طبيب الطب النبوي Dokter Pengobatan Nabawi

Islam, Hukum, Sholat, Tatacara

HUKUM MENGKHUSUSKAN BERJABAT TANGAN/BERSALAMAN SETELAH SELESAI SHALAT

with 19 comments


Hukum Islam: Berjabat Tangan setelah Sholat

 

Mengucapkan salam dan berjabat tangan kepada sesama Muslim adalah perkara yang terpuji dan disukai dalam Islam. Dengan perbuatan ini hati kaum Muslimin dapat saling bersatu dan berkasih sayang di antara mereka. Sunnah ini sudah lama diamalkan oleh para sahabat -radhiyallahu ‘anhum-. Qotadah berkata, “Aku bertanya kepada Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu-, “Apakah ada jabat tangan di kalangan sahabat Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-?” Anas berkata, “Ya, ada”.[HR. Al-Bukhoriy dalam Ash-Shohih (5908), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (2871), Ibnu Hibban (492), dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubra (13346)].

Sunnah ini dilakukan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , dan para sahabatnya ketika mereka bertemu dan berpisah. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا.

“Tidaklah dua orang muslim bertemu, lalu keduanya berjabatan tangan, kecuali akan diampuni keduanya sebelum berpisah”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (5212), At-Tirmidziy dalam As-Sunan (2727), Ahmad dalam Al-Musnad (4/289), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (3/32/no.2718)]

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا لَقِيَ الْمُؤْمِنَ وَأَخَذَ بِيَدِهِ فَصَافَحَهُ تَنَاثَرَتْ خَطَايَاهُمَا كَمَا يَتَنَاثَرُ وَرَقُ الشَّجَرُ.

“Sesungguhnya seorang mukmin jika bertemu dengan seorang mukmin, dan mengambil tangannya, lalu ia menjabatinya, maka akan berguguran dosa-dosanya sebagaimana daun pohon berguguran”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (245). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (no.2720)]

كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا تَلاَقَوْا تَصَافَحُوْا وَإِذَا قَدِمُوْا مِنْ سَفَرٍ تَعَانَقُوْا.

“Dulu para sahabat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, apabila mereka bertemu, maka mereka berjabatan tangan. Jika mereka datang dari safar, maka mereka berpelukan”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath. Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (2719)]

Namun apa yang terjadi jika perbuatan terpuji ini dilakukan tidak pada tempat yang semestinya?! Tidak ada kebaikan yang didapat, bahkan pelanggaran syari’atlah yang terjadi, dan perpecahan, karena ada sebagian jama’ah, jika selesai sholat, ia langsung menjabati (tangan, -ed.) orang. Jika tidak dilayani jabatan, maka ia marah, dan jengkel kepada saudaranya yang tak mau jabatan setelah sholat.

Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al-Jibrin-hafizhohullah- berkata, “Mayoritas orang yang shalat mengulurkan tangan mereka untuk berjabat tangan dengan orang di sampingnya setelah salam dari shalat fardlu dan mereka berdoa dengan ucapan mereka ‘taqabbalallah’. Perkara ini adalah bid’ah yang tidak pernah dinukil dari Salaf”. [Lihat Majalah Al-Mujtama’ (no. 855)].

Bagaimana mereka melakukan hal itu sedangkan para peneliti dari kalangan ulama telah menukil bahwa jabat tangan dengan tata cara tersebut (setelah salam dari shalat) adalah bid’ah? Suatu perbuatan yang tak ada contohnya dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , dan para sahabatnya. Tragisnya lagi, jika ada diantara kaum muslimin yang menganggap jabat tangan sebagai sunnah, apalagi wajib, sehingga mereka membenci saudaranya yang tak mau berjabatan tangan habis sholat dengan berbagai macam dalih, bahwa yang tidak berjabat tangan menganggap orang lain najis, benci kepada saudaranya, tidak ada rasa ukhuwahnya, dan kekompakan, serta anggapan dan buruk sangka lainnya. Padahal saudaranya tidak mau berjabatan tangan usai sholat karena ia tahu hal ini tak ada contoh jika dilakukan habis sholat, bahkan itu merupakan bid’ah. Bukan karena benci !!!

