طبيب الطب النبوي Dokter Pengobatan Nabawi

Islam, Hukum, Sholat, Tatacara

(BAGUS) ILMU & HAKIKAT “TASAWUF” DALAM ISLAM : Definisi/Pengertian Tasawuf & Sufi, Sejarah “Tasawuf Modern” | Benarkah yang pertama menyampaikan “Ajaran Tasawuf” adalah ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘anhu dan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah?

with 85 comments


Mewaspadai Sufi

Penulis : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc

Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Seandainya seorang menjadi sufi (bertasawwuf) di pagi hari, niscaya sebelum datang waktu Zhuhur, engkau tidak dapati dirinya, kecuali menjadi orang bodoh”. (al-Manaqib lil Baihaqi 2/207)

Sejarah Munculnya Tasawuf dan Sufi

Tasawuf (تَصَوُّف) diidentikkan dengan sikap berlebihan dalam beribadah, zuhud dan wara’ terhadap dunia. Pelakunya disebut Shufi (selanjutnya ditulis Sufi menurut ejaan yang lazim, red) (صُوْفِيٌّ), dan jamaknya adalah Sufiyyah (صُوْفِيَّةٌ). Istilah ini sesungguhnya tidak masyhur di jaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, shahabat-shahabatnya, dan para tabi’in. Sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Adapun lafadz Sufiyyah bukanlah lafadz yang masyhur pada tiga abad pertama Islam. Dan setelah masa itu, penyebutannya menjadi masyhur.” (Majmu’ Fatawa, 11/5)

Bashrah, sebuah kota di Irak, merupakan tempat kelahiran Tasawuf dan Sufi. Di mana sebagian ahli ibadahnya mulai berlebihan dalam beribadah, zuhud, dan wara’ terhadap dunia (dengan cara yang belum pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam), hingga akhirnya memilih untuk mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (Shuf/صُوْفٌ ).

Meski kelompok ini tidak mewajibkan tarekatnya dengan pakaian semacam itu, namun atas dasar inilah mereka disebut dengan “Sufi”, sebagai nisbat kepada Shuf (صُوْفٌ). Jadi, lafadz Sufi bukanlah nisbat kepada Ahlush Shuffah yang ada di jaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, karena nisbat kepadanya adalah Shuffi (صُفِّيٌ). Bukan pula nisbat kepada shaf terdepan di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta’ala , karena nisbat kepadanya adalah Shaffi (صَفِّيٌ).
Demikian juga bukan nisbat kepada makhluk pilihan Allah
الصَّفْوَةُ مِنْ خَلْقِ اللهِ

karena nisbat adalah Shafawi ز(صَفَوِيٌّ) . Dan bukan pula nisbat kepada Shufah bin Bisyr (salah satu suku Arab) meski secara lafadz bisa dibenarkan. Namun secara makna sangatlah lemah, karena antara suku tersebut dengan kelompok Sufi tidak berkaitan sama sekali.
Para ulama Bashrah yang mengalami masa kemunculan kelompok sufi, tidaklah tinggal diam. Sebagaimana diriwayatkan Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani rahimahullah dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirin rahimahullah, bahwasanya telah sampai kepadanya berita tentang orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba. Maka beliau berkata: “Sesungguhnya ada orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba dengan alasan untuk meneladani Al-Masih bin Maryam! Maka petunjuk Nabi kita lebih kita cintai, beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam biasa mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan katun, dan yang selainnya.” (Diringkas dari Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 5, 6, 16)
Asy-Syaikh Muhammad Aman bin ‘Ali Al-Jami rahimahullah berkata: “Demikianlah munculnya jahiliah Tasawuf, dan dari kota inilah (Bashrah) ia tersebar.” (At-Tasawuf Min Shuwaril Jahiliah, hal. 5)

Siapakah Peletak Ilmu Tasawuf?

Ibnu ‘Ajibah, seorang Sufi Fathimi, mengklaim bahwa peletak ilmu Tasawuf adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam sendiri. Beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam, menurut Ibnu ‘Ajibah, mendapatkannya dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala melalui wahyu dan ilham. Kemudian Ibnu ‘Ajibah berbicara panjang lebar tentang hal ini dengan sekian banyak bumbu keanehan dan kedustaan, yaitu: “Jibril pertama kali turun kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan membawa ilmu syariat. Dan ketika ilmu itu telah mantap, maka turunlah ia untuk kedua kalinya dengan membawa ilmu hakikat. Beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam pun mengajarkan ilmu hakikat ini pada orang-orang khusus saja. Dan yang pertama kali menyampaikan Tasawuf adalah ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘anhu, dan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menimba darinya.” (Iqazhul Himam Fi Syarhil Hikam, hal. 5 dinukil dari At-Tasawuf Min Shuwaril Jahiliyah, hal. 8)

