طبيب الطب النبوي Dokter Pengobatan Nabawi

Islam, Hukum, Sholat, Tatacara

PENJELASAN SDIT dan SEKOLAH FORMAL : Syubhat & Dampak buruk pendirian sekolah formal di kalangan Ahlussunnah (Sebuah tinjauan Ringkas)

leave a comment »


Seputar fenomena pendirian  sekolah formal di kalangan Ahlussunnah | (Sebuah tinjauan Ringkas)

Oleh Abu Dawud Al-Pasimy (salah satu thulab di Darul Hadits Fuyus,Yaman)

 


Sekolah formal atau pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan formal terdiri dari pendidikan formal berstatus negeri dan pendidikan formal berstatus swasta. 

Dalam sistim pendidikan ini dikenal juga dengan istilah kurikulum, yaitu perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan.

Dalam ketentuan pendidikan formal, kurikulum yang dipakai bersumber dari badan pihak pemerintah. Sehingga yang menjadi target pendidikan adalah bagaimana nantinya para siswa bisa menimba ilmu dari kurikulum tersebut dan bisa memahaminya, tanpa memilih dan memilah sisi pandang keselamatan aqidah.

 Di kalangan ahlussunnah, hukum mengikuti kegiatan belajar dan mengajar di sekolah umum telah jelas akan madhorotnya. Namun yang menjadi syubhat banyak di kalangan ahlussunnah sekarang ini adalah tentang hukum mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah yang beratribut islami. Dengan alasan supaya anak-anak salafiyah bisa mendapatkan ijazah dan untuk menjembatani anak-anak awam agar bisa mengenal dakwah ahlussunnah, ‘meluncurlah’ ide dari beberapa pihak untuk menerapkan sistim pendidikan formal yang islami.

Sebutlah SDIT sebagai contoh jenjang sekolah ini yang sudah mulai diterapkan di sebagian tempat dengan basis yang berlabelkan ahlussunnah. Padahal sebagian kita telah mengetahui akan keburukan-keburukan sistim pendidikan formal. Berikut ini beberapa contoh dampak buruk tersebut:

Dampak buruk mengikuti Sekolah Formal bagi anak-anak ahlussunnah

Akan menjembatani anak-anak ahlussunah dengan berbagai pelajaran yang banyak mengandung unsur kesyirikan, bid’ah, khurofat dan seterusnya karena konsekuensi dari menerapkan sekolah formal adalah mengikuti ketentuan kurikulum.

Akan terjatuh kepada perbuatan latah lantaran ketika sedang menghadapi soal latihan atau ujian, para santri harus menjawab pertanyaan sebagaimana yang telah dipatrikan di dalam buku kurikulumnya.

Berikut beberapa contoh soal ujiannya:

 Contoh soal Ilmu Pengetahuan Alam (IPA):

  1.  Zaman prasejarah tertua dinamakan apa? Jawabannya harus “zaman batu”
  2.  Siapakah manusia pertama? Jawabannya harus “Megantropus erectus”
  3.  Apakah bumi menglilingi matahari? Jawabannya harus “YA” Read the rest of this entry »

Written by أبو هـنـاء ألفردان |dr.Abu Hana

March 19, 2014 at 10:13

DEMOKRASI “AKSI UNJUK RASA” TELAH DIKHIANATI ? Keterkaitan antara demonstrasi dengan demokrasi | perbedaan antara syura dan demokrasi

leave a comment »


Sejauh mana keterkaitan antara demonstrasi dengan demokrasi ?

Jawaban Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed:

DEMONSTRASI DIKHIANATIDemonstrasi, unjuk rasa, dan semacamnya seolah telah menjadi elemen penting dalam denyut nadi demokrasi. Ia diagungkan sebagai gerakan moral untuk mengontrol kekuasaan agar berjalan menurut aturan konstitusi. Demonstrasi terutama yang dilakukan mahsiswa telah menjadi keniscayaan di alam demokrasi. Ia merupakan gerakan moral untuk mengkritisi pemerintah yang dianggap melenceng dari konstitusi.

Ketika aktivitas ‘turun ke jalan’ mereka diberangus, maka istilah yang mengemuka adalah demokrasi telah dikhianati. Namun Islam memandang lain terhadap prilaku itu. Telah ada riwayat dari ulama salaf, yang menggambarkan penentangan Islam terhadap demonstrasi dengan berbagai dampak buruknya. Bahkan Islam memandang demonstrasi sebagai bagian pemberontakan lisan. Bahasan berikut memang sangat ringkas karena berupa fatwa. Namun semoga hal ini dapat memberi manfaat.