Al ‘Izz bin Abdus Salam Asy-Syafi’iy (ulama abad pertengahan, -ed.) -rahimahullah- berkata, “Jabat tangan setelah shalat Shubuh dan Ashar termasuk bid’ah, kecuali bagi yang baru datang dan bertemu dengan orang yang menjabat tangannya sebelum shalat. Maka sesungguhnya jabat tangan disyaratkan tatkala datang. Nabi Shallallahu ‘ Alaihi Wa Sallam berdzikir setelah shalat dengan dzikir-dzikir yang disyariatkan dan beristighfar tiga kali kemudian berpaling. Diriwayatkan bahwa beliau berdzikir:

رَبِّ قِِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ

“Wahai Rabbku, jagalah saya dari adzab-Mu pada hari Engkau bangkitkan hamba-Mu.” [HR. Muslim 62, Tirmidzi 3398 dan 3399, dan Ahmad dalam Al-Musnad (4/290)]. Kebaikan seluruhnya adalah dalam mengikuti Rasul”.

[Lihat Fatawa Al ‘Izz bin Abdus Salam (hal.46-47), dan Al-Majmu’ (3/488)].

Apabila bid’ah ini di masa penulis terbatas setelah dua shalat tersebut, maka sungguh di jaman kita ini, hal itu telah terjadi pada seluruh shalat. Laa haula wala quwwata illa billah.

Al Luknawiy -rahimahullah- berkata, “Sungguh telah tersebar dua perkara di masa kita ini pada mayoritas negeri, khususnya di negeri-negeri yang menjadi lahan subur berbagai bid’ah dan fitnah.

Pertama, mereka tidak mengucapkan salam ketika masuk masjid waktu shalat Shubuh, bahkan mereka masuk dan shalat sunnah kemudian shalat fardlu. Lalu sebagian mereka mengucapkan salam atas sebagian yang lain setelah shalat dan seterusnya. Hal ini adalah perkara yang jelek karena sesungguhnya salam hanya disunnahkan tatkala bertemu sebagaimana telah ditetapkan dalam riwayat-riwayat yang shahih, bukan tatkala telah duduk.

Kedua, mereka berjabat tangan setelah selesai shalat Shubuh, Ashar, dan dua hari raya, serta shalat Jum’at. Padahal pensyariatan jabat tangan juga hanya di saat awal bersua”.

[Lihat As-Si’ayah fil-Kasyf Amma fi Syarh Al-Wiqayah (hal. 264)].

Dari perkataan beliau dapat dipahami bahwa jabat tangan antara dua orang atau lebih yang belum berjumpa sebelumnya tidak ada masalah. Muhaddits Negeri Syam, Syaikh Al Albaniy -rahimahullah- berkata dalam As-Silsilah As-Shahihah (1/1/53), “Adapun jabat tangan setelah shalat adalah bid’ah yang tidak ada keraguan padanya, kecuali antara dua orang yang belum berjumpa sebelumnya. Maka hal itu adalah sunnah sebagaimana Anda telah ketahui”.

Larangan berjabat tangan setelah melaksanakan sholat merupakan perkara yang dilarang oleh para ulama’. Oleh karena itu, sebuah kesalah besar, jika di antara kaum muslimin yang membenci saudaranya jika tidak melayaninya berjabatan tangan, dan menganggapnya pembawa aliran sesat. Padahal mereka yang tak mau berjabatan tangan saat usai sholat memiliki sandaran dari Al-Kitab dan Sunnah, serta ucapan para ulama’.

