menuliskan fulan bin fulan (yakni nisbah kepada ayah). Apakah hal ini dibenarkan? Sedang ana terlahir sebagai “anak haram”. Bolehkah nasab kepada ibu? Misalnya seperti shahabat abdulloh bin ummi maktum yang nasab ke ibu, bukan bapak. Mohon petunjuknya ya Ustadz.
Yg kedua bagaimana solusinya biar orang tua ana bisa “resmi” menikahnya. sedang dari pihak bapak nggak mau, ya mungkin alasannya “malu”, begitu.
Demikian, atas jawabannya ana ucapkan jazakallohu khoiron katsiron wa barokallohufiikum.

[mohon maaf pertanyaan telah kami edit, serta nama dan email penanya tidak kami tampilkan, semuanya guna menjaga privasi penanya, (admin)]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Sebagaimana yang sudah diketahui bahwa menikah tanpa wali (bagi wanita) adalah haram dan tidak syah sehingga dia dihukumi perzinahan. Karenanya anak yang terlahir dari pernikahan seperti itu adalah anak zina, dan nasabkan dikembalikan kepada ibunya, bukan kepada ayahnya. Ini berdasarkan hadits Aisyah dan Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ

“Anak yang lahir untuk pemilik kasur (yakni: anak yang dilahirkan oleh istri seseorang atau budak wanitanya adalah miliknya), dan seorang pezina adalah batu (yakni: tidak punya hak pada anak hasil perzinaannya).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hanya saja jika ‘kawin lari’ ini dilakukan karena mereka meyakini bolehnya atau meyakini syahnya ‘kawin lari’, maka pernikahan seperti ini dikategorikan ke dalam nikah syubhat. Dan hukum anak yang lahir dari pernikahan syubhat seperti ini bukanlah anak ‘haram’ akan tetapi syah sebagai anak dari ayah dan ibunya, karenanya dia bisa menisbatkan namanya kepada ayahnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Asy-Syafi’i, dan yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiah dan Ibnu Al-Utsaimin -rahimahumullah- dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ (5/641).

Adapun setelah mengetahui bahwa hukum ‘kawin lari’ adalah tidak syah, maka keduanya (ayah dan ibunya) wajib untuk berpisah lalu keduanya menikah kembali dengan akad nikah yang benar dan sah, tanpa harus melakukan istibra` ar-rahim (satu kali haid). Ini adalah fatwa dari Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Mar’i -hafizhahullah-.

Kembali ke pertanyaan antum: Apakah boleh bernisbat kepada ibu?

Jawab: Jika ‘kawin lari’ orang tua antum termasuk dari nikah syubhat maka tidak ada masalah antum bernisbat kepada ayah. Jika bukan termasuk nikah syubhat, yakni keduanya sudah mengetahui tidak syahnya ‘kawin lari’ maka antum tidak boleh bernisbat kepada ayah tapi hanya bernisbat kepada ibu, berdasarkan hadits Abu Hurairah dan Aisyah di atas.

Adapun keengganan ayah untuk menikah kembali, ana kira bisa dimaklumi karena dia mengira nikah ulang itu harus adakan nikah dengan mengundang banyak orang plus resepsi lagi. Tapi saya kira antum sudah mengetahui bahwa yang menjadi rukun dan syarat syahnya nikah hanyalah adanya kedua mempelai, adanya ijab qabul, keridhaan kedua mempelai, wali bagi wanita, mahar, dan 2 orang saksi dari kalangan lelaki dewasa. Jadi kapan rukun dan syarat nikah ini terpenuhi maka nikahnya sudah syah walaupun tidak ada resepsi dan tidak mengundang orang lain. Jadinya antum tinggal memahamkan ayah antum akan masalah ini, semoga dia bisa paham. Dan antum juga bisa mengingatkan bahwa jika dia tidak mau menikah maka anak-anaknya adalah anak ‘haram’ dan bukan anaknya sehingga akan berlaku padanya hukum:

a.    Dia dan anak-anak istrinya (karena anak-anak dinisbatkan kepada ibunya) tidak saling mewarisi.
b.    Dia tidak wajib memberi nafkah kepada anak istrinya.
c.    Dia tersebut bukan mahram bagi anak wanita istrinya.
d.    Dia tidak bisa menjadi wali bagi anak wanita istrinya dalam pernikahan.

Wallahul muwaffiq, wahuwa a’lam wa ahkam.

SUMBER :  http://al-atsariyyah.com/?p=1665#more-1665

* * *

About these ads

6 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. [...] rukun-rukun dan syarat-syarat nikah telah lengkap, namun antara wali dan calon suami keduanya berada di negeri (daerah) yang berbeda. [...]

