طبيب الطب النبوي Dokter Pengobatan Nabawi

Islam, Hukum, Sholat, Tatacara

APA MENCIUM MUSHAF QUR’AN TERMASUK MEMULIAKANNYA ? : Apakah Rosululloh dan Para Sahabat Mengucapkan “shodaqollahul adhim” Setelah Membaca Ayat Al-Qur’an..?

with 7 comments


Ucapan “Shodaqollahul Adhim” setelah Qiro`atul Qur`an Bid’ah

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary

Dasar agama Islam ialah hanya beramal dengan Kitabullah dan Sunnah rasulNya. Keduanya adalah sebagai marja’ -rujukan- setiap perselisihan yang ada di tengah-tengah kaum muslimin. Siapa yang tidak mengembalikan kepada keduanya maka dia bukan seorang mukmin. Allah berfirman,

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

“Maka demi Rabmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An Nisa : 65).

Telah mafhum bersama bahwa Allah menciptakan manusia bukan untuk suatu urusan yang sia-sia, tetapi untuk satu tujuan agung yang kemaslahatannya kembali kepada manusia yaitu agar beribadah kepadaNya. Kemudian tidak hanya itu saja, tetapi Allah juga mengutus rasulNya untuk menerangkan kepada manusia jalan yang lurus dan memberikan hidayah -dengan izin Allah- kepada shirothil azizil hamid. Allah berfirman,

وَمَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلاَّ لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُواْ فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS An Nahl : 64).

Sungguh, betapa besar rahmat Allah kepada kita, dengan diutusnya Rasulullah, Allah telah menyempurnakan agama ini. Allah telah berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu dan telah Kuridhoi islam itu jadi agama bagimu?” (QS Al Maidah : 3).

Tak ada satu syariatpun yang Allah syariatkan kepada kita melainkan telah disampaikan oleh rasulNya. Aisyah berkata kepada Masyruq, “Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad itu telah menyembunyikan sesuatu yang Allah telah turunkan padanya, maka sungguh ia talah berdusta!” (HR. Bukhori Muslim).

Berkat Al Imam As Syatibi, “Tidaklah Nabi meninggal kecuali beliau telah menyampaikan seluruh apa yang dibutuhkan dari urusan dien dan dunia?” Berkata Ibnu Majisyun, “Aku telah mendengar Malik berkata, “Barangsiapa yang membuat bid’ah (perkara baru dalam Islam), kemudian menganggapnya baik, maka sungguh dia telah mengira bahwa Muhammad telah mengkhianati risalah, karena Allah telah berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu?” (QS Al Maidah : 3).

Kaum muslimin -rahimakumullah-, sahabat Ibnu Mas’ud telah berkata, “Ikutilah, dan jangan kalian membuat perkara baru!”. Suatu peringatan tegas dimana kita tidak perlu untuk menambah-nambah sesuatu yang baru atau bahkan mengurangi sesuatu dalam hal agama. Banyak ide atau atau anggapan-anggapan baik dalam agama yang tidak ada contohnya bukanlah perbuatan terpuji yang akan mendatangkan pahala, tetapi justru yang demikian itu berarti menganggap kurang atas syariat yang telah dibawa oleh rasulullah, dan bahkan yang demikian itu dianggap telah membuat syariat baru. Seperti perkataan Iman Syafi’i, “Siapa yang membuat anggapan-anggapan baik dalam agama sungguh ia telah membuat syariat baru.”

Ucapan “shodaqollahul adhim” setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya bukanlah hal yang asing di kalangan kita kaum muslimin -sangat disayangkan-. Dari anak kecil sampai orang tua, pria atau wanita sudah biasa mengucapkan itu. Tak ketinggalan pula -sayangnya- para qori Al Quran dan para khotib di mimbar-mimbar juga mengucapkannya bila selesai membaca satu atau dua ayat AlQuran. Ada apa memangnya dengan kalimat itu ?

Kaum muslimin -rahimakumullah-, mengucapkan “shodaqollahul adhim” setelah selasai membaca Al Quran baik satu ayat atau lebih adalah bid’ah, perhatikanlah keterangan- keterangan berikut ini.