Al-Allamah Al-Luknawiy-rahimahullah- berkata, “Di antara yang melarang perbuatan itu (jabat tangan setelah sholat), Ibnu Hajar Al-Haitamiy As-Syafi’iy, Quthbuddin bin Ala’uddin Al-Makkiy Al-Hanafiy, dan Al-Fadhil Ar-Rumiy dalam Majalis Al-Abrar menggolongkannya termasuk dari bid’ah yang jelek ketika beliau berkata, “Berjabat tangan adalah baik saat bertemu. Adapun selain saat bertemu misalnya keadaan setelah shalat Jum’at dan dua hari raya sebagaimana kebiasaan di jaman kita adalah perbuatan tanpa landasan hadits dan dalil! Padahal telah diuraikan pada tempatnya bahwa tidak ada dalil berarti tertolak dan tidak boleh taklid padanya.” [Lihat As-Si’ayah fil Kasyf Amma fi Syarh Al-Wiqayah (hal. 264), Ad-Dienul Al-Khalish (4/314), Al-Madkhal (2/84), dan As-Sunan wa Al-Mubtada’at (hal. 72 dan 87)].

Beliau juga berkata, “Sesungguhnya ahli fiqih dari kelompok Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Malikiyah menyatakan dengan tegas tentang makruh dan bid’ahnya.” Beliau berkata dalam Al Multaqath ,“Makruh (tidak disukai) jabat tangan setelah shalat dalam segala hal karena shahabat tidak saling berjabat tangan setelah shalat dan bahwasanya perbuatan itu termasuk kebiasaan-kebiasaan Rafidhah.” Ibnu Hajar, seorang ulama Syafi’iyah berkata, “Apa yang dikerjakan oleh manusia berupa jabat tangan setelah shalat lima waktu adalah perkara yang dibenci, tidak ada asalnya dalam syariat.” Alangkah fasihnya perkataan beliau –rahimahullah Ta’ala- dari ijtihad dan ikhtiarnya. Beliau berkata, “Pendapat saya, sesungguhnya mereka telah sepakat bahwa jabat tangan (setelah shalat) ini tidak ada asalnya dari syariat. Kemudian mereka berselisih tentang makruh atau mubah. Suatu masalah yang berputar antara makruh dan mubah harus difatwakan untuk melarangnya, karena menolak mudlarat lebih utama daripada menarik maslahah. Lalu kenapa dilakukan padahal tidak ada keutamaan mengerjakan perkara yang mubah? Sementara orang-orang yang melakukannya di jaman kita menganggapnya sebagai perkara yang baik, menjelek-jelekkan dengan sangat orang yang melarangnya, dan mereka terus-menerus dalam perkara itu. Padahal terus-menerus dalam perkara mandub (sunnah) jika berlebihan akan menghantarkan pada batas makruh. Lalu bagaimana jika terus-menerus dalam bid’ah yang tidak ada asalnya dalam syariat?!Berdasarkan atas hal ini, maka tidak diragukan lagi makruhnya. Inilah maksud orang yang memfatwakan makruhnya. Di samping itu pemakruhan hanyalah dinukil oleh orang yang menukilnya dari pernyataan-pernyataan ulama terdahulu dan para ahli fatwa. Maka riwayat-riwayat penulis Jam’ul Barakat, Siraj Al Munir, dan Mathalib Al Mu’minin, mampu menandinginya, karena kelonggaran penulisnya dalam meneliti riwayat-riwayat telah terbukti. Telah diketahui oleh Jumhur Ulama bahwa mereka mengumpulkan segala yang basah dan kering (yang jelas dan yang samar). Yang lebih mengherankan lagi ialah penulis Khazanah Ar Riwayah tatkala ia berkata dalam Aqd Al-La’ali, [“Dia (Nabi) ‘Alaihis Salam berkata, “Jabat tanganlah kalian setelah shalat Shubuh, niscaya Allah akan menetapkan bagi kalian sepuluh (kebaikan)”.] Rasul Shallallahu ‘ Alaihi Wa Sallam bersabda, [“Berjabat tanganlah kalian setelah shalat Ashar, niscaya kalian akan dibalas dengan rahmah dan pengampunan”.] Sementara dia tidak memahami bahwa kedua hadits ini dan yang semisalnya adalah palsu yang dibuat-buat oleh orang-orang yang berjabat tangan itu. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.[Lihat As-Si’ayah fil Kasyf Amma fi Syarh Al Wiqayah (hal. 265)]

