Mereka Bertanya Tentang Maulid Nabi (1)
Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed
Pada bulan Rabiul Awal ini, ada satu acara ritual tahunan yang biasa dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, yaitu Maulid Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Kali ini kami coba sampaikan beberapa tanya jawab seputar acara ritual yang seakan-akan menjadi kewajiban untuk dilaksanakan setiap tahunnya ini. Mereka bertanya tentang masalah-masalah tersebut sebagai berikut:
Apa hukum peringatan Maulid Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam?
Peringatan Maulid adalah perkara bid’ah. Acara ini tidak pernah dikerjakan oleh shahabat radhiyallahu ‘anhum dan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah mengajarkannya. Sedangkan dalam masalah syariat agama ini, kita tidak bisa membuat cara ibadah sendiri, atau menguranginya dan menambahnya dengan cara-cara ibadah yang baru.
Diriwayatkan oleh Aisyah, Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang tidak pernah ada daripadanya, maka hal itu tertolak.” (Mutafaqun ‘Alaih)
Dalam riwayat yang lain Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak pernah ada perintah kami padanya, maka hal itu tertolak.” (Hadits Riwayat Bukhary Muslim)
Jadi karena tidak ada tuntunan dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam maka amalan tersebut tertolak.
Bukankah perkara ini adalah bid’ah hasanah?
Jika kalian menganggap perkara tersebut adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), berarti kalian telah menganggap ada amalan ibadah yang baik yang belum diajarkan oleh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan tidak diamalkan oleh para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Itu maknanya, kalian menuduh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam berkhianat, karena beliau tidak menyampaikan satu kebaikan yang kalian kerjakan sekarang ini (Perayaan Maulid Nabi -Pent).
Padahal Rasulullah Sholallahu’Alaihi Wasallam tidak meninggalkan satu kebaikan pun, kecuali beliau telah mengajarkannya. Beliau bersabda (yang artinya), “Tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan kalian pada surga, kecuali sungguh telah aku perintahkan kalian semua dengannya. Dan tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan kalian ke neraka, kecuali aku telah melarang kalian dengannya.” (Hadits Riwayat Abu Bakar Al Hadad; Syaikh Al Albany telah menghasankannya dalam Ash Shahihah no 2886).
Abu Dzar Al Ghifary Radhiyallahu ‘Anhu berkata (yang artinya), “Sungguh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam telah meninggalkan kami dan tidak ada satu burung pun yang mengepakkan kedua sayapnya di udara kecuali telah disebutkan kepada kita ilmu tentangnya.” (Hadits Riwayat Ahmad)
Yang demikian karena mengajarkan kebaikan adalah amanah yang Allah Subhanahu Wata’ala berikan kepada setiap Rasul, sebagaimana diriwayatkan ‘Abdullah Bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya tidak ada satu nabi pun sebelumku, melainkan diwajibkan baginya agar menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diketahuinya dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang teleh diketehuinya” (Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya, kitab Al Imaraat bab Wujubul wafa’i bi bai’atil khulafa, juz 12/436)
Perhatikan hadits di atas dengan baik. Kita akan dapatkan bahwa hadits ini menerangkan tentang tugas seluruh para Rasul yaitu mengajarkan kebaikan yang diketahuinya dan memperingatkan umat dari kejelekan yang diketahuinya.
Kalau kalian menganggap ada kebaikan lain selain yang diajarkan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam maka ada 2 kemungkinan:
1. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam tidak mengetahui dan kalian merasa lebih tahu dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.
2. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam tahu tapi tidak menyampaikannya, ini berarti kalian menuduh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam mengkhianati risalah dan tugas para Rasul yang telah disebutkan dalam hadits di atas.
Kedua kemungkinan di atas adalah mustahil, tidak mungkin bagi Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam yang ma’shum (terjaga dari kesalahan)
Atau apakah kalian merasa lebih baik dari para shahabat Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, padahal merekan adalah manusia terbaik seteleh Rasulullah Sholallahiu ‘Alaihi Wasallam. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” (Hadits Riwayat Bukhari-Muslim)
Kalau acara yang kalian lakukan merupakan kebaikan, niscaya sudah dilakukan oleh generasi-generasi terbaik tersebut. Ingat agama ini telah sempurna, tidak membutuhkan penambahan maupun pengurangan. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artrinya), “Pada hari ini Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah kucukupkan kepada kalian nikmatku, dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagi kalian.” (Al Maidah: 3).
