طبيب الطب النبوي Dokter Pengobatan Nabawi

Islam, Hukum, Sholat, Tatacara

Dikotomisme Ilmu Di dalam Islam. Adakah Itu ?

with one comment


?Dikotomisme Ilmu Di dalam Islam. Adakah Itu

Al-Ustadz Abu Khaulah Zainal Abidin

daarul-haditsJawabnya tentu bukan sekedar ada atau tidak. Dan masalah, bahkan istilah ini -berkaitan dengan Islam- tidak pernah dipertanyakan sebelumnya, kecuali karena dua sebab: Pertama, kenyataan yang terjadi di mana sebagian kaum muslimin sendiri cenderung berpandangan atau bersikap sehingga menjadi sebab tumbuh dan berkembangnya dikotomisme yang keliru. Ke-dua, Kecemburuan sebagian kaum muslimin atas ketertinggalan mereka oleh “barat” (baca: peradaban dunia non-muslim) di dalam urusan kesejahteraan material.

Pertanyaan ini menjadi penting, karena terlanjur muncul berbagai jawaban -mulai dari yang filosofis sampai kepada yang sifatnya praktis. Sebagai contoh, (-di Indonesia-), adanya perlakuan diskriminatif antara SD, SLTP, SMU yang berinduk ke Depdiknas dengan Madrasah Ibtida’iyah, Tsanawiyah, dan Aliyah yang berinduk ke Depag. Kekhawatiran orang tua; kalau memasukkan anak ke Madrasah / Pesantren nanti susah mencari kerja, dan kalau memasukkan anak ke SD dan seterusnya nanti buta agama. Kesemua ini sesungguhnya bermuara kepada persoalan dikotomi ilmu.

Sementara itu tidak sedikit orang -yang karena kecemburuan ini-, langsung bersemangat menyanggah, antara lain dengan alasan: Banyaknya ulama Islam yang punya otoritas keilmuan lebih dari satu bidang adalah bukti kuat bahwa Islam tidak mengenal konsep dikotomi ilmu. Tentu saja logika semacam ini sangat naïf. Apakah jika seseorang memiliki profesi sebagai polisi sekaligus pada saat yang bersamaan juga seorang pencuri, kemudian akan kita katakan bahwa tidak ada dikotomi antara polisi dengan bandit ?

Paradigma Apa yang Kita Pakai ?

Membicarakan ilmu sebagai sesuatu yang dipahami (-sehingga melahirkan penggolong-golongan / pengelompokan / pengkategorian berdasarkan sifat/karakternya-) tentu berbeda dengan membicarakannya sebagai sesuatu yang diterapkan. Kita bisa membicarakan Leonardo da Vinci, misalnya sebagai seorang pelukis dan pematung sekaligus seorang insinyur, tidak berarti kedua ilmu yang digelutinya itu tidak berbeda, bukan? Juga karena ini masalah nilai, maka tentu jawabnya tergantung siapa yang melihat, atau tepatnya paradigma apa yang dipergunakan untuk melihat masalah tersebut. Dan yang terakhir ini sangat penting dan menentukan.

Sejarah peradaban “barat” (Kristen) sejak zaman Romawi memberikan pengaruh besar terhadap pendikotomian ilmu maupun arti dikotomi itu sendiri. “Gereja untuk tuhan dan istana untuk raja“, atau ucapan Einstein: “Agama/iman tanpa ilmu, lumpuh. Ilmu tanpa agama/iman buta.”merupakan contoh paling mendasar dan nyata dari praktek dikotomi. Lebih dari itu, sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di sana juga ikut membawa pengaruh. Pergulatan mereka di bidang filsafat ilmu pengetahuan -sejak Francis Bacon (1561 – 1626) sampai TS Kuhn (1922 – 1996.)- tidak pernah membebaskan mereka dari belenggu dikotomi yang telah berurat-berakar dii tubuh peradaban (-kristen barat-) mereka.semenjak agama ini berkembang di sana. Sederet nama mulai dari Descartes, Newton, Voltaire, dan Hume merupakan pribadi-pribadi yang paling bertanggung jawab atas tetap terkurungnya Yesus hanya di gereja-gereja, hingga hari ini.