Terakhir, kami perlu ingatkan bahwa tidak boleh bagi seorang Muslim memutuskan tasbih (dzikir) saudaranya yang Muslim, kecuali dengan sebab syar’i. Yang kami saksikan berupa adanya gangguan terhadap kaum Muslimin ketika mereka melaksanakan dzikir-dzikir sunnah setelah shalat wajib. Kemudian, tiba-tiba mereka mengulurkan tangan untuk berjabat tangan ke kanan dan ke kiri dan seterusnya. Akhirnya, memaksa mereka tidak tenang dan terganggu, bukan hanya karena jabat tangan, akan tetapi karena memutuskan tasbih dan mengganggu mereka dari dzikir kepada Allah, karena jabat tangan ini, padahal tidak ada sebab-sebab perjumpaan dan semisalnya.

Jika permasalahannya demikian, maka bukanlah termasuk hikmah, jika Anda menarik tangan Anda dari tangan orang di samping Anda, dan menolak tangan yang terulur pada Anda. Karena sesungguhnya ini adalah sikap yang kasar yang tidak dikenal dalam Islam. Akan tetapi ambillah tangannya dengan lemah lembut dan jelaskan kepadanya kebid’ahan jabat tangan ini yang diada-adakan manusia.

Betapa banyak orang yang terpikat dengan nasihat dan dia orang yang pantas dinasihati. Hanya saja ketidaktahuan telah menjerumuskannya kepada perbuatan menyelisihi sunnah. Maka wajib atas ulama dan penuntut ilmu menjelaskannya dengan baik. Bisa jadi seseorang atau penuntut ilmu bermaksud mengingkari kemungkaran, tetapi tidak tepat memilih metode yang selamat. Maka dia terjerumus dalam kemungkaran yang lebih besar daripada yang diingkari sebelumnya. Maka lemah lembutlah wahai da’i-da’i Islam.

Buatlah manusia mencintai kalian dengan akhlak yang baik, niscaya kalian akan menguasai hati mereka dan kalian mendapati telinga yang mendengar dan hati yang penuh perhatian dari mereka. Karena tabiat manusia adalah lari dari kekasaran dan kekerasan.

[Lihat Tamam Al-Kalam fi Bid’ah Al-Mushafahah ba’da As-Salam (hal. 23), Al-Qaulul Mubin fi Akhtha’il-Mushallin (295)]

Sumber: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 04 Tahun I. Penerbit: Pustaka Ibnu Abbas. Alamat: Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP: 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab: Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi: Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh: Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout: Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan hubungi alamat di atas. (infaq Rp. 200,-/exp)

http://almakassari.com/ dan http://darussalam.wordpress.com/2009/11/15/hukum-islam-berjabat-tangan-setelah-sholat/

 