Ingat, agama ini telah sempurna, tidak membutuhkan penambahan maupun pengurangan. Allah berfirman (yang artinya), “Pada hari in telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam menjadi agama kalian.” (Al-Maidah:3)
Maka kebid’ahan yang kalian anggap baik merupakan anggapan bahwa agama ini belum sempurna, hingga perlu penambahan bid’ah-bid’ah baru.
Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “….maka wajib atas kalian untuk mengikuit sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan hidayah. Berpeganglah dengannya dan gigitlah dengan geraham kalian. Dan jauhkanlah dari kalian hal-hal yang baru, karena sesungguhnya semua perkara yang baru adalah bid’ah dan seluruh bid’ah adalah sesat.” (Hadits Riwayat Ahmad dan Abu Dawud)
Bagaimana dengan perkara baru seperti microphone, kendaraan bermesin, dan lain-lain yang belum pernah ada pada masa Rasulullah, bukankah itu merupakan bid’ah hasanah?
Kalian jangan pura-pura bodoh! Perkara baru yang sedang kita bicarakan ini (dalam hadits di atas -pent) adalah dalam masalah agama. bukan dalam masalah keduniaan. Bukankah beliau bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan kami” ? Yang dimaksudkan dengan “urusan kami” maksudnya adalah perkara agama. Adapun dalam masalah dunia beliau bersabda, “Kalian lebih tahu dalam urusan dunia kalian” (Hadits Riwayat Muslim)
Maksud kami kegiatan pada peringatan tersebut hanya dzikir dan pujian sholawat kepada Nabi. Bukankah itu semua kebaikan?
Amal ibadah itu disamping bentuknya harus dikerjakan dengan tata cara Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, juga waktunya harus sesuai dengan tuntunan Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.
Dzikir untuk mengingat Allah telah dituntunkan untuk dikerjakan setiap hari seperti dzikir setelah shalat 5 waktu, dzikir pagi dan sore, dan lain-lain. Sedangkan mengkhususkan dzikir pada acara Maulid Nabi atau pada tanggal bulan tertentu membutuhkan dalil khusus tentangnya. Dan sudah dikatakan para ulama bahwa tidak ada satu hadits pun yang memerintahkan dzikir khusus pada Maulid Nabi.
Apalagi pada pujian-pujian yang kalian baca pada acara tersebut seringkali terjatuh pada ghuluw dan tanathu (melampaui batas), seperti yang terdapat pada Barjanji dan Burdah Al Bushiri yang seringkali kalian baca pada acara-acara tersebut. Sebagai contoh adalah apa yang terdapat dalam Burdah Al Bushiri:
Wahai semulia-mulianya makhluk, Aku tidak mendapati bagiku seorang pelindung selain engkau ketika terjadi bencana yang merata….
Demikianlah kalian mengangkat kedudukan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sama dengan Allah Subhanahu Wata’ala dengan mengangkat beliau sebagai tempat bergantung dan tempat berlindung,sehingga ketika bencana menimpa, kalian berlindung kepada beliau. Ini adalah satu kesyirikan yang sangat berbahaya.
Padahal Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah (Wahai Nabi), “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan (menaqdirkan) sesuatu kemudharatan pun kepada kalian dan tidak pula suatu kemanfaatan”. Katakan (Wahai Nabi),”Sesungguhnya sekali-sekali tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari adzab Allah dan sekali tidak emndapat tempat berlindung selain daripada-Nya”.” (Al-Jin:21-22)
Sedangkan shalawat yang dibaca dalam acara-acara kalian tersebut, disamping mengkhususkan pada waktu tersenut adalah kebid’ahan, juga shalawat-shalawat yang sering dibaca tersebut adalah shalawat bid’ah yang dibuat oleh orang tertentu. Diantaranya adalah sholawat Nariyah. Tidak ada satu riwayat (hadits -pent) pun yang mengajarkan sholawat seperti itu. Akhirnya kalian terjerumus dalam perkara ghuluw (melampaui batas) kembali.