Asy-Syaikh Muhammad Aman bin ‘Ali Al-Jami rahimahullah berkata: “Perkataan Ibnu ‘Ajibah ini merupakan tuduhan keji lagi lancang terhadap Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dengan kedustaan, ia telah menuduh bahwa beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam menyembunyikan kebenaran. Dan tidaklah seseorang menuduh Nabi dengan tuduhan tersebut, kecuali seorang zindiq yang keluar dari Islam dan berusaha untuk memalingkan manusia dari Islam jika ia mampu. Karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah perintahkan Rasul-Nya Shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk menyampaikan kebenaran tersebut dalam firman-Nya :
يَآءَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَآ أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِن رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَه

“Wahai Rasul sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu oleh Rabbmu. Dan jika engkau tidak melakukannya, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.” (Al Maidah: 67)
Beliau juga berkata: “Adapun pengkhususan Ahlul Bait dengan sesuatu dari ilmu dan agama, maka ini merupakan pemikiran yang diwarisi orang-orang Sufi dari pemimpin-pemimpin mereka (Syi’ah). Dan benar-benar ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘anhu sendiri yang membantahnya, sebagaimana diriwayatkan Al-Imam Muslim rahimahullah dari hadits Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah .

Ia berkata: “Suatu saat aku pernah berada di sisi ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘anhu. Maka datanglah seorang laki-laki seraya berkata: ‘Apa yang pernah dirahasiakan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam kepadamu?’ Maka Ali pun marah lalu mengatakan: ‘Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam belum pernah merahasiakan sesuatu kepadaku yang tidak disampaikan kepada manusia! Hanya saja beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah memberitahukan kepadaku tentang empat perkara.’ Abu Thufail Radhiyallaahu ‘anhu berkata: ‘Apa empat perkara itu wahai Amirul Mukminin?’ Beliau menjawab: ‘Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “(Artinya) Allah melaknat seseorang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat seorang yang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat seorang yang melindungi pelaku kejahatan, dan Allah melaknat seorang yang mengubah tanda batas tanah’.” (At-Tasawuf Min Shuwaril Jahiliah, hal. 7-8)

Hakikat Tasawuf

Dari bahasan di atas, Tasawuf jelas bukan ajaran Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan bukan pula ilmu warisan dari ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘anhu. Lalu dari manakah ajaran Tasawuf ini?
Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata: “Ketika kita telusuri ajaran Sufi periode pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari lisan atau pun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka kita dapati sangat berbeda dengan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah. Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan para shahabatnya yang mulia lagi baik, yang mereka adalah makhluk-makhluk pilihan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala  di alam semesta ini. Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi, dan zuhud Budha.” (At-Tasawuf Al-Mansya’ Wal Mashadir, hal. 28)
Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Wakil rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Tasawuf merupakan tipu daya setan yang paling tercela lagi hina untuk menggiring hamba-hamba Allah Subhaanahu wa Ta’ala di dalam memerangi Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Sesungguhnya ia (Tasawuf) merupakan topeng bagi Majusi agar tampak sebagai seorang Rabbani, bahkan ia sebagai topeng bagi setiap musuh (Sufi) di dalam memerangi agama yang benar ini. Periksalah ajarannya! Niscaya engkau akan mendapati di dalamnya ajaran Brahma (Hindu), Buddha, Zaradisytiyyah, Manawiyyah, Dishaniyyah, Aplatoniyyah, Ghanushiyyah, Yahudi, Nashrani, dan Berhalaisme Jahiliyyah. (Muqaddimah kitab Mashra’ut Tasawuf, hal. 19)

Keterangan para ulama di atas menunjukkan bahwasanya ajaran Tasawuf bukanlah dari Islam. Bahkan ajaran ini merupakan kumpulan dari ajaran-ajaran sesat yang berusaha disusupkan ke tengah-tengah umat untuk menjauhkan mereka dari agama Islam yang benar.

Sumber : http://asysyariah.com/mewaspadai-sufi.html

 

Celaan Ulama terhadap Sufi

1. Celaan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu terhadap shufiyah.

Shufiyah bukanlah pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu. Di antara buktinya adalah banyaknya celaan dari Al-Imam Asy-Syafi’i dan lainnya terhadap mereka. Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullahu meriwayatkan dengan sanadnya sampai Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu:

“Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu.” Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu juga mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang shufi yang berakal. Seorang yang telah bersama kaum shufiyah selama 40 hari, tidak mungkin kembali akalnya.” Beliau juga berkata, “Azas (dasar shufiyah) adalah malas.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah lil Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu hal. 13-15)