jawaban komentar

Asslamu’alikum.
mas,,,, gimana islam mu bersatu…. ini idonesia lo…. bukan Arab …. ”
inget,,,, Kita semua keluarga,,,, 5 umat beragama.
inget mas orang barat udah nyampek BUlan.
indonesia ,, masih debat soal aGama….
biarin aja mas… soal bid’adh2 itu toh mereka yang dapet dosa. yang penting sampean gak ngelakuin.
mas…. mas tau gak ini akal-akalan orang yahudi n nasrani buat memperpecah umat islam… setelah umat islam terpecah2 dengan mudah mereka… menghancurkan islam. nabi sebelum wafat sudah perdah dawu atau ngendiko,,,,, islam akan terpecah menjadi 74 apa 72 ya itu,,,, pokoknya gitu deh…. yang akan masuk surga,,, cuma yang ahli sunah wal jama’ah. (semua golongan ngaku ahlisunah wal jama’ah mas) semua orang ngaku bahwa di paling bener. namanya keyakinan yang sudah melekat di hati sussah dirubah,,, walaupun sampai ajal mendekaqt kecuali dnegan izin Allah SWT. Apa mamas tau,,, Mamas Bkal MAsuk Surga? tanpa di hisab, tanpa dosa. Mas KEBENARAN itu hanya milik Allah semata. kita sebagai manusia hanya bisa taat kepada Allah dan menjauhi segala larangannya?… Mas,,,,…inget. hidup 1 kali. kenapaa si kita harus berdebat-dan terus berdebat, kita satu Islam. Satu Tuhin Allah…. Perbedaan adalah rahmat Allah. suatu hari nanti kebenaran pasti akan dibukakan oleh Allah. saya yakin….. Orang itu masuk surgak itu karena RahmatNya Allah bukan karena ibadahnya, mas kalau kita hitung-hitung nikmatnya Allah yang telah kita terima gak bakal kuat mbales cuma dengan kita beribadah. ilmu itu tidah hanya membaca buku tetapi juga… dari membaca alam, tingkahlaku, itu yang namanaya ayat mutasyabihat ayat yang diberikan khusus untuh orang tertentu untuk menambah ketaqwaan kita kepada Allah. mas lebih baik kita bersatu, memikirkan islam, lihat PALESTINA, GAZA, gimana nasibnya, sedangkan kita hanya bisa ngeributin paham sendiri-sendiri. Santai aja mas, ya saya cuma anak kecil yang baru belajar, maen di internet, tentunya saya lebih bodoh dari pada sampean. Islam itu Rohmatallil alamin, penyebab islam bisa dengan mudah di terima di indonesia itu LUWES. gak aneh2. perubahan itu membutuhkan waktu, gimana bisa berubah, kalok di ejek ejek terus. saya ini lebiih bodoh dari pada ma-mas. Waullahu’alam bishowab. Wassalamu’alaiku Warohmatullahi Wabara katuh. Thanks for you attendsion. Reaply ya mas….

  • Asslamu’alikum.
    =Wa’alaikumussalam

    mas,,,, gimana islam mu bersatu…. ini idonesia lo…. bukan Arab …. ”
    =Emang beda ya Islam Indonesia sama Islam Arab?

    inget,,,, Kita semua keluarga,,,, 5 umat beragama.
    =Kita kan kenalan aja belum, bagaimana saya bisa tahu kita ni sekeluarga?

    inget mas orang barat udah nyampek BUlan.

    =Emang bener orang Barat dah sampai ke bulan? Jarang lihat TV ya? Ada tu dokumenter yang membantah Amerika tu dah mendaratkan orangnya ke bulan. Lagipula gak penting kok sampai ke bulan. Yang penting sampai ke surga. Mereka yang sampai ke bulan gak punya jaminan masuk surga kan?

    indonesia ,, masih debat soal aGama….
    =Mau debat apa kalau bukan agama, mau debat cicak vs buaya?

    biarin aja mas… soal bid’adh2 itu toh mereka yang dapet dosa. yang penting sampean gak ngelakuin.
    =Amar makruf nahi munkar dik

    mas…. mas tau gak ini akal-akalan orang yahudi n nasrani buat memperpecah umat islam…
    =Akalnya mereka pinter pa? Apa Anda lebih pinter dari mereka, kok tahu rahasia akal-akal mereka? Beritahu kita-kita dong, apa aja akal-akalan orang kafir2 itu! Kita kan amar makruf dik. Jadi kita menjalankan agama. Yang memecah belah tu yang amar munkar itu.