Kemudian ketika kaum muslimin dibesarkan di bawah asuhan nilai dan metode pendidikan “barat”, merekapun memahami dan mendudukkan perkara dikotomi sebagaimana kata/istilah itu dikenal dan dipergunakan di “barat”. Para pengekor maupun penentangnya sama-sama dibesarkan dengan cara pemahaman itu. Mereka melihat agamanya (Islam) dengan kacamata para pewaris peradaban Yunani – Romawi melihat agama Kristen. Jadi sekalipun ada sebagian yang tampak menentang, toh bantahannya sangat artifisial (semu). Kalimat-kalimat seperti: “Agama dan ilmu tak perlu dipertentangkan, keduanya bisa hidup berdampingan dan saling menunjang.” atau : ” Agar tidak menjadi generasi yang sekuler, di samping diajarkan ilmu-ilmu umum anak-anak juga harus diajarkan ilmu agama.” menunjukkan bahwa justru sekulerisme itu telah tumbuh di dalam benak tanpa mereka sadari. Telaah dan renungkan dalam-dalam kalimat-kalimat di atas, tentu akan kita dapati ruh dikotomisme-sekulerisme di dalamnya!

Sesungguhnya akar permasalahan ini bisa ditarik mulai dari makna dan penjelasan firman-ALLAH Ta’ala : ” …غير المغضوب عليهم ولا الضالين…” (”…selain orang-orang yang dimurkai atas mereka dan orang-orang yang sesat.” – Al Fatihah: 7), karena dari sinilah segalanya bermula. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan bahwa Al Maghdhub itu Yahudi dan Adh-Dhallin itu Nashara. (-HR:Muslim-). Dan Yahudi, sebagaimana juga Nashara, memiliki karakter yang khas. Yang pertama, berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya, mengedepankan aqal, dan cenderung kepada pendekatan filsafat. Yang ke-dua, beramal tetapi tidak dilandasi ilmu, mengedepankan perasaan. dan cenderung kepada gaya tasawuf. Maka mengertilah kita siapa yang ditiru -sadar atau tidak- oleh Mu’tazilah atau kaum Sufi, jika kita ingat akan peringatan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam:

عن أبي سعيد الخدري،عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:(لتتبعن سَنَنَ من كان قبلكم، شبراً بشبر وذراعاً بذراع، حتى لو دخلوا جحر ضب تبعتموهم).قلنا: يا رسول الله، اليهود والنصارى؟ قال: (فمن).

(Dari Abu Sa’id Al Khudry, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, berkata: “Sungguh kalian akan benar-benar mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian. Sampai-sampai jika mereka masuk ke lubang kadal tanah pun, kalian pasti mengikuti mereka.” Kami bertanya: ” Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu (-kebiasaan-) Yahudi dan Nashara?” Ia Shallallahu alaihi wa sallam pun menjawab; “(-tentu saja-) Siapa lagi?” ) (HR: Al Bukhari – Muslim)

Oleh karena itu, ketika kita membicarakan perkara ini (dikotomi) di dalam kaitannya dengan Islam, tentu pertanyaan pertama adalah Islam yang bagaimana yang kita ambil sebagai ukuran. Tak bisa dipungkiri bahwa di sepanjang perjalanan sejarahnya umat Islam telah melalui berbagai zaman dengan berbagai macam pemikiran dan aliran (madzhab) di dalamnya. Era Mu’tazilah -yang rasionalis- kah yang akan kita jadikan representasi Islam, atau pandangan Sufi kah yang kita jadikan acuan? Banyak analisa dan pembahasan menjadi tidak mengena disebabkan tidak memperhatikan kenyataan sejarah ini atau melihat penggalan-penggalan sejarah tersebut secara parsial.

Dewasa ini tidak sedikit orang menulis, mulai dari yang bersifat apologetik, kritik, maupun bantahan, terhadap praktek-praktek sufi -yang menistakan dan menafikan dunia, menyepelekan peranan aqal dan mendahulukan perasaan, serta menganggap kefakiran lebih mulia dari pada kekayaan- , yang kesemuanya itu menandakan meratanya anggapan bahwa sufi -apakah itu yang dipahami dan dipraktekkan selama ini, maupun ajaran itu sendiri secara keseluruhan- lah biang keladi dari keterpurukannya umat Islam.

Ya, karena pandangan-pandangan sufistik-lah maka segala yang ajeg membuyar, segala yang fokus melebar, segala yang kaku melentur, bahkan lebih mementingkan esensi ketimbang aturan-aturan, -seperti pengakuan para pembelanya-. Dan -ironisnya- itulah pula yang menyebabkan ia lebur -atau tepatnya terkontaminasi- dengan logika, etika, dan estetika dari mana saja yang sama sufistiknya. Dengan Kristen, bahkan Hindu dan Budha. Maka pandangan-pandangan .(-yang seakan-akan dunia itu seluruhnya buruk, aqal seluruhnya salah, serta harta dan kekayaan seluruhnya hina-) itu pun semakin mengental.

