BACAAN “SHALAWAT NARIYAH” & TERJEMAH/ARTINYA: TEKS, FAEDAH, KEUTAMAAN, KEAMPUHAN AMALAN “SHALAWAT NARIYAH MP3″ & HUKUMNYA MENURUT PEMAHAMAN AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH
Mereka kaum Sufi meyakini bahwa Shalawat Nariyah memiliki faedah yakni:
“…Jika mendapat kesusahan karena kehilangan barang, hendaknya membaca sholawat ini sebanyak 4444 kali. Insya Allah barang yang hilang akan cepat kembali. Jika barang tersebut dicuri orang dan tidak dikembalikan, maka pencuri tersebut akan mengalami musibah dengan kehendak Allah swt. Setelah membaca Sholawat ini hendaknya membaca do’a sebagai berikut (boleh dibaca dengan bahasa Indonesia): “ Ya Allah, dengan berkah Sholawat Nariyah ini, saya mohon Engkau kembalikan barang saya”. Doa ini dibaca 11 kali dengan hati yang penuh harap dan sungguh-sungguh..”
Bagaimana tinjauan Syari’ah terhadap “Shalawat Nariyah” dari para Ulama Ahlussunnah Waljama’ah?Berikut ini artikel yang ditulis oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari Al-Bugisi Hafidzahullah, semoga bisa menjadi pencerahan bagi kita semua.
*****
Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin. Bahkan ada yang menuliskan lafadznya di sebagian dinding masjid. Mereka berkeyakinan, siapa yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yang dialaminya. Berikut nash shalawatnya:
اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تُنْحَلُ بِهَ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ
Allahumma sholli sholaatan kaamilatan Wa sallim salaaman taaman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Alladzi tanhallu bihil ‘uqadu, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa’iju Wa tunaalu bihir raghaa’ibu wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghomaamu bi wajhihil kariimi, wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi ‘adada kulli ma’luumin laka
“Ya Allah, berikanlah shalawat yang sempurna dan salam yang sempurna kepada Baginda kami Muhammad yang dengannya terlepas dari ikatan (kesusahan) dan dibebaskan dari kesulitan. Dan dengannya pula ditunaikan hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yang baik, dan memberi siraman (kebahagiaan) kepada orang yang sedih dengan wajahnya yang mulia, dan kepada keluarganya, para shahabatnya, dengan seluruh ilmu yang engkau miliki.”
Ada beberapa hal yang perlu dijadikan catatan kaitannya dengan shalawat ini:
1- Sesungguhnya aqidah tauhid yang diseru oleh Al Qur’anul Karim dan yang diajarkan kepada kita dari Rasulullah shallallahu laiahi wasallam, mengharuskan setiap muslim untuk berkeyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya yang melepaskan ikatan (kesusahan), membebaskan dari kesulitan, yang menunaikan hajat, dan memberikan manusia apa yang mereka minta.
Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim berdo’a kepada selain Allah untuk menghilangkan kesedihannya atau menyembuhkan penyakitnya, walaupun yang diminta itu seorang malaikat yang dekat ataukah nabi yang diutus. Telah disebutkan dalam berbagai ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan haramnya meminta pertolongan, berdo’a, dan semacamnya dari berbagai jenis ibadah kepada selain Allah Azza wajalla. Firman Allah:
قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُوْنِهِ فَلاَ يَمْلِكُوْنَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحِْويْلاً
“Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya.” (Al-Isra: 56)
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan segolongan kaum yang berdo’a kepada Al Masih ‘Isa, atau malaikat, ataukah sosok-sosok yang shalih dari kalangan jin. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/47-48)
2- Bagaimana mungkin Rasulullah shallallahu alaihi wasallam rela dikatakan bahwa dirinya mampu melepaskan ikatan (kesulitan), menghilangkan kesusahan, dsb, sedangkan Al Qur’an menyuruh beliau untuk berkata:
قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ
“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (Al-A’raf: 188)
Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu mengatakan, “Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka beliau bersabda:
أَجَعَلْتَنِيْ للهِ نِدًّا؟ قُلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ
“Apakah engkau hendak menjadikan bagi Allah sekutu? Ucapkanlah: Berdasarkan kehendak Allah semata.” (HR. An-Nasai dengan sanad yang hasan)
(Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah 227-228, Muhammad Jamil Zainu)



















Posted by cayodi on 6 May, 2013 at 15:00
semoga tidak ada lagi yang disesatkan dengan syalawat ini…, kasian “niscaya amalnya tidak akan diterima. dan dapat siksa Allah”…:(
Posted by firman on 3 May, 2013 at 00:16
sooo tooooy looo..ga ush lah kometarin org lain dgn dalil2 yg hakikatnya hanya allah yg tau.lo kan manusia biasa bro yg tak luput dr salah dan khilaf.urus aja keyakinan kita masing2.
Posted by Maha Rani on 8 May, 2013 at 20:07
alangkah baiknya jika saling mengingatkan dlm hal kebaikan,,,bro
Posted by ujang rahmat on 22 April, 2013 at 16:10
rilex’s
Posted by paijo on 18 April, 2013 at 19:25
subhanalloh
Posted by jamal on 18 April, 2013 at 09:14
bershalawatlah sesuai ajaran Nabi SAW. Jangan bershalawat sesuai ajaran guru2 yg tidak jelas. Dalam diri Rasulullah SAW ada suri tauladan yg baik. Sesuai dengan Al-Quran. Dalam diri manusia yg mengajarkan shalawat nariyah ada apa ??? Apakah orng yg mengajarkan shalawat nariyah maksum ??? Hanya Nabi SAW yg maksum. Ikutlah ajaran Nabi SAW dan para sahabat. Bukan orng2 yg hidup ratusan/ribuan tahun setelah masa Nabi SAW dan para sahabat.
Posted by hamdi on 17 April, 2013 at 13:04
فيه شفاء للناس………….yang memberi obat Alloh apa apa yang ada dalam Alqur’an? mohon penjelasanny>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Posted by Muh Sukamto on 17 April, 2013 at 10:16
sudahlah mari kita gunakan kalimat : lanaa a’maalunaa wa lakum a’maalukum….bagi kami amal kami dan bagi kamu amal kamu…..demi menjaga ukhuwah diantara kita…..
Posted by Arjuno Ireng on 8 May, 2013 at 20:11
alangkah baiknya jika kita saling mengingatkan dlm hal yang baik
Posted by cakil on 15 April, 2013 at 22:03
Maaf gue cuma mau tau,ente belajar dimana? Tulisan nya Hemmm….
Posted by Aly on 15 April, 2013 at 02:29
Melihat jawaban dan dalil yg admin,cukup bagi saya mengetahui kedangkalan dan kejumudan ilmu ny
afwn
Posted by Arif R on 12 April, 2013 at 13:51
Sudah jelas adanya,jika sesuatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari Nabi maka hendaknya kita perlu kaji ulang,jangan kita terbelenggu karana taqlit yaitu langsung percaya saja apa yang dikatakan oleh guru guru kita,kyai kyai kita yang kita sendiri tidak tahu asal muasal amalan tersebut dari mana,dasarnya apa.
Posted by anisa on 11 April, 2013 at 16:11
kita ambil sisi baiknya aja…semua juga belajar…..ingat tidak ada manusia yang sempurna di bumi ini…..kalo ada yang salah tolong diluruskan…..jangan asal taukah anda…..belajar dimanakah anda……..beda guru beda ilmu…..kalo kita saling cari kesalahan orang lain tidak akan ada habisnya…..damai sesama muslim itu indah….saling mengisi itu ibadah…..