طبيب الطب النبوي Dokter Pengobatan Nabawi

Islam, Hukum, Sholat, Tatacara

6 ADAB KETIKA DI MAJELIS ILMU : 1. Mengikhlaskan niat 2. Berpenampilan yang baik 3. Berlomba untuk berada di tempat terdepan 4. Menunjukkan akhlaq yang baik 5. Tenang dan fokus 6. Membaca Doa Kaffaratul Majelis

leave a comment »


ADAB – ADAB DI DALAM MAJELIS ILMU

 

Berikut ini adalah beberapa adab di majelis ilmu yang kiranya penting untuk diperhatikan dan diamalkan oleh seorang penuntut ilmu. Adab-adab ini sengaja kami tulis dengan ringkas agar mudah diingat dan dipraktekkan. Di antara adab tersebut adalah:
1. Mengikhlaskan niat
2. Berpenampilan yang baik
3. Berlomba untuk berada di tempat terdepan
4. Menunjukkan akhlaq yang baik
5. Tenang dan fokus
6. Membaca Doa Kaffaratul Majelis

Adapun perinciannya sebagai berikut:

1. Mengikhlaskan niat

Menuntut ilmu adalah ibadah yang mulia. Agar ibadah tersebut diterima oleh Allah ta’ala dan berbuah pahala, maka hendaknya seorang penuntut ilmu menjaga betul keikhlasan niatnya. Allah berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (Al Bayyinah: 5)

Al Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya dengan apa seseorang meniatkan dirinya dalam menuntut ilmu? Maka beliau pun menjawab, “Hendaknya dia niatkan untuk mengangkat kebodohan dari dirinya dan dari diri orang lain.”

2. Tampil dengan penampilan yang baik

Hendaknya seorang penuntut ilmu tampil dengan penampilan yang bersih dan rapi, memakai minyak wangi sehingga tercium aroma yang menyegarkan dari dirinya. Di dalam hadits Jibril ketika beliau ‘alaihissalam datang ke majelis Rasulullah digambarkan bahwa beliau datang dengan penampilan yang baik. Umar radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,

إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَاب شَدِيْدُ سَوَادِ الشَعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ

“Muncul di hadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh..” (HR. Muslim dari Umar radhiyallahu ‘anhu)

3. Berlomba untuk berada di tempat terdepan

Dari Abu Waqid al-Harits bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu bahwasanya pada suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk dalam masjid beserta orang banyak. Lalu ada tiga orang yang datang.

Kedua orang itu berdiri di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun yang pertama, setelah ia melihat ada tempat yang lapang dalam majelis itu dia terus duduk di situ, orang yang kedua duduk di belakang orang banyak, sedangkan orang ketiga terus menyingkir dan pergi.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai, beliau bersabda,

“Tidakkah engkau semua suka kalau saya memberitahukan perihal tiga orang? Adapun yang orang yang pertama (yang melihat ada tempat lapang terus duduk di situ – pent), maka ia menempatkan dirinya kepada Allah, kemudian Allah memberikan tempat padanya. Adapun yang lainnya (yang duduk di belakang orang banyak – pent), ia pemalu, maka Allah pun malu padanya, sedangkan yang seorang lagi (yang menyingkir dari majelis – pent), ia memalingkan diri, maka Allah juga berpaling dari orang itu.” (Muttafaq ‘alaih)

Namun apabila usahanya untuk duduk di depan itu akan mengganggu saudaranya yang lain dengan memaksa berdesak-desakan, maka hendaknya dia mengalah mencari tempat lain.

4. Berakhlaq yang baik dengan saudaranya yang berada di sekitarnya

Hendaknya seorang penuntut ilmu berakhlaq yang baik terhadap teman-teman dalam kajian tersebut. Seyogyanya dia berucap dan memperlakukan saudaranya dengan santun dan lemah lembut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Dan bergaulah kepada manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. At Tirmidzi, dari Abu Dzar dan Muadz bin Jabal, hasan)

5. Tenang dan fokus dalam mendengarkan ceramah

Disebutkan dalam kitab Tadzkiratul Huffazh (1/242) dari Ahmad bin Sinan bahwasanya dulu di majelisnya Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah, tidak ada satu orang pun yang berbicara di dalam majelisnya, tidak ada satu orang pun yang meraut pena mereka, dan tidak ada satu orang pun yang berdiri. Seolah-olah di kepala mereka ada burung, atau seolah-olah mereka sedang berada dalam shalat.

Ini menunjukkan sikap yang tenang di dalam majelis ilmu, sehingga seorang bisa benar-benar fokus dan meraih faidah seoptimal mungkin.