Di sisi lain, di dalam rangka cemburu terhadap “barat”, kaum muslimin sering (-mengerti atau tidak-) mengungkit-ungkit era Mu’tazilah sebagai zaman “kemajuan”, Alam bawah sadar -hasil pembentukan berabad-abad selama masa penjajahan- nyalah yang mengantarkan kepada “merasa bertemu dan terpenuhinya” hasrat dan kecemburuannya tersebut lewat nostalgia masa-masa kejayaannya Mu’tazilah, tanpa -sengaja atau tidak- mempersoalkan aqidahnya. Di satu sisi mereka ingin tetap diakui sebagai seorang Sunni, bersamaan dengan itu mereka bela orang-orang yang berkeyakinan bahwa ALLAH Ta’ala tidak mengetahui apa yang akan terjadi, bahwa Al Qur’an itu makhluq, bahwa ada manusia yang keberadaannya kelak tidak di sorga juga tidak di neraka (manzilatuhu bainal manzilatain), bahwa fitnah (pertanyaan) qubur itu tidak ada, dan masih banyak lagi bahwa-bahwa lain dari paham Mu’tazilah yang tidak mewakili pandangan seluruh kaum muslimin.

Rasionalis-empiris yang diimpor dari “barat” yang di tempat asalnya masih diperdebatkan kehalalan (baca: keshahihan) metodologinya keburu jadi konsumsi ilmiah kebanyakan ilmuwan di negeri-negeri muslim. Ini semua telah membentuk paradigma, bukan hanya ketika hendak melihat sesuatu, bahkan untuk menentukan apa yang harus atau perlu dilihat dan apa yang tidak boleh atau tidak perlu dilihat. Dan tentu saja pemilihan topik pembahasan kita kali ini juga tidak bebas dari pengaruh hal di atas.

Maka untuk memperjelas dan mempermudah pembahasan, secara jujur penulis harus katakan bahwa ia memilih paradigma Ahlus-Sunnah wal Jama’ah, setidaknya menurut yang dipahaminya. Dan yang dimaksud Ahlus-Sunnah wal Jama’ah adalah mereka yang berpegang kepada Al Qur’an dan As-Sunnah sesuai menurut pemahaman generasi terdahulu (Salaful Ummah). Tepatnya, jauh sebelum lahirnya paham Asy”ariyah – Maturidiyah -sebagaimana kedua nama belakangan ini dianggap oleh sebagian kaum muslimin sebagai representasi Ahlus-Sunnah wal Jama’ah-. (?)

Pembagian Ilmu Di Dalam Islam

Kata Ilmu di dalam Islam tidaklah selalu sama pengertiannya dengan ilmu (Science /Knowledge) di “barat”, sehingga pengertian ilmiah (memenuhi standar ilmu) nya pun berbeda. Bagi “barat”, sesuatu yang tidak teruji secara empiris bukanlah ilmu. Maka megertilah kita kenapa lahir ucapan : Iman/agama tanpa ilmu, lumpuh. Dan Ilmu tanpa Iman/agama, buta. Karena iman berbeda dengan ilmu. Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah (baca empiris), karena ia merupakan keyakinan.

Di dalam Islam Ilmu bisa mencakup seluruh pengetahuan, baik yang diupayakan maupun yang diwahyukan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa kepada para Nabi dan Rasul-Nya. Termasuk juga, apakah yang disebut di dalam Islam Ilmu Dhorury (sesuatu yang dapat diketahui tanpa harus belajar, seperti tahunya kita bahwa air itu basah atau asap itu menyesakkan), atau Ilmu Nadhory (yang diketahui hanya dengan belajar, seperti air itu H2O atau asap itu CO2). Ilmu juga kerap diungkapkan dengan kata hikmah. Kata ilmu adakalanya juga dimaksudkan iman -seperti penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimiin -rahimahullah-.dan juga selain beliau tentang kata amanuu di dalam Surat Al Ashr, karena mustahil seorang beramal jika tidak dilandasi ilmu. Maka iman di sini adalah ilmu. Bahkan adakalanya ilmu diartikan sebagai agama, sebagaimana ucapan Muhammad ibn Siriin radhiallahu anhu:

إن هذا العلم دين. فانظروا عمن تأخذون دينكم (رواه مسلم)

(Sesungguhnya Ilmu itu adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.)