Coba perhatikan arti dari sholawat Nariyah tersebut:
Ya Allah berilah sholawat dengan sholawat yang sempurna dan berilah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna kepada junjungan kita Muhammad, yang dengannya dilepaskan simpul-simpul, dibukanya kesulitan-kesulitan, dipenuhinya kebutuhan-kebutuhan, didapatkannya harapan-harapan dan akhir yang baik, dan dimintanya hujan dengan wajahnya yang mulia. Dan kepada keluarganya serta para shahabatnya sejumlah apa yang ada untukmu
Apakah yang menakdirkan dan menentukan keselamatan, menghilangkan kesusahan dan memenuhi harapan-harapan adalah Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam? Atau kalian bertawasul dengan wajah Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam? Keduanya adalah kesyirikan yang diharamkan.
Tapi kami tidak mengetahui/memahami makna dari syair dan sholawat-sholawat tersebut….
Jika kalian tidak mengetahui arti dari sholawat-sholawat bid’ah tersebut, maka hal itu adalah musibah. Karena kalian adalah orang-orang yang taklid buta, mengikuti sesuatu dalam keadaaan kalian tidak mengetahui isinya.
Jika kalian telah mengetahui bahwa sholawat-sholawat tersebut mengandung kesyirikan dan ghuluw namun kalian tetap mengerjakannya, maka sungguh itu merupakan musibah yang lebih besar lagi, karena kalian menentang terhadap Al Qur’an dan As Sunnah dengan sengaja.
Semoga Allah Subhanahu Wata’ala melindungi kita dari segala macam kesyirikan dan kebid’ahan yang telah dibuat manusia dan menaqdirkan untuk selalu berada di atas kebaikan. Amin. Wallahu A’lam!
Sumber: Bulletin dakwah Manhaj Salaf edisi 99 tahun 3
“Mereka Bertanya Tentang Maulud Nabi
Sumber URL : http://ghuroba.blogsome.com/2007/03/27/tentang-maulid-nabi-1/


















Posted by Dany on 16 February, 2012 at 22:11
Bagaimana menurut admin tentang kitab anni’matul kubro ‘alaa al-’aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii), ana bru baca dsna menyebutkan dalil2nya ada dibilang mulai dr para shahabat hingga dr para imam. Nah pertanyaannya, siapakah Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii ini, ada yg tahu ga? & bgmn dg dalilnya, shahih jg ga ya? Mhn pencerahannya, mksh
Posted by ojo dumeh on 12 December, 2011 at 10:28
AssWrWb
Betapa lbh menakutkan manakala kita melihat fakta di lapngan yg entah krn ketidaktahuannya atau memang tahu tapi kekeh dg nafsu yg menganggap amalan yg dilakukan bukan termasuk bid’ah sehingga benar2 meraja-lela baik di kota2 maupun di desa2 bahkan di media lewat ceramah yg didahului BerShollawat Nariyah pd hal mengandung unsur menyekutukan Allah SWT yg justru sangat bertentangan dg turunnya Islam sbg koreksi atas ajaran Tauhid yg diplintir-plintir yg bermuara pd memohon sesuatu kpd selain Allah SWT. OKI sdh seharusnya para Da’i jgn justrtu sebaliknya belajar dan mengajarkan Ilmu Islam yg bertentangan dg Islam itu sendiri yg berdampak memudarkan cahaya Islam yg mrpkn ajaran paripurna- totalitas dlm bertauhid al sbgmn diajarkan tatkala berhaji. .Benar memang hingga akhir jaman pun Hadits sohih ttg Bid’ah tidak akan hilang…Tinggal kt sendiri mau memilih mana yg hak,,,atau mau memilih yg justru bathil dg berani menanggung sgl resiko ancaman hukuman baik yg di dalam Alqur’an maupun Hadits Sohih….Ya Allah bimbingnlah hambanu ini ke jalan yg lurus bukan jalan yg sesat lg Engkau murkai….Amin Hamba Allah
Posted by tyo pecinta rosulullah on 13 August, 2011 at 12:18
ASSALAMUALAIKUM WR.WB
mengenai essensi maulid adalah rasa cinta kepada baginda nabi.
lha kita hakikatnya pengene mencintai rosul; koq dari qt saling memusuhi ya.
lebih baek qt saling toleransi, dan saling menghargai.
toh didalam al qur an sudah dijelaskan bahwa setiap amal seberat biji zahrahpun Allah akan membalasnya.
jadi apabila ada orang yang merayakan maulid itu di biarkan saja.
semuanya pasti akan ada balasannya.