6. Menutup setiap majelis dengan Doa kaffaratul Majelis

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ جَلَسَ في مَجْلِسٍ ، فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ في مَجْلِسِهِ ذَلِكَ

“Barang siapa yang duduk di dalam suatu majelis dan di majelis itu terjadi banyak suara hiruk pikuk, kemudian sebelum bubar dari majelis itu ia mengucapkan,

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ

“Maha suci Engkau ya Allah, dengan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwasanya tiada yang berhak disembah selain engkau, aku memohon ampunanmu dan aku bertaubat kepada-Mu”, melainkan Allah mengampuni apa yang terjadi di majlis itu baginya”. (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan dishahihkan oleh Al- Albani)

Catatan Tambahan:
Perlu juga ditambahkan di sini, hendaknya para penuntut ilmu yang hadir di sebuah kajian atau daurah mematuhi peraturan yang dibuat oleh panitia demi kelancaran dan ketertiban acara kajian, seperti merekam pada tempat yang telah disediakan, tidak mengaktifkan HP, dll. Ini termasuk ke dalam bab ta’aawun, tolong menolong di dalam kebaikan. Allah berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (Al Ma’idah: 2)

Wallahu ta’ala a’lam bisshawab. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kita nabi Muhammad, keluarga, sahabat serta para pengikutnya.

(Ditulis oleh Wira Bachrun Al Bankawy pada hari Rabu tanggal 30 Rajab 1433 H – bertepatan dengan 20 Juni 2012 di Darul Hadits Syihir, Hadramaut. Semoga Allah senantiasa menjaga dan mengokohkannya)

*********

Adab Penuntut Ilmu Ketika Belajar di Majelis Gurunya

Berikut kami sampaikan adab-adab seorang penuntut ilmu di dalam majelis ilmu, yang kami ambilkan faidah ini dari ustadzuna al fadhil al karim Abu Ubaidah Abdurrahman Kuningan dalam beberapa pelajaran yang beliau sampaikan (tidak secara khusus, namun sering diucapkan)

! Hendaknya hadir tepat waktu, seyogyanya seorang penuntut ilmu datang terlebih dahulu sebelum gurunya, tidak sebaliknya. Hal ini menunjukkan semangatnya dia dalam menuntut ilmu, kecuali jika memang keadaannya yang memaksanya selalu datang lebih telat daripada gurunya. Semoga Allah Ta’ala memudahkan segala urusan kita.

! Mengucapkan salam kepada gurunya dan temannya ketika memasuki majelis ilmu.1

! Hendaknya bersemangat dalam belajar secara rutin. Menuntut ilmu tidak sekedar mengisi kekosongan waktu atau tidak seperti pepatah, “Daripada bengong di rumah mendingan taklim”. Ia menyuruh dirinya untuk taat kepada Allah, ia menyuruh dirinya untuk mau belajar.2

! Jika di satu hari tidak bisa taklim hendaknya memberitahukannya kepada gurunya. Di zaman sekarang ini lebih mudah ia menuliskan pesan singkat melalui SMS, misal: “Bismillah, afwan ustadz malam ini ana ndak bisa taklim karena lembur di kantor. Hayakallah.” Atau: “Bismillah, afwan ustadz malam ini ana ndak datang karena shift malam. Barokallahu fiik” dan semisalnya.3

! Memakai pakaian yang bersih dan rapi, tidak sekedar kaos oblong dan celana panjang, hendaklah berpakaian yang syar’i.4

! Memakai wewangian, atau paling tidak pakaiannya tidak ada bau yang menganggu.5

! Memberi kelonggaran dalam tempat duduk. Duduk yang rapi dan tidak berdesak-desakan.6

! Membawa kitab atau buku untuk menulis pelajaran. Lebih baik kitab yang menjadi pelajaran saat itu di bawa dengan versi asli (kitab arabic, bukan terjemahan).7

! Tidak berbicara sendiri atau dengan temannya ketika guru sedang menyampaikan pelajaran. Karena bisa mengganggu suara guru sampai kepada dirinya atau orang lain hingga tidak mendapat faidah darinya.

! Jika ada yang kurang jelas dari apa yang disampaikan hendaknya bertanya, agar tidak terjadi salah paham.8

! Persiapkan diri ketika belajar, hilangkan rasa mengantuk. Jika kantuk datang hendaknya bangkit dan berwudhu.

! Menghilangkan jarak pemisah antara dia dengan gurunya. Mau bersahabat dengan berteman dengan gurunya sehingga bisa mendapatkan lebih banyak faidah darinya karena terjadi keharmonisan dan akrab dalam pergaulan.