    setelah umat islam terpecah2 dengan mudah mereka… menghancurkan islam. nabi sebelum wafat sudah perdah dawu atau ngendiko,,,,, islam akan terpecah menjadi 74 apa 72 ya itu,,,, pokoknya gitu deh…. yang akan masuk surga,,, cuma yang ahli sunah wal jama’ah. (semua golongan ngaku ahlisunah wal jama’ah mas) semua orang ngaku bahwa di paling bener.
    =Anda ahlussunnah bukan?

    namanya keyakinan yang sudah melekat di hati sussah dirubah,,, walaupun sampai ajal mendekaqt kecuali dnegan izin Allah SWT.
    =Kalau Anda yakin benar, ya bela tu kebenaran. Kalau salah ya segera saja ubah keyakinan Anda sebelum ajal menjemput

    Apa mamas tau,,, Mamas Bkal MAsuk Surga? tanpa di hisab, tanpa dosa. Mas KEBENARAN itu hanya milik Allah semata.
    =Islam tu kebenaran. Ya kan?

    kita sebagai manusia hanya bisa taat kepada Allah dan menjauhi segala larangannya?…
    =Larangan Allah tu termasuk: syirik, bid’ah, maksiat, khurofat, takhayul, ramalan bintang, bohong, menipu, dst. Kita amar makruf nahi munkar lah.

    Mas,,,,…inget. hidup 1 kali. kenapaa si kita harus berdebat-dan terus berdebat, kita satu Islam. Satu Tuhin Allah…. Perbedaan adalah rahmat Allah. suatu hari nanti kebenaran pasti akan dibukakan oleh Allah.
    =Kalau saya salah, dan kalau artikel itu salah, silakan diluruskan. Anda mau amar makruf

    saya yakin….. Orang itu masuk surga itu karena RahmatNya Allah bukan karena ibadahnya, mas kalau kita hitung-hitung nikmatnya Allah yang telah kita terima gak bakal kuat mbales cuma dengan kita beribadah. ilmu itu tidah hanya membaca buku tetapi juga… dari membaca alam, tingkahlaku, itu yang namanaya ayat mutasyabihat ayat yang diberikan khusus untuh orang tertentu untuk menambah ketaqwaan kita kepada Allah.
    =Kita ibadah tu untuk cari rahmat Allah. Kalau gak mau ibadah tu kafir namanya.

    mas lebih baik kita bersatu, memikirkan islam, lihat PALESTINA, GAZA, gimana nasibnya, sedangkan kita hanya bisa ngeributin paham sendiri-sendiri.
    =Saya juga dah dulu bgt mikir tu Palestin, tapi apa HAMAS tu mikir. Mereka tu menyerang Yahudi sepihak, gak bersatu sama pemerintah Palestina, akibatnya Yahudi tu pakai itu sebagai alasan tuk terus membalas. Rakyat yang jadi korbannya.

    Santai aja mas, ya saya cuma anak kecil yang baru belajar, maen di internet, tentunya saya lebih bodoh dari pada sampean.
    =Kalau Anda merasa lebih bodoh dari saya, silakan belajar pada saya. Tapi mending belajar pada ustadz2 yang lebih ahli, biar lebih pinter dari saya.

    Islam itu Rohmatallil alamin, penyebab islam bisa dengan mudah di terima di indonesia itu LUWES. gak aneh2. perubahan itu membutuhkan waktu, gimana bisa berubah, kalok di ejek ejek terus.
    =Maaf ya, baru kenal juga. Kalau artikel di atas ya hubungi redaksi/penulisnya aja langsung.

    saya ini lebiih bodoh dari pada ma-mas. Waullahu’alam bishowab. Wassalamu’alaiku Warohmatullahi Wabara katuh. Thanks for you attendsion. Reaply ya mas….
    =Ya, wassalamu ‘alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh.

About these ads

19 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. carilah hal sebenar-benarnya, gunakan saksi-saksi..karena sunnah bila sudah ditinggalkan berarti kiamat akan datang.

    hamba allah

    August 10, 2012 at 08:56


Bagaimana menurut Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s