Pertama: Dalam shahih Bukhori no. 4582 dan shahih Muslim no. 800, dari hadits Abdullah bin Mas’ud berkata, “Berkata Nabi kepadaku, “Bacakanlah padaku.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku bacakan kepadamu sedangkan kepadamu telah diturunkan?” beliau menjawab, “ya”. Maka aku membaca surat An Nisa hingga ayat

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَـؤُلاء شَهِيداً

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS An Nisa : 41)

beliau berkata, “cukup”. Lalu aku (Ibnu Masud) menengok kepadanya ternyata kedua mata beliau berkaca-kaca.”

Sahabat Ibnu Mas’ud dalam hadits ini tidak menyatakan “shodaqollahul adhim” setelah membaca surat An Nisa tadi. Dan tidak pula Nabi memerintahkannya untuk menyatakan “shodaqollahul adhim”, beliau hanya mengatakan kepada Ibnu Mas’ud “cukup”.

Kedua: Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 6 dan Muslim no. 2308 dari sahabat Ibnu Abbas beliau berkata, “Adalah Rasulullah orang yang paling giat dan beliau lebih giat lagi di bulan ramadhan, sampai saat Jibril menemuinya -Jibril selalu menemuinya tiap malam di Bulan Ramadhan- bertadarus Al Quran bersamanya”.

Tidak dinukil satu kata pun bahwa Jibril atau Nabi Muhammad ketika selesai qiroatul Quran mengucapkan “shodaqollahul adhim”.

Ketiga: Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 3809 dan Muslim no. 799 dari hadits Anas bin Malik -radhiyallahu anhuma-, “Nabi berkata kepada Ubay, “Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membacakan kepadamu “lam yakunil ladzina kafaru min ahlil kitab” (“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya)?”) (QS Al Bayyinah : 1). Ubay berkata , “menyebutku?” Nabi menjawab, “ya”, maka Ubay pun menangis“.

Nabi tidak mengucapkan “shodaqollahul adhim” setelah membaca ayat itu.

Keempat: Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 4474 dari hadits Raafi’ bin Al Ma’la -radhiyallahu anhuma- bahwa Nabi bersabda, “Maukah engkau kuajari surat yang paling agung dalam Al Quran sebelum aku pergi ke masjid?” Kemudian beliau (Nabi) pergi ke masjid, lalu aku mengingatkannya dan beliau berkata, “Alhamdulillah, ia (surat yang agung itu) adalah As Sab’ul Matsaani dan Al Quranul Adhim yang telah diberikan kepadaku.”

Beliau tidak mengatakan “shodaqollahul adhim”.

Kelima: Terdapat dalam Sunan Abi Daud no. 1400 dan Sunan At Tirmidzi no. 2893 dari hadits Abi Hurairah dari Nabi, beliau bersabda, “Ada satu surat dari Al Quran banyaknya 30 ayat akan memberikan syafaat bagi pemiliknya -yang membacanya/ mengahafalnya- hingga ia akan diampuni, “tabaarokalladzii biyadihil mulk” (“Maha Suci Allah yang ditanganNyalah segala kerajaan?”) (QS Al Mulk : 1).

Nabi tidak mengucapkan “shodaqollahul adhim” setelah membacanya.

Keenam: Dalam Shahih Bukhori no. 4952 dan Muslim no. 494 dari hadits Baro’ bin ‘Ajib berkata, “Aku mendengar Rasulullah membaca di waktu Isya dengan “attiini waz zaituun”, aku tidak pernah mendengar seorangpun yang lebih indah suaranya darinya”.

Dan beliau tidak mengatakan setelahnya “shodaqollahul adhim”.

Ketujuh: Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya no. 873 dari hadits Ibnat Haritsah bin An Nu’man berkata, “Aku tidak mengetahui/hafal “qaaf wal qur’aanil majiid” kecuali dari lisan rasulullah, beliau berkhutbah dengannya pada setiap Jumat”.

Tidak dinukil beliau mengucapkan setelahnya “shodaqollahul adhim” dan tidak dinukil pula ia (Ibnat Haritsah) saat membaca surat “qaaf” mengucapkan “shodaqollahul adhim”.

Jika kita mau menghitung surat dan ayat-ayat yang dibaca oleh Rasulullah dan para sahabatnya serta para tabiin dari generasi terbaik umat ini, dan nukilan bahwa tak ada satu orangpun dari mereka yang mengucapkan “shodaqollahul adhim” setelah membacanya maka akan sangat banyak dan panjang. Namun cukuplah apa yang kami nukilkan dari mereka yang menunjukkan bahwa mengucapkan “shodaqollahul adhim” setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya adalah bid’ah -perkara yang baru- yang tidak pernah ada dan di dahului oleh genersi pertama.