Beliau menamai shufiyah dengan kaum zindiq. Kata beliau rahimahullahu, “Kami tinggalkan Baghdad dalam keadaan orang-orang zindiq telah membuat-buat bid’ah yang mereka namakan sama’ (nyanyian sufi, red.).” Asy-Syaikh Jamil Zainu berkata, “Orang-orang zindiq yang dimaksud Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu adalah kaum shufiyah.” (Lihat Shufiyah fi Mizan Al-Kitabi was Sunnah)

 

2. Celaan Al-Imam Malik rahimahullahu terhadap shufiyah

At-Tunisi mengatakan: Kami berada di sisi Al-Imam Malik, sedangkan murid-murid beliau di sekelilingnya. Seorang dari Nashibiyin berkata: “Di tempat kami ada satu kelompok disebut shufiyah. Mereka banyak makan, kemudian membaca qashidah dan berjoget.” Al-Imam Malik berkata,

“Apakah mereka anak-anak?” Orang tadi menjawab, “Bukan.” Beliau berkata, “Apakah mereka adalah orang-orang gila?” Orang tadi berkata, “Bukan, mereka adalah orang-orang tua yang berakal.” Al-Imam Malik berkata, “Aku tidak pernah mendengar seorang pemeluk Islam melakukan demikian.”

 

3. Celaan Al-Imam Ahmad rahimahullahu terhadap shufiyah

Beliau ditanya tentang apa yang dilakukan shufiyah berupa nasyid-nasyid dan qashidah yang mereka namakan sama’. Beliau berkata, “Itu adalah muhdats (perkara baru yang diada-adakan dalam Islam).” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah boleh kami duduk bersama mereka?” Beliau menjawab, “Janganlah kalian duduk bersama mereka.” Beliau berkata tentang Harits Al-Muhasibi –dia adalah tokoh shufiyah–, “Aku tidak pernah mendengar pembicaraan tentang masalah hakikat sesuatu seperti yang diucapkannya. Namun aku tidak membolehkan engkau berteman dengannya.”

 

4. Celaan Al-Imam Abu Zur’ah rahimahullahu terhadap shufiyah

 

Al-Hafizh berkata dalam Tahdzib: Al-Bardza’i berkata, “Abu Zur’ah ditanya tentang Harits Al-Muhasibi dan kitab-kitabnya. Beliau berkata kepada penanya, ‘Hati-hati kamu dari kitab-kitab ini, karena isinya kebid’ahan dan kesesatan. Engkau wajib berpegang dengan atsar, akan engkau dapati yang membuatmu tidak membutuhkan apapun dari kitab-kitabnya’.”

 

5. Celaan Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu terhadap shufiyah

Beliau berkata, “Aku telah menelaah keadaan shufiyah dan aku dapati kebanyakannya menyimpang dari syariat. Antara bodoh tentang syariat atau kebid’ahan dengan akal pikiran.”

 

6. Marwan bin Muhammad rahimahullahu berkata:

“Tiga golongan manusia yang tidak bisa dipercaya dalam masalah agama: shufi, qashash (tukang kisah), dan ahlul bid’ah yang membantah ahlul bid’ah lainnya.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah, hal.16-18)

Imam Syafi’i menamai shufiyah dengan kaum zindiq, beliau berkata : “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu.” Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu juga mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang shufi yang berakal. Seorang yang telah bersama kaum shufiyah selama 40 hari, tidak mungkin kembali akalnya.” Beliau juga berkata, “Azas (dasar shufiyah) adalah malas.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah lil Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu hal. 13-15)

 

About these ads

85 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. …xixixi…wahai saudaraku yg sesama muslimin,ber dzikir lah setiap waktu..hanya ini yg mampu aku tuliskan…ALLAHUMA SOLLI’ALLAH SYAYIDINAH MUHAMAD…..

    Sukmah Ayu

    November 13, 2012 at 06:34

  2. allah maha tau segala sesuatu,aku pasrahkan keyakinanku pada Dzat yg menciptakan kebenaran dan Tipuan,aku berlindung dari sgla apa yg di murkainya,sesungguhnya aku dan smw yg ada di alam smesta ini adalah bodoh,kecuali yg di kehendakiNYA.

    eko

    November 9, 2012 at 08:32

  3. debat yang ndak bermutu

    saeful sang gila

    October 28, 2012 at 12:47

  4. Maksud hati ingin mengajak kepada Kebenaran, tapi belum tahu pasti mana yang benar. Tiada gunanya perdebatan. Yang selamat hanyalah orang yang kembali dengan hati yang bersih (Qolbun Salim). Walaupun kita menang dalam perdebatan pintar berargumen cakap dalam berbicara, itu semua tidak berguna kalau belum mempunyai kebersihan jiwa dan kemuliaan Akhlaq, .

    afwan rusli

    October 26, 2012 at 17:40

  5. kebelinger ni orang kayanya….. mau saya sekolahkan lagi gak?