Wallahu a’lam

__________
Footnote:

1 Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

“Maka apabila kalian memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini), hendaklah kalian memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada diri kalian sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik.” (An-Nuur:61)

2 Barang siapa yang rindu himmahnya (semangatnya) menuju kepada perkara-perkara yang mulia maka wajib baginya untuk menyingsingkan lengannya mencintai jalan-jalan agama, yakni kebahagiaan. Walaupun memang pada awalnya seseorang yang ingin mendapatkan kebahagiaan tidak pernah terlepas dari berbagai pukulan kesulitan, dan sesungguhnya kapan jiwa ini dipaksa untuk terus menerus melakukan sesuatu dan diarahkan untuk selalu tunduk dan bersabar di atasnya, maka perkara-perkara ini akan mengantarkanya kepada taman-taman yang sangat menakjubkan, dan tempat orang-orang yang shiddiq, kedudukan mulia, mendapatkan berbagai kelezatan lainnya yang melebihi lezatnya para raja. Sedangkan dunia itu tidak lebih seperti seorang anak yang sedang bermain-main burung merpati. (‘Uluwul Himmah)

Al Imam Asy Syafi’i rahimahullahu berkata, “Wajib bagi para penuntut ilmu untuk mengerahkan seluruh kesungguhannya dalam rangka memperbanyak ilmunya dan bersabar atas setiap perkara yang berusaha mengganggunya, dan niatkan ikhlas karena Allah Subhanahu wata’ala Ta’ala dalam mendapatkan ilmu tersebut baik secara nash maupun istinbath. Kemudian berkeinginan dan cinta untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala agar Allah Subhanahu wata’ala memberikan pertolongan dalam menuntut ilmu.”

3 Dalam hadits, Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam disaat perang khaibar bersabda :

“لأعطين الراية غدا رجلا يحب الله ورسوله، ويحبه الله ورسوله، يفتح الله على يديه”، فبات الناس يدوكون ليلتهم أيهم يعطاها، فلما أصبحوا غدوا على رسول الله كلهم يرجون أن يعطاها، فقال : ” أين علي بن أبي طالب ؟، فقيل : هو يشتكي عينيه، فأرسلوا إليه فأتي به

“Sungguh akan aku serahkan bendera (komando perang) ini besok pagi kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan dia dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, Allah akan memberikan kemenangan dengan sebab kedua tangannya.” Maka semalam suntuk para sahabat memperbincangkan siapakah di antara mereka yang akan diserahi bendera itu, di pagi harinya mereka mendatangi Rasulullah, masing-masing berharap agar ia yang diserahi bendera tersebut, maka saat itu Rasul bertanya: “Di mana Ali bin Abi Tholib?” Mereka menjawab: “Dia sedang sakit pada kedua matanya.” Kemudian mereka mengutus orang untuk memanggilnya, dan datanglah ia.” (Muttafaqun ‘alaih)

Salah satu faidah dari hadits ini adalah, seyogyanya seorang penuntut ilmu mengkabarkan kepada gurunya jika ia tidak hadir, sehingga paling tidak ada kabarnya, ndak menghilang begitu saja. Wallahu a’lam.

4 Dari Umar radhiallahuanhu dia berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ

“Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam” (Riwayat Muslim)

Salah satu faidah dari hadits ini adalah, disunnahkan untuk memperhatikan kondisi pakaian, penampilan, dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia dan penguasa. Wallahu a’lam

5 Lihat footnote nomor 4

6 Dari Imran radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

لَا يُقِيمُ اَلرَّجُلُ اَلرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ, ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ, وَلَكِنْ تَفَسَّحُوا, وَتَوَسَّعُوا

“Janganlah seseorang duduk mengusir orang lain dari tempat duduknya, kemudian ia duduk di tempat tersebut, namun berilah kelonggaran dan keluasan.” (Muttafaq ‘laihi)

7 Disebutkan dalam sebuah syair: Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Al Imam Bukhari telah membawakan dalam kitab shahihnya pada Kitabul Ilmi, باب كتابة العلم (Bab Menuliskan Ilmu).

8 Disebutkan dalam sebuah syair:

و كم من عائب قولا صحيحا و آفته من الفهم السقيم

“Berapa banyak orang yang mencela ucapan yang benar, sebabnya karena pemahaman yang keliru”

Sumber : http://sunniy.wordpress.com/2010/08/03/adab-penuntut-ilmu-ketika-belajar-di-majelis-gurunya/

Bagaimana menurut Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s