Wajibnya Menerangkan Penyimpangan sebagai Amar Ma’ruf Nahi Munkar : Ahlul Bid’ah (Terkadang) Lebih Berbahaya daripada Orang Kafir

Pendahuluan Ke-4: Wajibnya Menerangkan Penyimpangan sebagai Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi

Kemudian pendahuluan yang keempat—mohon maaf, masih ada lima lagi pendahuluannya, sebab terlalu banyak syubuhât di seputar permasalahan sehingga saya harus menerangkan dahulu prinsip Ahlus Sunnah dalam masalah ini sebelum menguraikan tentang kesesatan Wahdah Islamiyah—supaya hal ini bisa kita pahami bersama. Dan ini juga dalam rangka menerapkan perkataan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam Kitabul ‘Ilmi dan Imam Muslim dalam Al Muqaddimah:

حَدِّثُوْا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ أَتُحِبُّوْنَ أَنْ يُكَذَّبَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ؟

“Berceritalah kepada manusia dengan apa yang mereka ketahui, apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?”

Perkataan benar dan yang disampaikan haq tapi karena ini belum sampai kepada akal dan pemahamannya seseorang, maka ia langsung didustakan. Maka kita harus melalui pendahuluan agar bisa memahami Al Haq ini.

Kemudian pendahuluan berikutnya, dalam syari’at Islam kita diperintahkan untuk menerangkan Al Haq dan untuk membantah orang-orang yang menyelisihi dan menyimpang dari syari’at Islam.

Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman,

وَإِذْ أَخَذَ اللهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَ تَكْتُمُونَهُ.

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya.” (QS Âli ‘Imrân: 187)

Dan Allah subhânahu wa ta’âlâ mengancam orang-orang yang menyembunyikan Al Kitab dalam firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَـئِكَ يَلعَنُهُمُ اللهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela’nati.” (QS Al Baqarah: 159)

Dan di ayat yang lain,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلاً أُولَـئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلاَّ النَّارَ وَلاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang murah, mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (QS Al Baqarah: 174)

Dan Allah subhânahu wa ta’âlâ menerangkan dalam Al Qur’an,

وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ اْلآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ.

“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an supaya tampak jalan orang-orang yang salah.” (QS Al An’âm: 55)

Jadi memang Al Haq/kebenaran itu tidak diketahui kalau tidak diterangkan kebalikannya. Tidak mungkin kita tahu rasa manis kalau tidak tahu lawannya yakni pahit. Tidak diketahui jalan yang kanan kalau tidak ada jalan yang kiri. Ini secara fithrah bisa dipahami. Demikian pula dalam ayat-ayat ini, diterangkan ayat-ayat Al Qur’an supaya jelas jalan orang mujrim, orang-orang yang menyimpang.

Karena itulah seorang penyair berkata,

عَرَفْتُ الشَّرَّلاَ لِلشَّرِّ لَكِنْ لِتَوَقِّيْهِ

وَمَنْ لَمْ يَعْرِفُ الشَّرَّ مِنَ الْخَيْرِ يَقَعْ فِيْهِ

“Saya mengetahui kejelekan bukan untuk mengikutinya, tetapi untuk menjaga diri saya agar jangan jatuh ke dalam kejelekan itu.

Dan siapa yang tidak mengetahui kejelekan itu dari pada kebaikan, ia akan jatuh ke dalamnya.”

Karena itulah Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallâhu ‘anhu mempunyai sikap lain,

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِيْ.

“Manusia bertanya kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, sedangkan saya bertanya kepada beliau tentang kejelekan, karena saya khawatir kejelekan itu akan menimpaku.” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu wajib untuk menerangkan Al Haq dan menerangkan lawannya yakni kebathilan. Hal ini juga dinamakan jihad oleh Allah subhânahu wa ta’âlâ, sebagaimana firman-Nya,

فَلاَ تُطِع الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا.

“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.” (QS Al Furqan: 52)

Juga firman-Nya,

وَجَاهِدُوا فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ.

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad.” (QS Al Hajj: 78)

Kedua ayat ini (Al Furqan: 52 dan Al Hajj: 78) turun di Makkah sedangkan ketika masih di Makkah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak diperintahkan untuk berperang dengan pedang/fisik, bahkan dilarang sebagaimana dalam ayat,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّواْ أَيْدِيَكُمْ.

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, tahanlah tangan-tangan kalian (dari berperang.” (QS An Nisa: 77)

Jihad dengan perang fisik dilarang di Makkah, jadi jihad apa yang diinginkan pada ayat ini? Kata Ibnul Qayyim rahimahullâh, yaitu jihad dengan hujjah, dengan bayan (argumen).

Dan kita diperintahkan untuk amar ma’ruf nahi munkar. Dalilnya Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman,

لاَّ خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ.

