طبيب الطب النبوي Dokter Pengobatan Nabawi

Islam, Hukum, Sholat, Tatacara

ASAL-USUL & SEJARAH MALAM KEJADIAN ISRA’ MI’RAJ : Benarkah jatuh pada tanggal 27 Rajab? | Pendapat para ulama termasuk Imam Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad,dll tentang hukum merayakan peringatan Isro Mikroj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

with 62 comments


Benarkah Isra’ Mi’raj pada 27 Rajab?

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebagian besar kaum muslimin, terkhusus di negeri ini meyakini bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj jatuh pada malam 27 Rajab. Biasanya mereka isi malam itu dengan qiyamullail kemudian puasa pada siang harinya. Berbagai perayaan pun diadakan untuk memperingati peristiwa yang menjadi salah satu mu’jizat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut. Benarkah Isra’ dan Mi’raj ini terjadi pada malam 27 Rajab?

Para ulama sejak dahulu sudah membahas dan menerangkan permasalahan ini dalam kitab-kitab mereka. Dan kesimpulan dari keterangan mereka adalah:

Bahwa tidak ada satupun dalil yang shahih dan sharih (jelas) yang menunjukkan kapan waktu terjadinya Isra’ dan Mi’raj. Para sejarawan sendiri berbeda pendapat dalam menentukan kapan waktu terjadinya peristiwa itu.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullah menyatakan ada lebih dari sepuluh pendapat yang berbeda-beda dalam menentukan kapan waktu terjadinya Isra’ dan Mi’raj, di antaranya ada yang menyebutkan pada bulan Ramadhan, ada yang menyebutkan pada bulan Syawwal, bulan Rajab, Rabi’ul Awwal, Rab’iul Akhir, dan berbagai pendapat yang lain.

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: “Diriwayatkan dengan sanad yang tidak shahih dari Al-Qasim bin Muhammad bahwa Isra’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terjadi pada 27 Rajab. Riwayat ini diingkari oleh Ibrahim Al-Harbi dan para ulama yang lain.”

Al-’Allamah Abu Syamah rahimahullah dalam kitabnya, Al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’ wal Hawaditsmenyebutkan bahwa terjadinya Isra’ bukan pada bulan Rajab. Kemudian beliau juga mengatakan: “Sebagian tukang kisah menyebutkan bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi pada bulan Rajab, perkataan seperti ini menurut ulama ahlul jarh wat ta’dil adalah sebuah kedustaan yang nyata.”

Semakna dengan yang dikatakan oleh Abu Syamah di atas adalah keterangan Ibnu Dihyah, sebagaimana yang dinukilkan oleh Ibnu Hajar rahimahumullahu jami’an.

Sekarang, mari kita menengok bagaimana penjelasan Al-Hafizh An-Nawawi rahimahullah -seorang ulama besar madzhab Syafi’i dan sering dijadikan rujukan oleh kaum muslimin termasuk di Indonesia- terkait permasalahan ini. Dalam kitabnya, Syarh Shahih Muslim, beliau berkata:

“Peristiwa Isra’ ini, sebagian kecil berpendapat itu terjadi 15 bulan setelah diutusnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Harbi mengatakan bahwa itu terjadi pada malam 27 bulan Rabi’ul Akhir, satu tahun sebelum hijrah. Az-Zuhri mengatakan bahwa itu terjadi 5 tahun setelah diutusnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Nabi mengalami peristiwa Isra’ ketika agama Islam sudah tersebar di kota Makkah dan beberapa qabilah.”

Beliau tidak memastikan bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab, beliau hanya sebatas menukilkan pendapat sebagian ulama sebagaimana telah disebutkan.

Sebagian ulama memperkirakan bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini terjadi tiga atau lima tahun sebelum hijrah. Karena setelah mendapatkan wahyu perintah untuk mendirikan shalat lima waktu pada peristiwa tersebut, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam masih sempat menunaikannya beberapa waktu bersama Khadijah radhiyallahu ‘anha, istri beliau. Dan tidak diperselisihkan bahwa Khadijah radhiyallahu ‘anha meninggal tiga atau lima tahun sebelum hijrah. Wallahu a’lam.

Berdasarkan keterangan para ulama di atas, maka kita tidak boleh menetapkan, memastikan, ataupun meyakini bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab. Hanya Allah subhanahu wata’alasajalah yang mengetahui kapan peristiwa tersebut terjadi, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai hamba-Nya yang menjalaninya. Sementara kita tidak mendapatkan satupun ayat al-Qur’an maupun hadits yang memberitakan kapan peristiwa tersebut terjadi.


Sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=593 atau http://www.mediasalaf.com/aqidah/benarkah-isra%E2%80%99-mi%E2%80%99raj-pada-27-rajab/

 

* * *

Hukum Merayakan Peringatan Isra’ Mi’raj

بسم الله الرحمن الرحيم

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang al-amin (yang terpercaya) dan memiliki sifat amanah. Dengan sifat inilah, beliau telah menyampaikan seluruh risalah dan syari’at Allahsubhanahu wata’ala kepada umat ini dengan lengkap dan sempurna. Tidak ada satu kebaikan pun, kecuali pasti telah beliau ajarkan kepada umatnya. Dan tidak ada satu kejelekan pun, kecuali pasti telah beliau peringatkan dan beliau larang umatnya untuk mengerjakannya.

Kalau seandainya peringatan Isra’ Mi’raj itu bagian dari risalah dan syari’at Allah subhanahu wata’ala, pasti beliau telah ajarkan kepada umatnya. Kalau seandainya peringatan Isra’ Mi’raj ini amalan yang baik, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beserta para shahabatnya adalah orang-orang pertama yang mengadakan acara tersebut. Demikian pula para ulama generasi berikutnya yang mengikuti dan meneladani mereka, semuanya akan mengadakan perayaan-perayaan khusus untuk memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sehingga acara peringatan Isra’ Mi’raj, dalam bentuk apapun acara tersebut dikemas, merupakan amalan bid’ah, sebuah kemungkaran, dan perbuatan maksiat karena:

1.            Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri tidak pernah merayakannya atau memerintahkan kepada umatnya untuk merayakannya.

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهْوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk urusan (syari’at) kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

2.            Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, dan seluruh shahabat radhiyallahu ‘anhum tidak pernah pula merayakannya. Demikian pula para tabi’in, seperti Sa’id bin Al-Musayyib, Hasan Al-Bashri, dan yang lainnya rahimahumullah.

3.            Para ulama yang datang setelah mereka, baik itu imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad), Al-Bukhari, Muslim, An-Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, Ibnul Qayyim, Ibnu Hajar Al-’Asqalani, dan yang lainnya rahimahumullah, hingga para ulama zaman sekarang ini. Mereka semua tidak pernah merayakannya, apalagi menganjurkan dan mengajak kaum muslimin untuk mengadakan peringatan itu. Tidak didapati satu kalimat pun dalam kitab-kitab mereka yang menunjukkan disyari’atkannya peringatan Isra’ Mi’raj.

4.            Kenyataan yang terjadi jika perayaan ini benar-benar diadakan, yaitu munculnya berbagai kemungkaran, di antaranya:

a.       Terjadinya ikhtilath, yaitu bercampurbaurnya antara laki-laki dan perempuan.

b.      Dilantunkannya shalawat-shalawat yang bid’ah dan bahkan sebagiannya mengandung kesyirikan.

c.       Didendangkannya lagu-lagu dan alat musik yang jelas haram hukumnya.

d.      Mengganggu kaum muslimin. Di antara bentuk gangguan itu adalah:

o   Terhalanginya pemakai jalan atau minimalnya mereka kesulitan ketika hendak melewati jalan di sekitar lokasi acara, karena banyaknya orang di sana.

o   Suara musik dan lagu yang sangat keras pada acara terebut, juga mengganggu tetangga dan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi acara. Orang yang telah lanjut usia, orang sakit, maupun bayi-bayi dan anak-anak kecil yang semestinya membutuhkan ketenangan, mereka terganggu dengan adanya suara musik yang sangat keras tadi.

Tidak semestinya beberapa gangguan tadi dianggap sepele dan ringan. Kecil maupun besar, setiap perbuatan yang bisa mengganggu dan menyakiti kaum muslimin, maka pelakunya terkenai ancaman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Al-Ahzab: 58)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Tidak akan masuk al-jannah orang yang tetangganya merasa tidak aman dari gangguannya.” (HR. Muslim)

e.       Tidak sedikit kaum muslimin yang melalaikan shalat berjama’ah di masjid, bahkan yang lebih parah kalau sampai meninggalkan shalat fardhu. Ketika acara dimulai ba’da shalat Isya’ misalnya, sejak sore banyak yang sudah stand by di tempat acara. Mulai dari penjual-penjual dengan aneka barang dagangannya, pengunjung acara, sampai panitia acara pun, mereka lebih memilih berada di ‘pos-pos’ mereka daripada masjid ketika dikumandangkannya adzan maghrib dan isya’. Wal ‘iyadzubillah.

Semestinya umat ini dibimbing untuk kembali kepada agamanya. Mereka sangat antusias menyambut dan menghadiri acara peringatan Isra’ Mi’raj, namun mereka belum memahami hikmah dan pelajaran yang terkandung di dalamnya. Sebuah peristiwa dan mu’jizat besar yang saat itulah kewajiban shalat lima waktu ini diberlakukan kepada umat Islam. Suatu musibah jika salah satu rukun Islam ini dilalaikan hanya karena ingin ‘menyukseskan’ acara yang sudah pasti menelan biaya yang tidak sedikit tersebut.