Kaum muslimin -rahimakumullah-, satu hal lagi yang perlu dan penting untuk diperhatikan bahwa meskipun ucapan “shodaqollahul adhim” setelah qiroatul Quran adalah bid’ah, namun kita wajib meyakini dalam hati perihal maknanya bahwa Allah maha benar dengan seluruh firmannya, Allah berfirman, “Dan siapa lagi yang lebih baik perkataanya daripada Allah”, dan Allah berfirman, “Dan siapa lagi yang lebih baik perkataanya dari pada Allah”. Barangsiapa yang mendustakanya -firman Allah- maka ia kafir atau munafiq.

Semoga Allah senantiasa mengokohkan kita diatas Al Kitab dan Sunnah dan Istiqomah diatasnya. Wal ilmu indallah.

* * *

Hukum Mencium Mushaf (Al Qur`an)

Fatwa Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani

Beliau berkata: Perkara ini -menurut keyakinan kami- adalah masuk ke dalam keumuman hadits “Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru karena setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap kebid’ahan adalah sesat”, dalam hadits lain “Setiap kesesatan dalam Neraka”.

Banyak kalangan punya pendirian tertentu dalam menyikapi hal ini, mereka mengatakan, “Ada apa dengan mencium mushaf? Bukankah ini hanya untuk menampakkan sikap membesarkan dan mengagungkan Al Qur’an?“, kita katakan kepada mereka, “Kalian benar, tak ada apa-apa melainkan hanya pengagungan terhadap Al Qur’anul Karim, tetapi perhatikanlah, apakah sikap pengagungan ini luput atas generasi umat yang pertama, yang mereka tiada lain adalah para sahabat Rosulullah demikian pula para tabi’in dan para tabi’ut tabi’in setelahnya?” Tidak ragu lagi jawabannya adalah seperti jawaban Ulama Salaf, ” Jika perkara itu baik, tentu mereka akan mendahului kita padanya“.

Ini satu masalah, masalah yang lainnya adalah apa hukum asal mencium sesuatu, bolehkah atau terlarang?

Di sini perlu kami paparkan suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Abbas bin Rabi’ah, ia berkata, “Aku melihat Umar bin Khoththob mencium hajar aswad dan berkata, “Sesungguhnya aku tahu engkau adalah batu, tidak dapat memberi mudharat tidak pula memberi manfa’at, sekiranya bukan karena Aku telah melihat Rasulullah menciummu Aku tak akan menciummu””.

Kalau demikian, kenapa Umar mencium hajar aswad? Apakah karena filsafat yang muncul darinya?

Jadi asal hukum mencium ini hendaknya berjalan di atas sunnah yang dulu. Ingatlah sikap Zaid bin Tsabit beliau telah berkata, “Bagaimana kalian melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah?”.

Jika ditanyakan kepada yang mencium mushaf, “Bagaimana kalian melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah?”, ia akan mengarahkan jawaban yang aneh sekali, seperti “Hai saudaraku ada apa dengan ini? Ini mengagungkan Al Qur`an!”, maka katakan padanya, “Hai saudaraku, apakah Rasulullah tidak mengagungkan Al Qur`an? Tidak ragu lagi bahwa beliau mengagungkan Al Qur`an, walau demikian beliau tidak menciumnya“.

Saya katakan, “Tidak ada jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah kecuali dengan apa yang telah disyari’atkanNya, oleh karena itu kita bertindak sesuai dengan apa yang disyari’atkan untuk kita dari keta’atan dan ibadah-ibadah, tidak menambahinya walau satu kata, karena hal ini seperti ucapan Nabi, “Tidak aku tinggalkan sesuatupun yang Allah telah perintahkan kalian, kecuali aku telah perintahkan kalian dengannya””.

Oleh karena itu maka mencium mushaf (Al Qur’an) adalah bid’ah, dan setiap kebid’ahan adalah sesat, setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Sumber : “Kaifa Yajibu ‘Alaina An-Nufassirol Qur’an”

Ditulis oleh Ustadz Abu Hamzah Al-Atsary

Sumber :  Buletin Al-Wala’ wal Baro’ Edisi ke-5 Tahun ke-1 / 10 Januari 2003 M / 06 Dzul Qo’dah 1423 H

7 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Menurut Anda sendiri gimana…?