APA ANTUM TAU ALLAH SWT AKAN MEMBALAS PERBUATAN MAULID DENGAN BALASAN SEPERTI APA?APA PERBUATAN ITU AKAN MEMASUKAN QT KENERAKA?
KALAU ANTUM TAU,KALAU ALLAH SUDAH PASTI MEMASUKAN QT KEDALAM NERAKA
“apabila merayakan maulid” BERARTI ANTUM SUDAH TAU JUGA KAH ANTUM MAU DIMASUKAN KEDALAM MANA?jgn sombong dulu…
pada hakekatnya, qt sebagai manusia belum tau apakah amal qt akan DITERIMA OLEH ALLAH ATAU TIDAK. karena itu yang menilai hanyalah allah,karena setiap amal bersumber dari niat.
so sudah jelas yg ngebidahin maulid itu merupakan suatu pekerjaan yang didasari RASA BENCI terhadap saudara islam yang tidak sepaham denganya.
yang jelas perbuatan ini,ALLAH tidak akan berkenan dengan perbuatan ini karena niatnya aja pun udah didasari dengan KEBENCIAN.
kalau maulid itu bid ah,knapa antum2 yg sok suci itu, dengan enteng menggunakan internet?apakah ini juga gag bidah?woaow ” ternyata pemehaman kalian masih dangkal,tidak bisa ngebedain syriat dan budaya”
ana jga mo ngasih contoh,
bagi yang suka membidah2kan tolong simak baik2
“AL QUR AN ITU DI BUKUKAN TIDAK PADA JAMAN NABI.APAKAH AL QUR AN BID AH?TRUZ KLO SESUATU YANG DIADA2 DAN TIDAK DILAKUKAN DIZAMAN NABI ITU BIDAH, MENGAPA ANTUM MASIH MENGGUNAKANNYA(XLO ANTUM MENGANGGAP BID AH PERBUATAN YANG TIDAK DILAKUKAN OLEH PADA JAMAN ROSUL).
APA NGGA LEBIH BAIK ANTUM CARI TUCH AL QUR AN DENGAN TULISAN ASLI YANG ADA DIBATU,DITULANG2 DLL.
TRUZ JUGA DALAM AL QUR AN SENDIRI TIDAK TERDAPAT TANDA HAROKAT. YA ANTUM JUGA MENGGUNAKAN AL QUR AN YANG TIDAK ADA HAROKATNYA DUNK N YANG PENTING LAGI, “agar kaga bid ah nech” CARI EA YANG MASIH OTENTIK DENGAN DULUNYA.
APAKAH ANTUM BISA MELAKUKAN SEPERTI ITU?
TRUZ, KALAU BERJIHAD DENGAN BOM BUNUH DIRI ITU MERUPAKAN AJARAN ROSUL?
KAN DIJAMAN ITU KAGA ADA BOM.
TRUZ NAPA YA NGAKUNYA PENGEN BERJIHAD SEPERTI NABI “biar kaga bid ah” akan tetapi mengorbankan orang lain sebagai eksekutor. bukannya siOTAK PEMBUAT BOM SENDIRI. PADAHAL,NABI DIDALAM BERPERANG ITU SELALU BERADA DI BARISAN TERDEPAN LHO. NAPA ANTUM YANG DIBELAKANG?
SUNGGUH ANEH MENGATAKAN CINTA NABI,IKUT SUNNAH TANPA BID AH, TAPI JUGA KURANG SESUAI DENGAN APA YANG DIAJARKAN NABI.
JADI SUDAH SELAYAKNYA QT INTROSPEKSI DIRI KITA MASING MASING. JANGANLAH SALING MENYALAHKAN.