Kalau masih ada yang beranggapan bahwa perayaan untuk memperingati Isra’ Mi’raj itu adalah baik, maka katakan sebagaimana kata Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah:

مَن ابْتَدَعَ في الإِسلام بدعة يَراها حَسَنة ؛ فَقَدْ زَعَمَ أَن مُحمّدا – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- خانَ الرّسالةَ ؛ لأَن اللهَ يقولُ : { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ } فما لَم يَكُنْ يَوْمَئذ دينا فَلا يكُونُ اليَوْمَ دينا

“Barangsiapa yang mengadaka-adakan kebid’ahan dalam agama Islam ini, dan dia memandang itu baik, maka sungguh dia telah menyatakan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah berkhianat dalam menyampaikan risalah, karena Allah telah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

(Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian), maka segala sesuatu yang pada hari (ketika ayat ini diturunkan) itu bukan bagian dari agama, maka pada hari ini pun juga bukan bagian dari agama.”

Kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala hidayah untuk senantiasa berpegang teguh dengan Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, sampai akhir hayat nanti. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=594 atau http://www.mediasalaf.com/aqidah/hukum-merayakan-peringatan-isra%E2%80%99-mi%E2%80%99raj/

 

About these ads

62 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. sebaiknya nte banyak baca buku atau kitab2 ahli sunnah,jangan baca kitabnya orang wahabi..yg di bahas bid’ah saja..kita lihat ada berapa pembagian bid’ah itu..bukan nya seluruh bid’ah itu menuju kesayyiah..di situ banyak yg mengarahkan ke bid’ah hasanah..tidak bisa kita su uddhan ke pada yg di jalankan oleh ulamak kita…

    ahmad

    June 10, 2012 at 10:42

    • sebaiknya nte banyak baca buku atau kitab2 ahli sunnah,jangan baca kitabnya orang tarekat sufi..yg diamalkan bid’ahnya saja..(yg sunnah malah ditinggalkan). kita lihat bahwa semua bid’ah (dalam masalah agama) adalah sayyiah..di situ tidak ada tempat untuk bid’ah hasanah..

  2. Coba adakan forum diskusi secara langsung!!!!
    1. Apa yang di sebut dengan bid’ah?
    2. Apakah semua yang tidak dilakukan Rosul itu adalah bid’ah sayyiah?
    3. Keluarkan semua dalil Aqli dan Naqlinya tentang bid’ah!!!
    Jangan suka menjelekan orang lain tapi kita cari solusi untuk mencari kebenaran!!!!

    Iman Togiri

    June 9, 2012 at 19:31

  3. Sebaiknya bapak banyak membaca buku biar gak sempit pemahamannya. Sehingga tidak gampang membid’ahkan orang lain. Semoga Allah meluaskan hati sampeyan.

    saleh

    June 9, 2012 at 09:32

  4. Reblogged this on Abughifariaang2009's Blog.

    abughifariaang2009

    June 7, 2012 at 13:32

  5. Kang …. antum coba renungi tentang al Qur’an apakah diperintah rosul untuk dibukukan yang sekarang menjadi bacaan ibadah. apa nabi contohkan, perintahkan ? Nabi itu banyak yang lebih penting diurus untuk islam, kalau memperingati isro’ mi’roj dipandang bid’ah sesat padahal isinya ta’lim, taujih, tilawah. kalau model antum seperti ini maka antum menutup jalan kebaikan. camkan !!! mereka yang memperingati tidak juga mewajibkan. apa sih yang anda inginkan kecuali menutup pintu manusia mencari jalan kebenaran… yahdikallah……!!!!!

    fath

    June 7, 2012 at 09:37

  6. Saya melihat dr komen2 temen2 yg tdk rela peringatan isro’ mi’roj di BID’AH kan..sama sekali tdk memberikan dalil2 al-quran dan sunnah..tp saya melihat dari penulis diatas ini cukup gamblang memaparkan perkataan ulama2 terdahulu.walaupun saya orang yg merayakan mauludan isro’ mi’roj dll..tp dengan perkataan2 ulama diatas cukup untuk membuka mata saya..jangan suka mengatan orang itu bodoh,karna tidak ada orang pintar yg suka ngebodohin orang…hanya org BODOH yg suka ngebodohin org..ayo teman2 dalil patah kan dengan dalil..sebuah kaidah usul fiqh yg pernah saya dengar : org yg menetapkan sesuatu dia harus membawakan dalil..
    Klo ada org menuduh saya maling maka org itu harus menunjukan bukti.