Dan sesungguhnya para ulama (-Islam / Ahlus-Sunnah Wal Jama’ah-) telah menjelaskan pembagian ilmu dari berbagai sudut. Adakalanya pembagian tersebut kemudian bersifat dikotomis, adakalanya sebagai pengkhususan satu disiplin ilmu atas yang lain. Maka mengingkari (-secara mutlak-) adanya dikotomi ilmu dalam Islam adalah keliru. Sementara mendikotomikan ilmu secara serampangan juga keliru.

Dari sisi sumber atau dasar pengambilannya ilmu -di dalam Islam- terbagi dua, Ilmu Syar’iy dan Ilmu Ghairu Syar’iy. Ilmu Syar’iy adalah ilmu yang bersumber dari Al Qur’an dan As-Sunnah serta berkaitan langsung dengan pengamalan syari’at Islam. Atau sebagaimana yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimiin -rahimahullah-. di dalam : كتاب العلمIlmu Syar’iy adalah ilmu yang berkaitan tentang apa-apa yang diturunkan ALLAH kepada Rasul-Nya berupa petunjuk dan penjelasannya.” Selainnya adalah Ilmu Ghairu Syar’iy, yaitu ilmu-ilmu peradaban dan yang berkaitan dengannya. Dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam suatu kali mengungkapkan dengan kata Ilmu Dunia, sebagaiman ucapannya : أنتم أعلم بأمر دنياكم (”Kalian lebih tahu urusan dunia kalian.” – HR: Muslim). Juga di dalam do’anya: ” أللهم إني أسألك العفو و العافية في ديني و دنياي ” (”…Ya, ALLAH. Aku mohon kepada Mu kemaafan dan keselamatan di dalam urusan agamaku dan duniaku…”- HR: Abu Daud dan Ibnu Majah)

Tampak dari sisi ini kata agama dihadapkan (baca: dipertentangkan) dengan kata dunia. Jadi Ilmu Syar’iy itu ilmu agama, sedangkan Ilmu Ghairu Syar’iy itu ilmu dunia.

Dari sisi manfa’at atau tidaknya, ilmu juga terbagi menjadi: Ilmu Yang Bermanfa’at (-bagi dunia dan akhirat-) dan Ilmu Yang Tidak Bermanfa’at (-bagi dunia dan akhirat-). Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam do’anya berucap:

عن أبي هريرة؛ قال:- كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول :((اللهم! انفعني بما علمتني، وعلمني ما ينفعني، وزدني علما)).

(Dari Abu Hurairah, berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam senantiasa berdo’a, ALLAHUMMA, Berikan manfa’at dari ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku, ajarkan pula aku ilmu yang bermanfa’at bagiku. Dan tambahkan aku ilmu.”) (HR: At-Tirmidzi dan Ibnu Majah -dishahihkan oleh Syaikh Al Albaany)

Dari sisi hukum mempelajarinya, yakni tingkat kewajibannya atas setiap muslim untuk mengetahuinya, ilmu terbagi menjadi dua. Pertama, Ilmu Fardlu ‘Ain (wajib atas setiap pribadi). Ke-dua, Ilmu Fardlu Kifayah (tidak wajib atas setiap pribadi).

Ilmu Fardlu ‘Ain adalah ilmu tentang sesuatu yang setiap pribadi -tidak bisa diwakilkan- harus mengetahui dan memilikinya, seperti; Pengetahuan/pengenalan seseorang akan rabb (Pencipta)-nya -berkaitan tentang Kekuasaan, Hak Peribadatan, serta Nama dan Sifat-Nya-. Pengetahuan/pengenalan seseorang akan nabinya -berkaitan tentang nama dan nasab, perjalanan hidup, misi risalah, serta sunnah-sunnahnya yang wajib diamalkan-. Pengetahuan/pengenalan seseorang akan agamanya -berkaitan tentang bagian-bagian, rukun-rukun, hukum-hukum (-yang wajib secara pribadi diketahui, seperti perkara halal dan haram-),serta pembatal-pembatalnya.