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (QS An Nisâ’: 114)

Allah subhânahu wa ta’âlâ juga berfirman,

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.

“Dan hendaklah ada di antara kamu sekelompok umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Âli ‘Imrân: 104)

Juga firman-Nya,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” QS Âli ‘Imrân: 110)

SUMBER :  http://nasihatuntukwahdah.wordpress.com/2009/12/27/pendahuluan-ke-4-wajibnya-menerangkan-penyimpangan-sebagai-amar-maruf-nahi-munkar/

Pendahuluan Ke-6: Ahlul Bid’ah Lebih Berbahaya daripada Orang Kafir (Terkadang)

Pendahuluan berikutnya yang perlu diketahui bahwa di antara prinsip Islam, prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah: kadang ahlul bid’ah itu lebih berbahaya daripada orang kafir. Ingat, ini “terkadang”, jangan disebut lalu dipahami secara mutlak saja. Dan ini ditunjukkan dalam banyak dalil, sebelumnya akan diuraikan para ulama yang berpendapat seperti ini supaya jangan disangka ini dari kantung saya.

Pertama:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâh dalam Minhâjus Sunnah jilid 5 halaman 248 beliau mengatakan, “Dan diriwayatkan dalam hadits bahwasanya orang-orang Khawarij ini adalah orang yang terjelek yang terbunuh di muka bumi ini dan sebaik-baik orang yang membunuh adalah orang yang membunuh Khawarij.” [dan haditsnya ada dalam hadits Abu Umamah Al Bahili].

Maksudnya mereka ini paling jelek terhadap kaum muslimin, tidak ada seorang pun yang lebih jelek dari kaum muslimin daripada orang-orang Khawarij ini, tidak orang Yahudi dan tidak pula orang Nashara. Orang Yahudi dan Nashara tidak ada hubungan dengan Islam sedang orang Khawarij mengatakan dirinya muslim, maka tingkat bahayanya lebih besar bagi umat. Karena itu Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam bersikap keras mentahdzir orang-orang Khawarij.

Kedua:

Dan juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ Fatawa jilid 28, “Oleh karena itulah membersihkan jalan Allah dan agama Allah dan manhaj Allah serta syari’atnya dan menolak kesewenang-wenangan dan permusuhan orang-orang yang ingin melampaui batas terhadap agama dan syari’at Allah ini itu adalah fardhu kifayah menurut kesepakatan kaum muslimin. Andaikata Allah tidak menegakkan orang yang menolak bahaya ini (ditegakkan orang ini bahaya, ini tidak), maka agama ini akan rusak dan rusaknya agama ini lebih berat daripada rusaknya kalau musuh atau orang kafir menyerang.”

Sebab kalau pemikiran itu bahaya sekali, umat Islam yang rusak. Tapi kalau musuh akan membuat bahaya tidak membahayakan apa yang ada di dalam hati. Sedangkan serangan pemikiran ini menyerang dari segala sesuatu. Oleh karena itulah dipandang sangat berbahaya.

Ketiga:

Imam Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at, bahwasanya kadang orang-orang yang membuat hadits palsu itu, orang-orang ahlul bid’ah dalam Islam dan orang-orang yang membuat hadits palsu itu lebih keras atau lebih berbahaya daripada Al Mulhidin.

Keempat:

Imam ‘Abdul Ghani Al Maqdasi (penyusun ‘Umdatul Ahkam) rahimahullâh beliau berkata, sesungguhnya umat Islam ini telah difitnah dengan tiga kelompok dari kalangan ahlul bid’ah. Kelompok yang pertama, mereka menolak seluruh hadits-hadits sifat Allah dan mendustakan para rawi (disebutkan Allah itu memiliki sifat Maha mendengar dan seterusnya, dia dustakan). Apa hukum beliau terhadap mereka? Mereka ini lebih berbahaya terhadap Islam dan kaum muslimin daripada orang-orang kafir.

Kelompok kedua mengatakan bahwasanya hadits-hadits ini shahih (kalau kelompok pertama tadi semuanya ditolak) diterima tetapi kemudian dita’wil. Sekarang kalau dari sisi beratnya kesalahan, yang mana yang lebih berat, yang pertama atau yang kedua? Lebih berat yang pertama sebab menolak semua sedangkan yang kedua hanya menta’wil. Akan tetapi apa hukum beliau terhadap kelompk yang kedua ini? Dan yang kedua ini lebih berbahaya dari kelompok yang pertama.