  2. ASALAMUALAIKUM…SAYA INGIN BERTANYA.. SETELAH SESEORANG BERBUAT DOSA TETAPI DIA
    MAHU MENIKAHI PEREMPUAN ITU..DIA TIDAK HAMIL..DIA INGIN MENEBUS KESALAHAN ITU..NAMUN PEREMPUAN ITU MENOLAK SAMA SEKALI..ADAKAH LELAKI ITU DI PERSALAHKAN DAN ADAKAH DOSA2 YANG DI LAKUKAN TIDAK DAPAT DI AMPUNKAN KERANA DIA AMAT MENYAYANGI PEREMPUAN ITU..DIA MERANA KERANA TIDAK DAPAT MENEBUS KESALAHAN NYA,..APAKAH HARUS DIA LAKUKAN..

    @ Wa’laikumussalaam Warohmatullaahi Wabarokaatuh.

    Yang utama dilakukan adalah bertaubat dengan sebenar-benarnya, Allah Ta’la Maha Pengampun atas segala dosa-dosa hamba-Nya.. Selengkapnya di http://kaahil.wordpress.com/2010/06/26/apa-dan-bagaimana-taubat-nashuha-itu-apa-saja-8-syarat-diterimanya-taubat-dan-hukum-shalat-sunnah-taubat/

    ZAHARI

    August 8, 2010 at 14:13

  3. [...] anak tsb diadopsi. 2.anak tsb bernasab kpd siapa. 3.apakah nantix anak tsb perlu dikasih tau riwayat kelahiranx.dan [...]

  4. assalamu’alaikum…ana mau menanyakan apakah nikahnya sah jika kedua pasangan yang berzina, tapi mereka sudah bertobat tetapi wanitanya sedang hamil…apakah harus nikah ulang???

    @ Wa’alaikumussalaam Warohmatullaahi Wabarokatuh.

    Jika kedua orang yang berzina tersebut menikah dalam keadaan wanitanya hamil maka pernikahan itu tidak sah berdasarkan apa yang telah dijelaskan pada jawaban pertama dan kedua.

    Hanya saja, kalau pernikahan itu dilangsungkan dengan anggapan bahwa hal itu boleh dan sah sebagaimana mazhab sebagian ulama yang berpendapat: “Boleh bagi seorang lelaki yang menghamili seorang wanita dengan perzinaan untuk menyelamatkan nasab anak itu dengan cara menikahinya dalam keadaan hamil, dengan syarat keduanya telah bertaubat dari perzinaan dan diketahui dengan pasti/yakin bahwa yang menghamilinya adalah laki-laki itu”, maka pernikahan itu dikategorikan sebagai nikah syubhat.

    Artinya, pernikahan itu berlangsung dengan anggapan bahwa hal itu boleh menurut syariat, padahal sebenarnya tidak boleh. Berarti pernikahan itu tidak mengubah status anak hasil perzinaan tersebut sebagai anak zina, dia tetap dinasabkan kepada ibunya dan tidak sah dinasabkan kepada lelaki tersebut.

    Adapun anak-anak yang dihasilkan setelah nikah syubhat, status mereka sah sebagai anak-anak keduanya4. Akan tetapi wajib atas keduanya untuk berpisah ketika mengetahui hakikat sebenarnya bahwa pernikahan itu tidak sah, sampai keduanya menikah kembali dengan akad nikah yang benar dan sah, tanpa harus melakukan istibra` ar-rahim. Ini adalah jawaban Syaikhuna Al-Faqih Abdurrahman Al-‘Adni hafizhahullah wa syafahu.

    Selengkapnya disini :
    http://kaahil.wordpress.com/2008/11/30/hukum-seputar-anak-hasil-zina/

    abuzahrakusnanto

    January 18, 2010 at 15:21

  5. assalamu’alaikum. ustadz dzul hafidhokumullah. ana mau menanyakan tentang anak hasil perkosaan. ada seorang gadis (msih belajaiyg diperko di ponpes) ktika liburan diperkosa oleh seorang laki laki yg msih tetanggax. dan qodarullah akhirx gadis itu hamil. sempat dari pihak keluarga laki laki minta diselesaikan secara kekeluargaan yaitu laki laki tsb bersedia untk menikahi sigadis. tetapi sigadis keluargax tdk mau. akhirx gadis tsb melahirkn dan anakx diadopsi oleh seseorang.kmudian gdis tsb kembali masuk ponpes(krna br umur 16 th) yg mau ana tanyakan:1.bolehkah anak tsb diadopsi. 2.anak tsb bernasab kpd siapa. 3.apakah nantix anak tsb perlu dikasih tau riwayat kelahiranx.dan pada umur berapa sbaikx anak tsb mengetahuix 4.apkh anak tsb jg perlu di kenalkn dg bpakx. 5. bgmna hubungan anak tsb dg anak2 ibunya dn anak bapakx. syukr an/jazakumullahu khairo

    @ Wa’alaikumussalaam Warohmatullaahi Wabarokatuh.
    Pertanyaan antum sudah kami layangkan kepada yang bersangkutan, mohon menunggu jawabannya.

    abu daffa'

    January 12, 2010 at 09:02


Bagaimana menurut Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s