Sedangkan Ilmu Fardlu Kifayah adalah ilmu-ilmu yang bekaitan dengan kemaslahatan diri dan orang lain, yang jika telah dipenuhi (ada sebagian orang yang telah mempelajari dan menguasainya) maka terbebaslah sebagian yang lain dari kewajiban akannya. Adakalanya Ilmu Fardlu Kifayah ini berbentuk Ilmu Syar’iy, seperti Ilmu Fara’id (ilmu waris) dan Ilmu Tajwid. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahumahullah- :”Mencari Ilmu Syar’iy hukumnya fardlu kifayah, kecuali dalam perkara-perkara tertentu seperti mencari ilmu tentang perkara-perkara yang diwajibkan atau diharamkan atas seseorang. Maka di dalam perkara-perkara semacam ini hukumnya menjadi fardlu ‘ain.” (Majmu’ ul Fatawa)

Adapun semua bentuk Ilmu Ghairu Syar’iy atau Ilmu Dunia hukum mempelajarinya adalah Fardlu Kifayah. Dan ini bukan berarti mengecilkan peranan ilmu-ilmu peradaban, tetapi justru menunjukkan bagaimana Islam dapat mendudukkan setiap perkara secara proporsional. Bukankah kita tidak menuntut seluruh manusia untuk menjadi dokter atau insinyur, misalnya. Dan apa jadinya kalau di suatu negeri -antara lain disebabkan karena tidak pernah diarahkan untuk mengetahui perkara-perkara semacam ini- semua belajar satu macam ilmu dan semua berharap untuk menjadi seorang ahli di bidang ilmu tersebut? Ya, seharusnya sejak awal negara sudah mengatur bidang-bidang apa saja di dalam Ilmu Ilmu Dunia / Ilmu Peradaban yang masih terbuka untuk dipelajari dan mengarahkan bangsanya untuk mengisi kekosongan. Dengan begitu tidak terjadi kelebihan tenaga professional di satu bidang sehingga menimbulkan pengangguran, atau kekosongan di profesi / keahlian yang lain -dokter wanita ahli kandungan, misalnya- yang menyebabkan seluruh negeri ikut berdosa karena meninggalkan fardlu kifayah tadi.

Kesimpulan

Bukannya ada atau tidak ada dikotomisme ilmu di dalam Islam, akan tetapi kenapa muncul pertanyaan ini, itu soalnya. Atau, tepatkah kalau pertanyaan semacam itu diarahkan ke Islam, mengingat konsep dikotomi itu datang dari pengalaman yang khas “barat”. Kalau kemudian dikotomisme ini hidup di dalam Islam, itu merupakan kebiasaan dari agama lain yang disusupkan ke dalam Islam oleh kaum sufi. Maka membantahnya dengan menjadikan Mu’tazilah sebagai sample juga tidak tepat. Pertama, Mu’tazilah tidak sepenuhnya mewakili Islam. Ke-dua, “kemajuan” di bidang ilmu pengetahuan (baca: filsafat, sejarah, fisika, ilmu-ilmu hitung (matematika dan aritmatika), biologi, kedokteran, astronomi, dan geografi) tidak dengan sendirinya membuktikan tak adanya dikotomisme ilmu pada masa itu, atau bahwa Mu’tazilah tidak menganut adanya dikotomisme ilmu. Jika ukurannya adalah kemajuan di bidang sains dan material, maka “barat” dewasa ini harus juga kita katakan tidak menganut paham dikotomisme ilmu. donk ! Apa begitu ?

Mempertanyakan dikotomisme di dalam Islam hampir sama kasusnya dengan orang yang mengait-ngaitkan Islam dengan sosialisme. Berbagai tulisan dikarang dengan tema “Sosialisme di dalam Islam”. Mereka mencoba membedah Islam dengan pisau analisa sosiologi berparadigma sosialis. Mencari sisi-sisi kesamaaan antara Islam dengan Sosialisme, atau menafsirkan ajaran Islam dengan kacamata sosialis -sesuatu yang asing sama sekali bagi Islam dan Islam tidak ada hubungannya sama sekali dengannya- , sebagaimana ditempuh Ali Syari’ati di Iran di tahun 1970-an.

Maka kalau yang dimaksudkan dikotomi di sini adalah seperti dikotominya gereja-negara, pendeta-raja, atau agama-ilmu di dalam peradaban “barat kristen”, maka di dalam Islam hanya menyangkut Ilmu Nafi’ (Ilmu yang bermanfaat) dan Ilmu Ghairu Nafi’ (Ilmu yang tidak bermanfa’at). Adapun di dalam perbedaan sumber atau dasar pengambilannya -seperti Ilmu Syar’iy atau Ilmu Agama dan Ilmu Ghairu Syar’iy atau Ilmu Dunia- tidaklah otomatis dianggap dikotomis -sebagaimana pengertian asalnya- karena batas kedua jenis ilmu tadi (Syar’iyAgama dan Ghairu Syar’iy/Dunia) saling menerobos manakala memasuki dataran praktis atau hukum mempelajari dan mengamalkannya.