Kelompok yang ketiga tidak berpendapat dengan kedua kelompok yang pertama, tapi juga tetap menta’wil, menetapkan sebagian sifat dan membiarkan yang lain, dan ini lebih berbahaya lagi dari kelompok yang lainnya. Mengapa demikian? Ukurannya, Islam itu agama yang terang, kalau misalnya ada sesuatu yang gelap di sana itu tidak diperhatikan. Tetapi ada yang agak terang di sini agak kabur-kabur sedikit, mungkin orang akan menyangka itu bagian dari Islam. Maka ini kapan ia lebih mendekati kebenaran atau kapan dia lebih mirip dan terkadang mengatasnamakan dirinya Ahlus Sunnah, dan kadang ia menampilkan seakan-akan dirinya ini di atas kebenaran, maka ini lebih harus untuk dibersihkan karena mereka ini lebih berbahaya. Orang-orang tertipu dengan keadaannya.

Maka kalau saya ditanya, “Mengapa Wahdah Islamiyah dibantah kemudian yang lainnya tidak dibantah?” Maka kita katakan, semuanya dijelaskan tentang yang haq dalam setiap permasalahan, walhamdulillâh kita berucap walaupun hal itu adalah pahit sebagai nasihat bagi umat. Kemudian mengapa yang didahulukan adalah mereka? Sebab mereka menamakan dirinya Ahlus Sunnah dan menyalahkan Ahlus Sunnah dengan dalih mereka Ahlus Sunnah. Ini sangat berbahaya dan menipu umat.

Kelima:

Imam Asy Syathibi rahimahullâh berkata bahwa orang-orang yang sesat bahayanya bagi kaum muslimin bagaikan bahayanya iblis, dan mereka itu adalah syaithannya manusia.

Demikian, jadi ukurannya, apabila ia bukan dari kebenaran tetapi samar-samar dan agak mirip dengan kebenaran maka ia yang lebih dulu dibersihkan dan harus lebih banyak diterangkan. Kalau kafir, semua orang tahu ia bukan Islam, tetapi mubtadi’ ia mengaku dari Islam padahal berada di jalan yang salah, maka mubtadi’ harus lebih diterangkan. Dan ini mempunyai penguat dalam Al Qur’an.

Kalau kita membuka Al Qur’an pada awalnya Surat Al Baqarah setelah alif lâm mîm ada 4 ayat tentang sifat kaum mu’minin. Setelah itu disebutkan 2 ayat tentang sifat orang kafir. Kemudian setelah itu disebutkan 13 ayat tentang sifat orang munafik.

Mengapa sifat orang munafik disebut dalam 13 ayat sedangkan sifat orang kafir cuma 2 ayat? Sebab kafir ini jelas, tetapi munafik yang menampilkan dirinya Islam perlu diterangkan bahaya yang besar bagi umat.

Maka kadang-kadang ahlul bid’ah itu lebih berbahaya dan lebih perlu untuk diterangkan. Kita bersikap tegas kepada mereka karena mereka menghinakan dan menyalahkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan mengatasnamakan Ahlus Sunnah wal Jama’ah sehingga bisa mencemari dakwah Islam yang hakiki.

SUMBER :  http://nasihatuntukwahdah.wordpress.com/2009/12/27/pendahuluan-ke-6-ahlul-bidah-lebih-berbahaya-daripada-orang-kafir-terkadang/

Advertisement

2 responses to this post.

  1. Assalamu alaykum wa ramahtullah, afwan akhi ana mo nanya apakah Zimbio itu juga salah satu blog atau situs ikhwan…kok dia tampilkan tulisan ustad Dzulqornain tapi sampingnya ada gambar2 orang kafir yang gak pantas untuk dilihat?

    http://www.zimbio.com/member/kaahil/articles/27z0Y-iCsab/Wajibnya+Menerangkan+Penyimpangan+sebagai

    http://www.zimbio.com/member/kaahil/articles/27z0Y-iCsab/Wajibnya+Menerangkan+Penyimpangan+sebagai

    afwan cuman tabayun…..

    @ Wa’alaikumussalaam warohmatullaahi wabarokaatuh.

    Na’am isi dari artikel tersebut adalah diambil dari blog ana sendiri di http://kaahil.wordpress.com/ zimbio adalah tempat mensubmit/mempublikasikan artikel yang terkadang bisa di set secara otomatis agar muncul sebagaimana lintasberita.com, kombes,com, dll.

    Adapun tampilan disekeliling artikel di zimbio memang akan muncul otomatis dari pihak zimbio, seperti yang antum liat berupa iklan dan gambar yang muncul otomatis ketika membuka web facebook.com dan lain-lain.

    Jazaakallaahu khairan atas koreksinya..

    Reply

  2. Posted by Aftina on 15 July, 2010 at 09:14

    Ada salah tulis, tolong diperbaiki.
    QS Ali Imran: 104 yang ke-dua di atas terjemahannya salah, tidak pas dengan suratnya.

    @ jazaakumullaahu khairan atas koreksinya , sudah diedit..

    Reply

Bagaimana menurut Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s