    Mutiara Hitam Dari Tanah Betawi

    June 6, 2012 at 00:40

    • saya setuju, mencium Al Qur’an itu bid’ah, itu banyak di lakukan orang India dan Pakistan, saya melihat langsung di sini ( Saudi arabia ) sudah semenjak ebih dari sepuluh tahun, bahkan orang Saudi sendiri tidak ada yg melakukan itu

      khuzaeni

      August 8, 2012 at 23:51

  2. Alhamdulillah..terima kasih atas pnjelasannya.
    Kini sy lebih mngerti,syukur..Smoga amalan2 kita diterima dan kesalahan serta kecacatan dalam ibadah kita dimaafkn..

    Siddiq

    October 25, 2010 at 23:21

  3. Assalamualaikum..

    Mohon bertanya… Sebelum ini sy prnah diajar bahwa bid’ah itu ada 2; bid’ah dalalah n bid’ah hasanah.
    Dalalah itu ya mmg salah, yakni prkara baru yg mnyesatkn..namun bid’ah hasanah adalh prkara baru yg baik, yakni tidak salah…misalnya sambutan Nuzul Quran..bukankh itu juga bid’ah?
    Shodaqollahul adhim itu juga tdk mmbawa makna yg buruk atau salah bahkn bisa mnambah kyakinan pmbacanya agr lebih yakin n akur akn kebesaran n kebenaran ayat2 Allah apabila ingin mnutup atw mgakhiri bacaannya…yg mndengarkn juga bisa merasa yakin..
    Wallahu’alam..
    Mohon dprjelas..trima kasih.

    @ Wa’alaikumussalaam warohmatullaahi wabarokaatuh

    pembagian bid’ah (dalam perkara ibadah dan bukan masalah keduniaan) menjadi bid’ah dhalalah n bid’ah hasanah adalah pembagian yang bathil. dikarenakan Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda di dalam :

    Hadits Jabir riwayat Muslim :
    وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
    “Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat”.

    2. Hadits ‘Irbadh bin Sariyah :
    وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
    “Dan hati-hati kalian dari perkara yang diada-adakan karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (HR. Ashhabus Sunan kecuali An-Nasa`i)

    adapun dalam masalah dunia, seperti masalah motor, mobil, speaker, dll maka diperbolehkan membuat sesuatu yang baru.
    أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ
    “Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian”. (HSR. Bukhory)

    Kita pasti tidak setuju bukan jika ada seorang muslim yang menambah roka’at sholat shubuh menjadi 3 atau 4 roka’at dengan alasan jika roka’atnya lebih banyak maka pahala yang didapatkan akan lebih baik (itu secara logika).. namun kenyataannya?

    Ketahuilah saudaraku, Ibadah adalah perkara tauqifiyah . Artinya tidak ada suatu bentuk ibadah pun yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apa yang tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak), sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

    “Artinya : Barangsiapa melaksanakan suatu amalan tidak atas perintah kami, maka ia ditolak.” [Hadits Riwayat. Al-Bukhari dan Muslim].

    untuk lebih jelasnya silahkan membaca artikel tentang “Bid’ah Hasanah” di :

    https://kaahil.wordpress.com/2010/02/27/bidahkah-motor-%E2%80%9Cdikit-dikit-bid%E2%80%99ah-dikit-dikit-bid%E2%80%99ah%E2%80%9D-%E2%80%9Capa-semua-yang-ada-sekarang-itu-bid%E2%80%99ah%E2%80%9D-%E2%80%9Ckalau-memang-maulidan-bid/

    Baarokallaahu fiikum.

    Siddiq

    September 7, 2010 at 02:27

  4. mohon izin copy dan membegikannya

    martoklungsu

    September 3, 2010 at 11:48

  5. ijin copas, jazakallahu khoir

    @ Tafaddholu, silahkan disebarkan.
    Baarokallaahu fiikum..

    hindun

    September 3, 2010 at 05:06

  6. SubhanaLlah, jazakaLlah khairan atas ilmunya dok. Ana baru mngetahui hal ini. AstghfiruLlah, smoga Allah mngampuni smua kbodohan sy d masa lalu dlm hal ini.

    abuabdisysyaakir

    September 2, 2010 at 00:31


Bagaimana menurut Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s