Tidak seluruh Ilmu Syar’iy itu fardhu ‘ain mempelajarinya, dan adakalanya Ilmu Ghairu Syar’iy menjadi sebab berdosanya seluruh kaum manakala tak seorangpun menguasainya sedangkan hal itu sangat dibutuhkan masyarakat. Begitu pula, ada di antara Ilmu Syar’iy yang fardhu ‘ain mempelajarinya tetapi fardhu kifayah mengamalkannya, seperti sholat jenazah. Sebaliknya ada yang fardhu kifayah mempelajrinya tetapi fardhu ‘ain mengamalkannya, seperti ilmu tajwid.

Yang perlu diperhatikan adalah penggunaan nama-nama bagi kedua jenis ilmu tadi. Seharusnya kita tidak memperkenalkan dan menggunakan -seperti kebanyakan orang- kata “umum” untuk Ilmu-ilmu Ghairu Syar’iy atau Ilmu Dunia. Pertama, karena yang dipergunakan sejak dahulu oleh para ulama kita hanyalah istilah Ilmu Ghairu Syar’iy atau Ilmu Dunia -untuk seluruh yang tidak bersumber dari Al Qur’an dan As-Sunnah atau yang hanya berkaitan dengan peradaban. Ke-dua, seandainya pun yang dimaksud adalah Ilmu Dunia dan istilah itu diucapkan oleh orang yang telah paham betul akan agama Islam, namun tentu kebanyakan orang awam -yang pola pikirnya telah terlanjur sekuler- akan menangkap konsep “umum” tadi dengan kacamata sekulernya pula, dan bahkan bisa membuat sekulernya semakin menjadi-jadi tanpa disadari. Begitu pula akibatnya, jika kita mempergunakan istilah “Ilmu Akhirat” -untuk Ilmu-Ilmu Syar’iy atau Agama- untuk dihadapkan dengan Ilmu Dunia..

Jelas sulit kita membantah adanya dikotomisme ilmu di dalam Islam sebagaimana juga sulitnya kita untuk keluar dari belenggu dikotomisme kalau kitanya sendiri menggunakan kata “umum” untuk Ilmu Dunia atau “akhirat” untuk Ilmu Agama. Dan pendikotomian Ilmu Agama – Ilmu Umum atau Ilmu Dunia – Ilmu Akhirat sungguh telah membawa dampak-dampak filosofis, psikologis, dan sosiologis. bagi ummat Islam.

Dampak filosofisnya, telah membuat kebanyakan orang melihat agama Islam melulu atau hanya urusan akhlaq baik-buruk, itupun sifatnya sangat umum (-tidak khas menurut ukuran Al Qur’an dan As-Sunnah-) sekali. Keadaan demikian membuat kebanyakan orang tidak memiliki perhatian sama sekali atau memang sama sekali tidak mengerti akan perkara aqiedah. Tak penting bagi mereka syirik atau bid’ah, asalkan tidak minum khamer, mencuri, berzina, membunuh, dan semisalnya dari macam-macam pelanggaran -yang sesungguhnya selain muslim pun tahu akan buruknya perkara tersebut-.

Dampak psikologisnya, kebanyakan orang baru mau mempelajari agama kalau sudah tua atau pensiun kerja, karena ilmu agama adalah ilmu akhirat. Agama adalah kesibukan orang-orang yang sudah lanjut usia. Masyarakat merasa heran kalau melihat anak yang masih muda tetapi sudah besar perhatiannya kepada agama.

Dampak sosiologisnya, misalnya lahir istilah atau ungkapan “puisi religius“, “seorang yang religius“, seakan-akan dekatnya seorang hamba kepada ALLAH atau ibadah itu perkara yang tidak lazim. Di sekolah-sekolah “umum”, pelajaran “agama” diberikan hanya dua jam sepekan, itupun meliputi pelajaran aqidah, ibadah, dan akhlaq, termasuk tafsir Al Qur’an dan pelajaran Al Hadits dijadikan satu. Sementara pelajaran ekonomi, misalnya, diberikan waktu seluas-luasnya dengan bagian-bagiannya, seperti makro, mikro, dan sebagainya. Ilmu-ilmu ghoiru syar’iy mendapatkan kedudukan yang terhormat dan dipentingkan di dalam masyarakat, sementara ilmu-ilmu syar’iy disepelekan. Kalau ada sebuah pesantren menggunakan komputer saja sudah merupakan berita yang perlu diekspos. Gambar seorang pelajar berpeci dan berjilbab duduk di hadapan komputer di jadikan hiasan halaman utama brosur-brosur pesantren, untuk menunjukkan “kemoderenan”nya -yang justru mengukuhkan “keterbelakangan”nya-. Seorang ustadz , jika berbicara soal teknologi atau ekonomi, akan dipertanyakan kapan dan di mana ia belajar, seakan-akan teknologi dan ekonomi adalah perkara yang asing baginya. Sebaliknya, seorang dokter atau insinyur berani bicara panjang lebar dan dibiarkan berjam-jam berceramah tentang Islam sementara ia tidak pernah berguru sama sekali dan hanya bermodalkan membaca dan menafsirkan sendiri, tak pernah dipersoalkan. Kenapa ? Karena belajar Ilmu Syar’iy itu mudah sedang Ilmu “umum” (baca: Ghoiru Syar’iy) itu sulit.