    alghumari

    June 3, 2012 at 20:00

  7. persolan ini bukan dilihat dari dampk yang ditimbulkan tapi semangat silaturahim danpemberian makan ke orang lain, sekaligus mengingatsejarah rsullah yang akan mengmbalikan motivsi untuk kita meningkatkan ubudiah kita kpd Allah SWT , GTU LOO

    defkan

    June 3, 2012 at 16:49

  8. manusia kok kesenangannya bid’ahin orang yang beribadah.. goblok pancene…

    muhammad subhan

    June 2, 2012 at 12:06

  9. kalau kamu pernah hidup pd masa Rosululloh saw, baru sy percaya kamu ngomong bid’ah, kl masih seumuran saya…ya jgn banyak bilang bid’ah lah, ok.

    memen

    June 1, 2012 at 19:03

  10. untuk menilai bid’ah tidaknya suatu amalan janganlah dengan pemikiran yang picik. Menuntut ilmu atau mengajarkan ilmu agama jelas-jelas itu dicontohkan oleh Baginda Rosululloh SAW. Cuma mungkin yang jadi permasalahan itu merknya. Kalau yang picik kan melihat dari merk bukan dari isi. Di kita pengajian banyak merknya bung. Kalau pengajian diadakan seminggu sekali disebut mingguan, kalau sebulan sekali disebut bulanan, kalau menghadapi bulan rabiul awwal disebut muludan karena berhubungan dengan kelahiran nabi. memang Rosul SAW tidak pernah menganjurkan mingguan, bulanan, muludan atau rajaban itu cuma merk aja insya Alloh itu isinya yakni pengajian itu dianjurkan oleh Rosul SAW. yang jelas bid’ah apabila isi tidak dicontohkan oleh Rosul SAW seperti misalnya dalam acara mingguan, bulanan atau mengenang kelahiran Nabi atau mengenang Isro itu bukan di isi dengan pengajian tapi dengan pesta, minum khamr dan lain-lian yang tidak dicontohkan oleh Rosul SAW. Bersihkanlah hati jangan su’udzon. setiap amal tergantung pada niat dan niat berada dalam hati dan Alloh sendiri yang berhak menilai bukan ente. Masa orang yang mengadakan pengajian disebut Ahlil bid’ah karena merknya padahal isinya ada amar ma’ruf nahi munkar, ada ajakan pada jalan yang benar. Tapi yang jelas ahli bid’ah orang yang melarang pengajian karena bukan hanya tidak dicontohkan oleh Baginda Rosul tapi juga bertentangan dengan ajaran beliau. Kadang saya suka heran orang suka menilai bid’ah dengan sendirinya nggak mengerti apa bid’ah itu dan akhirnya diri sendiri terjebak pada perbuatan syirik. coba ente pelajari Al-Qur-an dengan benar saya kasih satu contoh saja dulu Surat Ar-Rum ayat 31-32 itu saja dulu. Marilah kita satukan barisan dan janganlah bercerai berai. anda jalani ibadah sesuai dengan kemampuan dan keilmuan yang anda miliki dan jangan memaksakan kehendak terhadap orang lain barang kali kita yang belum tahu jangan merasa sok lebih tahu. wassalam.

    IIM ABDUROHIM

    June 1, 2012 at 10:29

  11. Kalau anda tidak percaya degn isro’ mi’roj, gak usah mnyebarkan Virus Keragu2an seperti itu, Kami juga bsa memutar balik masalah, tetapi itu bukan cara orang islam, ( Isro’ Mi’raj itu Benar terjadi, dan orang yg mengingatnya adalah suatu kebaikan, apalgi yg di isi dgn Ceramah Tentang Agaama). Jangan kan memperingati Isro’ kalo smpai meninggalkan Sholt, Ngaji/mendalami agama sambil meninggalkan Sholat itu juga Dosa, apa yg menurut anda benar belum tentu menurut orang lain benar..

    h.m.zainul

    May 31, 2012 at 05:39

  12. sejarah isra miraj……………………………………………………..di hormati n di peringati semua org muslim

    ahmad masrifat

    May 29, 2012 at 22:10

  13. salah satu hadis mengatakan , orang yang mencintai sesuatu, akan banyak mengingatnya…..begitu juga kita yang mengaku umat nabi Muhammad, tentu akan banyak mengingat beliau…termasuk memperingati iseo miroj

    cengoo

    May 29, 2012 at 20:12

  14. [...] Benarkah Isra’ Mi’raj pada 27 Rajab? [...]

  15. komputer, hp, mobil, jelas-jelas bukan bid’ah. bid’ah itu dalam urusan ibadah khusus. sekalipun baik menurut manusia tetap ga boleh. contoh shalat subuh 4 rakaat nda ada jeleknya tapi itu salah. adzan sebelum shalat hari raya baik tapi salah

    Sabikhun, Pejogol, RT 06/01 Cilongok, Banyumas Jawa tengah

    May 25, 2012 at 10:02


Bagaimana menurut Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s