YANG AHLLUSSUNNAH WAL JAMAAH, JNGN MENYALAHKAN ORANGN YG suka MEMBID AH2KAN,
SOLUSI TERMUDAH ADALAH
“AMAL QU MERUPAKAN TANGGUNG JAWABKU”
“DAN AMALMU MERUPAKAN TANGGUNG JAWABMU”
karna toh qt belum tau qtlahg yang benar,ato salah.
qt juga belum tau apakah qt masuk surga ato neraka.
yang penting qt ibadah karena ALLAH,BUKANYA RASA MEMBENCI DENGAN YANG LAINNYA.
mhon maaf apabila kata2 saya ada yang merasa tersinggung bukan niat saya untuk membenci antum semua,tapi karena keinginan niat saya untuk menyatukan umat islam menuju kejayaan yang sanggup bersaing dengan para orang kafir. agar islam jaya,makmur,sentosa, dan menuju insan kamil dari diri seorang muslim ini.
karena PADA HAKEKATNYA PERBEDAAN ADALAH RAHMAT APABILA QT MENYIKAPINYA DENGAN PENUH BIJAKSANA.
wallahuallam bishowab
waallahulmuwafiq ila aqwamithoriq
wassalamulaikum wr wb
Posted by Rafi Akbar on 31 March, 2011 at 08:05
yang mau bid’ah ya bid’ah, yang engga ya engga… klo saya bilang itu bid’ah, serasa ada yang ngganjal…
Posted by Habib Al-Husna on 2 February, 2011 at 10:12
MAULID
by Umat Dhoif
Apakah maulid bisa menjadi sesuatu yang bid’ah (dholalah)?
Ya bisa, jika Anda menganggap maulid adalah sebuah ibadah yang dzatnya adalah ibadah seperti sholat wajib.
…
Nah perlu saya garis bawahi pertanyaan-pertanyaa seperti, apakah dasar merayakan maulid?
INI ADALAH PERTANYAAN YANG SALAH. Tidak ada ceritanya namanya wasail ada dalil naqlinya.
Contoh lagi biar lebih gampang mencerna : Anda berangkat ke sekolah, ini adalah wasail, maqoshidnya tholabul ilmi, tapi karena tholabul ilmi itu hukumnya wajib maka berangkat ke sekolahpun menjadi wajib dan bernilai ibadah. Dalil yang ada adalah dalil tentang tholabul ilmi.
Bagaimanakah dalil yang menyuruh kita berangkat ke sekolah?
JELAS TIDAK ADA!! Karena ini adalah wasail atau sarana.
Begitupula dengan maulid, kalau Anda tanya dalil maqoshidnya yaitu tentang mengenal dan mengagungkan Rasul ya pasti ada. Tapi jika Anda tanya dalil wasailnya, yaitu perayaan Maulid. JELAS TIDAK ADA!! karena ini adalah wasail atau sarana.
Sedikit tambahan, ini juga dasar kenapa bermadzab itu wajib hukumnya bagi kita? Karena madzab adalah wasail, dan ini satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk mengerti agama ini, kita gak mungkin bertanya langsung ke Rasul saw,sedangkan maqoshidnya agar kita bisa mengerti tentang agama Islam sehingga kita bisa mengamalkannya dengan benar (hukumnya ini wajib). maka bermadzab menjadi wajib. Kalau Anda tanya mana dalil naqlinya secara leterleg yang menyuruh kita bermadzab? Ya gak ada, lha wong bermadzab itu cuma wasail.
Saya harap setelah ini Anda-Anda bisa belajar dan lebih mengerti sehingga tidak serampangan dalam bertanya.
Jangan sedikit-sedikit bertanya “MANA DALILNYA?” tanpa tahu sesuatu hal itu perlu dalil atau tidak.
Bagaimana pertanyaan bisa dijawab, kalau pertanyaannya saja salah????
@ Baarokallaahu fiikum, Saya harap Anda juga bisa belajar dan lebih mengerti sehingga tidak serampangan dalam berkomentar :
1. Sebaiknya anda pahami dulu apa definisi ibadah dan syarat diterimanya Ibadah sehingga anda tidak salah paham dalam menilai suatu permasalahan. Di antara definisi terbaik dan terlengkap mengenai Ibadah adalah yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullah mengatakan, “Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (batin) maupun yang nampak (lahir).