Fadhilatus Syaikh Dr. Shalih As-Sadlan ditanya: “Wahai Syaikh, menurut pemahaman saya, anda tidak mengkhususkan pemberontakan itu hanya dengan pedang tetapi juga termasuk pemberontakan yang dilakukan dengan lisan ?”

Beliau menjawab: “Ini pertanyaan penting, karena sebagian dari saudara-saudara kita telah melakukannya dengan niat baik dalam keadaan meyakini bahwa pemberontakan itu hanya dengan pedang. Padahal pada hakikatnya, pemberontakan itu tidak hanya dengan pedang dan kekuatan saja atau penentangan dengan cara-cara yang sudah diketahui secara umum. Tetapi pemberontakan yang dilakukan dengan lisan justru lebih dahsyat dari pemberontakan bersenjata karena pemberontakan dengan pedang dan kekerasan justru dilahirkan dari pemberontakan dengan lisan.

Maka kita ucapkan kepada mereka saudara-saudara kita yang terbawa oleh emosi yang kami berprasangka baik kepada mereka bahwa mereka berniat baik –insya Allah - agar mereka menenangkan dirinya. Dan kami katakan kepada mereka : tenang dan sabarlah, karena kekerasan dan kebencian kalian akan membawa dampak jelek pada hati. Kemudian hati tersebut akan melahirkan emosi yang tidak kenal kecuali kekerasan dan pemberontakan. Di samping itu juga akan membuka pintu bagi orang-orang yang memiliki kepentingan untuk mengeluarkan ucapan yang sesuai dengan hawa nafsunya, haq ataupun batil.

Tidak diragukan lagi bahwa memberontak dengan lisan, atau dengan menggunakan pena dan tulisan, dengan penyebaran kaset-kaset, tabligh akbar, maupun ceramah-ceramah umum dengan membakar emosi massa, serta tidak dengan cara yang syar’i, maka saya yakin bahwa ini adalah dasar (pemicu) lahirnya pemberontakan bersenjata.

Saya memperingatkan dari perbuatan seperti ini dengan sekeras-kerasnya peringatan, dan saya katakan kepada mereka : “Kalian harus melihat dan mempertimbangkan apa hasilnya ? dan hendaklah kepada pengalaman orang yang telah melakukan sebelumnya dalam masalah ini !” Hendaklah mereka melihat fitnah-fitnah yang dialami oleh sebagian masyarakat Islam, apakah sebabnya ? Apakah tindakan awalnya sehingga mereka sampai keadaan seperti ini. Jika telah mengetahui yang demikian, maka akan kita ketahui bahwa memberontak dengan ucapan lisan dan menggunakan media massa untuk membangkitkan kebencian, membakar emosi, dan kekerasan akan melahirkan fitnah dalam hati.” (Lihat ‘Ulama Su’udiyyah Yu-akkiduna ‘Alal Jam’ah wa Wujubus Sam’i wath Tha’ah li Wulatil Amri, hal. 5-6)

******

Apa perbedaan antara syura dan demokrasi ?

Jawaban Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc :

Sebagian orang menganggap bahwa demokrasi adalah wujud praktek sistem syura dalam Islam. Ini adalah anggapan yang salah, dan jauhnya perbedaan antara keduanya bagaikan timur dan barat. Diantara perbedaannya adalah: Read the rest of this entry »

Written by أبو هـنـاء ألفردان |dr.Abu Hana

March 18, 2014 at 10:00

(BAGUS) Kampanye Pemilu, Partai, Pesta Demokrasi, Pemungutan Suara menurut Islam : Demi Suara Apapun Dilakukan

leave a comment »


kampanye pemilu 2014Dalam wikidepia disebutkan bahwa definisi Kampanye politik adalah sebuah upaya yang terorganisir bertujuan untuk memengaruhi proses pengambilan keputusan para pemilih dan kampanye politik selalu merujuk pada kampanye pada pemilihan umum. Partai politik peserta Pemilu 2014 sepakat menjalankan kampanye dengan semangat kebersamaan demi terwujudnya Indonesia yang maju dan sejahtera. Kampanye pemilu bukan pertandingan parpol, melainkan adu gagasan untuk memberikan pendidikan politik bagi masyarakat sebagaimana disampaikan dalam Deklarasi Kampanye Berintegritas Pemilu 2014 berjudul ”Suara untuk Indonesia” yang diadakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Sabtu (15/3/2014).

