طبيب الطب النبوي Dokter Pengobatan Nabawi

Islam, Hukum, Sholat, Tatacara

Author Archive

Hukum Hiburan dalam Acara Khitanan (Sunatan)

leave a comment »


Hiburan dalam Acara Khitanan

Penulis: Salim Rasyid Asy-Syibli, Muhammad Khalifah Muhammad Rabaah


kado

Dari Ummu ‘Alqamah ia menceritakan:

Bahwa keponakan perempuan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dikhitan. Maka ada yang berkata kepada ‘Aisyah: “Bolehkah kami memanggil untuk mereka orang-orang yang memberikan hiburan?”

Maka beliau menjawab” Ya boleh.”

Lalu aku menyuruh agar dipanggilkan ‘Udi. Karena ia adalah seorang yang memiliki banyak sya’ir. Maka datanglah ia kepada mereka. Ketika ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha lewat di rumah kami, maka beliau melihat ‘Udi sedang bernyanyi seraya menggoyang-goyangkan kepalanya dengan riang. Berkatalah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha seketika itu: “Ih! Syaithan itu! Usir dia! Usir dia!”

Hadits hasan, dikeluarkan oleh Imam Bukhari di dalam Al-Adabul Mufrad (1247).1 Read the rest of this entry »

Written by أبو هـنـاء ألفردان |dr.Abu Hana

July 28, 2009 at 05:55

Khutbah Jum’at Syaikh Abdullah Al Bukhari di Yogyakarta

leave a comment »


Khutbah Jum’at Syaikh Abdullah Al Bukhari di Yogyakarta

KHUTBAH JUM’AT
2 Sya’ban 1430 H/24 Juli 2009 M

Bersama Fadhilatul ‘Allamah Asy-Syaikh ‘Abdullah Al-Bukhari hafizhahullah

Di Masjid Ma’had Al-Anshar, Sleman – Yogyakarta
(di tengah-tengah acara Dauroh Ilmiah Asatidzah ke-5 Yogyakarta)

Khutbah I

إن الحمد لله، نحمده تعالى ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن نبينا محمدا نبيه ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102) [آل عمران/102]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (1) [النساء/1]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (71) [الأحزاب/70، 71]

فإن أصدق الحديث كتاب الله تعالى، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وآله وسلم، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار، وبعد :

Bertaqwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah …

Dan senantiasalah kalian senantiasa merasa diawasi oleh-Nya, baik dalam kondisi sendiri ataupun di hadapan khalayak, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Karena sesungguhnya barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah akan menjaganya. Semakin seorang meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah niscaya bertambah hidayah terhadapnya. Seorang hamba akan senantiasa ditambah hidayahnya selama dia senantiasa menambah ketaqwaannya. Semakin dia bertaqwah, maka semakin bertambahlah hidayahnya, sebaliknya semakin ia mendapat hidayah/petunjuk, dia semakin menambah ketaqwaannya. Sehingga dia senantiasa ditambah hidayahnya selama ia menambah ketaqwaannya.

Sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah wa ghafaralah

Wahai kaum mukminin, saudara-saudaraku yang mulia

Antum datang dari jarak yang jauh dari tempat yang berbeda-beda, dalam rangka menuntut ilmu, maka bergembiralah dengan kebaikan yang dijanjikan bagi orang-orang yang menuntut ilmu ikhlash karena mengharap wajah Allah Ta’ala.

Sungguh tidak tersembunyi bagi seorang yang berakal keutamaan dan kedudukan mulia ilmu syar’i dalam syari’at yang suci. Terdapat banyak nash dari al-wahyain (dua wahyu, yakni Al-Qur`an dan As-Sunnah) yang semuanya menunjukkan keutamaan ilmu dan kemuliaan para penyandangnya. Ilmu tersebut merupakan bekal yang tidak ada bekal lagi selainnya bagi seorang hamba, apabila ia ingin menempuh perjalanan ini, yakni menuju negeri akhirat.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjawab pertanyaan yang diajukan kepada beliau :

“Engkau telah menunjukkan tentang permasalahan yang besar dan agung, maka bekal apakah untuk safar/perjalanan ini, mana jalannya, dan apa kendaraannya?”

Beliau menjawab : Adapun bekalnya, adalah ilmu warisan dari khatamul anbiya’ Shallahu ‘alaihi wa Sallam yang tidak ada bekal untuk perjalanan tersebut selain bekal itu. Barangsiapa yang tidak berbekal dengannya (yakni ilmu) maka silakan duduk bersama orang-orang yang menyimpang!!”

Al-Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : Read the rest of this entry »

Written by أبو هـنـاء ألفردان |dr.Abu Hana

July 26, 2009 at 18:38

Malpraktik Kedokteran

with 2 comments


Malpraktik Kedokteran

Medical-Malpractice

Tuntutan hukum yang diajukan oleh pasien atau keluarganya kepada pihak rumah sakit dan atau dokternya dari waktu ke waktu semakin meningkat kekerapannya. Tuntutan hukum tersebut dapat berupa tuntutan pidana maupun perdata, dengan hampir selalu mendasarkan kepada teori hukum kelalaian. Dalam bahasa sehari-hari, perilaku yang dituntut adalah malpraktik medis, yang merupakan sebutan “genus” dari kelompok perilaku profesional medis yang “menyimpang” dan mengakibatkan cedera, kematian atau kerugian bagi pasiennya.

Black’s Law Dictionary mendefinisikan malpraktik sebagai “professional misconduct or unreasonable lack of skill” atau “failure of one rendering professional services to exercise that degree of skill and learning commonly applied under all the circumstances in the community by the average prudent reputable member of the profession with the result of injury, loss or damage to the recipient of those services or to those entitled to rely upon them”.

Pengertian malpraktik di atas bukanlah monopoli bagi profesi medis, melainkan juga berlaku bagi profesi hukum (misalnya mafia peradilan), akuntan, perbankan (misalnya kasus BLBI), dan lain-lain. Pengertian malpraktik medis menurut World Medical Association (1992) adalah: “medical malpractice involves the physician’s failure to conform to the standard of care for treatment of the patient’s condition, or lack of skill, or negligence in providing care to the patient, which is the direct cause of an injury to the patient.”

Dari segi hukum, di dalam definisi di atas dapat ditarik pemahaman bahwa malpraktik dapat terjadi karena tindakan yang disengaja (intentional) seperti pada misconduct tertentu, tindakan kelalaian (negligence), ataupun suatu kekurang-mahiran / ketidak-kompetenan yang tidak beralasan. Read the rest of this entry »

Written by أبو هـنـاء ألفردان |dr.Abu Hana

July 24, 2009 at 05:33