    ERWIN NURDIANSYAH

    October 26, 2012 at 17:34

  6. Jalan menuju Allah itu harus melewati beberapa tingkatan.Syariat, Thariqat, Hakikat, Ma’rifat.Sama dengan sekolah dimulai dari TK, SD, SMP, SMA,..Selanjutnya ente pikir sendiri aja lah…

    ADINDA

    October 24, 2012 at 02:43

  7. Alangkah baiknya kita tidak saling menyalahkan. tidak saling menghujat, yang ahirnya memecah belah umat islam. mari kita jgn berhenti belajar! agar kita bisa melihat dgn hati.

    Aditama Wijaya .B.

    October 23, 2012 at 08:24

  8. saudara saya belajar tasauf malah jadi stress? dimana salah ajarannya?

    Muryati

    October 17, 2012 at 23:40

  9. yg tau cukup diam saja.

    sirin rahimahullah

    October 17, 2012 at 11:19

  10. Jd dsni gan kita mbil ksimpulan saja, bahwa segala perbuatan&perkataan yg tidak pernah dlkukan oleh rasulullah SAW adalah haram tuk diikuti..ambillah ibadah prbuatan&perktaan yg rasulullah SAW kerjakan/lakukan.. Nabi muhammad mewarisi kpd umat’a hanya 2 pekara yaitu Al-Quran dan Al hadist,kerjakanlh 2 prkara tersebut akan selamat dunia&akhirat..dsni qt tdk prlu membahas sp yg masuk neraka&surga.. & rasulullah SAW pun tidak prnh melakukan segala perbuatan&perkataan seperti yg dllakukan oleh org2 sufi..memang itulah agama islam.. Dmn nnti’a agama islam itu akan dhancurkan/dperangi oleh org2 islam itu sendiri maupun oleh org2 kafir…tuk itu supaya qt selamat dr hal2 yg demikian kerjakan pa yg deprintahkn oleh Allah&rasul dan apa yg dilrang oleh-Nya yg terdapat didlm Alquran dan hadist…

    farhan james

    October 16, 2012 at 15:50

    • salafi ne sok paling tau agama, sok paling tau sariat,

      surya

      October 20, 2012 at 16:33

  11. belajar lg kang apa yang panjenengan ungkapkan itu tak lebih jg pertanyaan saya yang sudah terjawab mulailah dg kelembutan hati untuk menerima atopun mengkaji sesuatu jangan kedepankan kesombongan pada akhirx hanya merugikan
    ada kutipan jangan hanya menjadi kodok dalam tempurung jika merasa paling semua tp jika di bukakan ilmu Allah swt akan terheran heran seraya menangis
    hanya kelembutan hati dan ahklaqul karimah yang buat saya selalu berpendapat syariat atopun hakikat mempunyai cara sendiri untuk mencapai tujuan
    begitupun hakikat jg tak lepas dari hukum syariat klo pun anda blum mngalami dan memperdalami belum patut anda menilai sedangkan saya tak pernah memojokan syariat yg saya tau keduax saling berkaitan

    coffeemanz

    October 15, 2012 at 20:28

  12. orang tidak tau tasawuf orang yang tidak menegenal Tuhannya.

    labalaba

    October 10, 2012 at 14:23

  13. Biarkan Allah yang menetukan kafir tidaknya seseorang.
    Hal itu ditentukn saat anda akan mati

    labalaba

    October 10, 2012 at 14:21

  14. Wah, kok berani benar menghina orang sufi/ilmu tasawwuf hati-2, apakh sampeyan udah punya tiket masuk ……

    bangun ratmono

    October 9, 2012 at 16:13

  15. apa maksud anda menghujat kaum sufi? apa kaum sufi itu sudah pasti masuk neraka?
    apa anda sudah pasti masuk surga? apa anda yang menentukan masuk surga dan masuk nerakanya seseorang?

    aki doko

    October 6, 2012 at 00:27

    • apakah ajaran Sufi dan Tasawuf sesuai dengan ajaran Rosululloh Shallallallaahu ‘alaihi wasallam?
      Apakah dalam Islam dilarang untuk mengatakan yang salah itu salah?
      haruskah kita katakan semua kelompok, firqoh, ajaran/tarekat itu benar semua?

      • siapa yang bilang semua kaum sufi benar. tapi apa semua kaum sufi salah? apa anda sudah pasti benar? apa ibadah anda sudah pasti diterima Allah? jangan takabur. apa anda sudah pasti masuk surga? apakah anda tau anda masuk surga atau masuk neraka? apa anda yakin semua kaum sufi masuk neraka?

        aki doko

        October 9, 2012 at 17:31

      • ?

        aki doko

        October 9, 2012 at 22:00

      • ini orang jg perlu menkaji lbh banyak lg rupanya,perkataan anda se akan yg lain tdk ada yg baik,

        Edy kusuma

        November 11, 2012 at 22:57


Bagaimana menurut Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s