————————————–

Menjelang pemilu, berbagai wilayah di Republik Indonesia ini diwarnai berbagai atribut partai. Mereka –para peserta pesta demokrasi– berlomba memajang anggota partainya untuk dipilih rakyat. Mereka berlomba meraup suara sebanyak mungkin agar bisa meloloskan anggota partainya menduduki kursi jabatan yang diperebutkan.

Di antara peserta pesta demokrasi itu, terdapat partai-partai yang mengusung nama Islam. Mereka masih berkeyakinan bahwa sentimen agama masih menjadi komoditas yang laik jual. Meskipun senyatanya, kesantunan beragama terkadang tidak melekat dalam pergaulan mereka. Tak sedikit yang berlaga sehingga saling menyerang, baku tikai hanya karena beda partai. Tak sedikit pula yang membujuk rayu masyarakat dengan uang, kaos, atau fasilitas lainnya dengan maksud masyarakat memilihnya. Ini yang sering dimunculkan sebagai isu-isu untuk meruntuhkan partai lawan.

Seperti apa wajah partai Islam sekarang? Atau, sebelum pertanyaan ini disodorkan, perlu dipertanyakan terlebih dulu: Adakah partai Islam itu? Partai-partai “Islam” (dalam tanda kutip) cukup variatif. Baik dari sisi konstituen (para pendukung) maupun dari sisi visi yang menjadi dasar perjuangan mereka.

Di antaranya ada yang secara tegas menyatakan diri sebagai partai berazas Islam, berjuang untuk menegakkan hukum Islam ke dalam perundang-undangan Indonesia. Dalam sejarah kepartaian setelah Indonesia merdeka, partai yang memiliki garis perjuangan seperti itu bisa ditemukan pada Partai Masyumi.

Bagaimana dengan partai-partai “Islam” masa pascareformasi? Read the rest of this entry »

Written by أبو هـنـاء ألفردان |dr.Abu Hana

March 17, 2014 at 10:25

(BAGUS) Pengertian Dzikir Fidak/’Ataqah Sughro dan Kubro untuk yang telah wafat : Membaca tahlil 70 ribu kali (fida’ sughro) dan surat Al Ikhlas 100 ribu kali (fida’ kubro)

leave a comment »


 

Pengertian Dzikir Fidak/’Ataqah

Dzikri Fida’ merupakan dzikir penebusan, yaitu menebus kemerdekaan diri sendiri atau orang lain dari siksaan Allah Swt. dengan membaca: Laa Ilaha Illallah. sebanyak 71.000 (tujuh puluh satu ribu).
Penebusan diri dari api neraka itu menurut mereka telah ada sejak zaman Baginda Habibillah Rasulillah Muhammad SAW dan berkembang corak dan ragamnya. Kendati demikian, metode yang secara khusus diamalkan oleh para Masyayikh al-‘Arifun Billah min Saadaatinaa wa Habaa-ibinaa al-Haadiin al-Muhtadiin RA yang telah masyhur dengan istilah dzikir fida’

Berikut penjelasan Hukum dzikir fida’ sughro/kubro

Bismillah.. Afwan ana ingin bertanya mengenai hukum dzikir fida’ sughro/kubro (‘ataqah sughro/kubro) yang telah meluas di sebagian masyarakat sini, yang ditujukan untuk seseorang yang telah wafat (yang konon katanya sebagai penebusan kecil kepada Allah) adapun tatacara yang sedikit ana ketahui adalah dengan membaca kalimat tahlil sebanyak 70 ribu kali (fida’ sughro) dan surat Al Ikhlas sebanyak 100 ribu kali (fida’ kubro).. Mohon penjelasannya.. Jazaakumullahu khairon. (Yudi Abu Hani Bandung) TIS-6

Jawaban Al-Ustadz Askari hafizhahulloh)

Wa anta jazakallahu khoiron, amalan bid’ah, amalan bid’ah dan subhanallah, menyulitkan. لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللّهُ tujuh puluh ribu kali kapan selesainya? Membaca surat Al Iklhas seratus ribu kali kapan selesainya? Read the rest of this entry »

Written by أبو هـنـاء ألفردان |dr.Abu Hana

March 16, 2014 at 11:43