Jadi, bukan ada atau tidak ada dikotomisme ilmu soalnya. Tetapi, ketidaksadaran kita telah masuk ke dalam lobang kadal tanah Yahudi dan Nashara, itu soalnya. Ketidaksadaran kita menggunakan kacamata yang salah ketika hendak melihat Islam, itu soalnya. Ketidaksadaran kita memakai istilah secara keliru, itu soalnya.

SUMBER : http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/08/02/dikotomisme-ilmuadakah-itu/

About these ads

Written by أبو هـنـاء ألفردان |dr.Abu Hana

March 13, 2009 at 06:12

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Hubungan agama dengan ilmu

    Sebelum kita berbicara secara panjang lebar seputar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang terjadi seputar problematika hubungan antara agama dengan ilmu maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan dan versi sudut pandang manusia yang lahir melalui kacamata sudut pandang materialist.
    Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang kita kenal sebagai ‘saintisme’ yang membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’,(sehingga bila mengikuti definisi saintisme maka otomatis segala suatu yang berada diluar wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa didefinisikan sebagai wilayah ilmu).faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.
    Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan yang mendeskripsikan ‘ilmu’ sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai sebuah kesatuan system.pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia artinya dalam persoalan ilmu manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
    Dan bila kita merunut asal muasal perbedaan yang tajam antara konsep ilmu versi saintisme (barat) dengan konsep ilmu versi Tuhan sebenarnya mudah : kekeliruan konsep ‘ilmu’ versi barat sebenarnya berawal dari pemahaman yang salah atau yang ‘bermata satu’ terhadap realitas,menurut sudut pandang materialist ‘realitas’ adalah segala suatu yang bisa ditangkap oleh pengalaman dunia indera,sedang versi Tuhan : ‘realitas’ adalah segala suatu yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi ‘ada’,dimana seluruh realitas yang tercipta itu terdiri dari dua dimensi : yang abstrak dan yang konkrit,analoginya sama dengan realitas manusia yang terdiri dari jiwa dan raga atau realitas komputer yang terdiri dari software dan hard ware.
    Berangkat dari pemahaman terhadap realitas yang bersifat materialistik seperti itulah kaum materialist membuat definisi konsep ilmu sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ dan metodologi ilmu dibatasi sebatas sesuatu yang bisa dibuktikan secara empirik.ini bertentangan dengan konsep dan metodologi ilmu versi Tuhan,karena realitas terdiri dari dua dimensi antara yang konkrit dan yang abstrak maka dalam pandangan Tuhan (yang menjadi konsep agama) konsep ilmu tidak bisa dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia indera dan metodologinya pun tidak bisa dibatasi oleh keharusan untuk selalu terbukti secara empirik,sebab ada realitas abstrak yang metodologi untuk memahaminya berbeda dengan metodologi untuk memahami ilmu material (sains),dan kedua : manusia bukan saja diberi indera untuk menangkap realitas yang bersifat empirik tapi juga diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ dan pengertian untuk memahami realitas yang bersifat abstrak.

    Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupun ilmu keduanya berasal dari Tuhan yang mustahil berbenturan.benturan itu terjadi karena kesalah fahaman manusia termasuk karena kesalahan manusia dalam membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagaimana yang dibuat oleh saintisme itu,
    Bila kita runut fitnah benturan antara agama dengan ilmu itu terjadi karena berbagai sebab,pertama : manusia membatasi definisi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera (karena ilmu harus mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang lahiriah-konkrit) sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu kelak akan menimbulkan banyak benturan dengan agama.jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
    Dan kedua : fitnah benturan ‘agama vs ilmu’ terjadi karena ada banyak ‘benalu’ didunia sains yang mengatasnamakan sains padahal ia cuma teori belaka yang bersifat spekulatif kemudian teori itu dibenturkan dengan agama sehingga orang awam melihatnya seperti ‘benturan agama dengan ilmu’ (padahal itu hanya fitnah).untuk dihadapkan dengan agama sains harus bersih dari teori khayali,artinya sains tak boleh diwakili oleh teori yang tidak berdasar kepada fakta seperti teori Darwin,sebab bila saintis membuat teori yang tak sesuai dengan kenyataan otomatis pasti akan berbenturan dengan agama sebab konsep agama berlandaskan kepada realitas yang sesungguhnya (yang telah Tuhan ciptakan sebagaimana adanya).
    Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit,dan konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistik hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu akan menjadi seperti sulit atau tidak bisa menafsirkan agama.
    Jadi bila ada fihak yang memprovokasi seolah ada ‘benturan antara agama versus ilmu’ maka kita harus analisis terlebih dahulu secara ilmiah jangan menelannya secara membabi buta,apalagi dengan bersikap a priori terhadap agama.kasus Darwin sama sekali bukan benturan antara agama vs ilmu tapi antara teori ‘ilmiah’ yang tidak berdasar fakta vs deskripsi kitab suci,begitu pula kasus Galileo itu bukan benturan agama vs ilmu tapi antara temuan ilmuwan vs penafsiran pendeta terhadap kitab sucinya yang belum tentu tepat,(tak ada ayat kitab suci dari Taurat sampai Al qur’an yang secara astronomis menyatakan bumi sebagai pusat galaksi tata surya/saat itu pendeta melihatnya dari prinsip ‘filosofis’).
    ‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang benar’ menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti secara empirik (tertangkap mata secara langsung),dengan prinsip inilah kacamata saintisme menghakimi agama sebagai sesuatu yang ‘tidak berdasar ilmu’.
    Bandingkan ; dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu ‘ilmu’ dalam agama bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata secara langsung),jadi ilmu dalam agama tidak seperti kambing yang dikekang.
    Kemudian bila yang dimaksud ‘ilmu’ oleh kacamata sudut pandang saintisme adalah apa yang mereka sebut sebagai ‘sains’ maka itu adalah pandangan yang keliru,sebab untuk mendefinisikan apa itu ‘sains’ kita harus berangkat dari dasar metodologinya,bila metodologi sains adalah metode empirisme dimana parameter kebenaran ilmiah nya adalah bukti empirik maka kita harus mendefinisikan ‘sains’ sebagai ‘ilmu seputar dunia fisik-materi’ sebab hanya dunia fisik-materi itulah yang bisa dibuktikan secara empirik,sedang definisi pengertian ‘ilmu’ menurut versi Tuhan adalah alat atau jalan atau cara untuk mengelola dan memahami keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga kedua alam itu bisa difahami sebagai sebuah kesatuan unit-sistem),dan metodologi ilmu versi Tuhan itu tidak dibatasi oleh keharusan bukti empirik sebab manusia diberi akal (dan hati) yang memiliki ‘mata’ untuk melihat dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.
    Jadi kesimpulannya bila dilihat dari kacamata Ilahi maka apa yang dimaksud ‘sains’ sebenarnya adalah salah satu cabang ilmu dan bukan ilmu dalam pengertian yang bersifat menyeluruh,tapi kacamata sudut pandang saintisme mengklaim bahwa (satu satunya) definisi pengertian ‘ilmu’ adalah sebagaimana konsep yang telah mereka buat dengan metodologi yang telah mereka tetapkan sebagaimana telah tertera dalam buku buku filsafat ilmu.kaum materialist tidak mau menerima bila konsep ‘ilmu’ dikaitkan dengan realitas dunia abstrak sebab saintisme berangkat dari kacamata sudut pandang materialistik ‘bermata satu’.yang pasti bila kita menerima definisi konsep ‘ilmu’ versi barat (dengan metodologi yang harus terbukti secara empirik) maka agama seperti ‘terpaksa’ harus difahami sebagai ‘ajaran moral’ bukan kebenaran berasas ilmu (sebagaimana pemahaman filsafat materialist terhadap agama).padahal menurut konsep Tuhan agama adalah kebenaran berdasar ilmu,(hanya ‘ilmu’ yang dimaksud adalah konsep ilmu yang bersifat universalistik yang hanya bisa difahami oleh manusia yang ‘bermata dua’/bisa melihat kepada realitas dunia abstrak dan dunia konkrit secara berimbang).

    ujang bandung

    June 11, 2012 at 11:38


Bagaimana menurut Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s