Semua orang mengetahui, mereka mengamalkan Maulid adalah untuk menambah kecintaan kepada Allah Ta’ala dan Rosul-Nya Shallallaahu ‘alaihi wasallam. silahkan baca :
http://kaahil.wordpress.com/2010/04/03/yang-penting-niatnya-kan-baik-bukankah-para-penjahat-juga-jika-ditanya-kenapa-ia-melakukan-kejahatan-itu-niscaya-mereka-mengatakan-bahwa-niat-mereka-baik-untuk-menafkahi-anak-dan-isteri/
2. Jika anda membedakan Ibadah berdasarkan wasail dan maqasidnya, maka jangan dipersalahkan contoh orang yang menambah sholat shubuh menjadi 3 roka’at karena, penambahan yang dilakukan orang tersebut hanyalah “sarana” untuk memperoleh pahala yang lebih besar.
ketahuilah, niat baik yang ikhlas saja tidak cukup namun harus mencontoh Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. silahkan baca :
http://kaahil.wordpress.com/2010/07/23/inilah-2-syarat-diterimanya-amal-ibadah-kita-diterimakah-amalannya-orang-kafir-apa-saja-syarat-sempurnanya-amalan/
3. Apakah anda merasa lebih paham agama dibanding para shohabat ? jika maulid itu adalah suatu kebaikan tentu mereka yang paling awal dan terdepan untuk mengamalkannya.
4. Jangan sedikit-sedikit bertanya “MANA DALILNYA?”
pertanyaan yang aneh, untuk apa Al-Qur’an dan hadits kalo kita tidak membutuhkan dalil ketika akan melakukan suatu ibadah..? Berhati-hatilah dalam menyandarkan suatu amalan karena :
عَنْ الْمُغِيْرَةِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ كَذِباً عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.
“Dari Mughirah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Se-sungguhnya berdusta atas (nama)ku tidaklah sama seperti berdusta atas nama orang lain. Barangsiapa berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, maka hendak-lah ia mengambil tempat duduknya dari Neraka.” [ HSR. Al-Bukhari (no. 1291) dan Muslim (I/10), diri-wayatkan pula semakna dengan hadits ini oleh Abu Ya’la (I/414 no. 962), cet. Darul Kutub al-‘Ilmiyyah dari Sa’id bin Zaid.)]
Maksud berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ialah: “Membuat-buat omongan atau cerita dengan sengaja yang disandarkan atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mengatakan: ‘Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda atau mengerjakan begini dan tidak mengerjakan hal yang demikian.’”
Bagaimana amalan bisa dilakukan, kalau pendalilannya saja salah????
Posted by Amaini on 24 January, 2011 at 06:25
Salam.pak
ustaz,saya ingin bertanya kepada anta,adakah pak ustaz sentiasa bersalawat ke atas nabi s.a.w,sentiasa berzikir,..jgn menggunakan ilmu anda untuk memperendahkan ulama’ lain.Beristighfarlah pakustaz..jgn suka gunakan ilmu untuk menjatuhkan orang lain..Taubat pakustazyang sombong….Nabi s.a.w bersabda:Bukanlah solat,dan amalan yang layak membawa kita ke syurga,akn tetapi dengan rahmat Allah..ya byeso.bertaubatlah kepada Allah..@ silahkan dibaca kembali artikel diatas, bukan sholawatnya yang dipermasalahkan.. namun mengkhususkan bacaan sholawat hanya pada waktu dan momen tertentu. sebagaimana anda tentu saja tidak akan mau bukan membaca sholawat ketika sedang sujud sholat?
Syari’at Islam sudah lengkap, mengapa masih perlu membuat model sholawat pada waktu tertentu yang tidak pernah dicontohkan oleh Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam serta para shohabatnya..?
Jika anda benar2 menghormati Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka luangkanlah sedikit waktu dan tenaga untuk menulis dan menyebut nama Beliau dengan tidak menyingkatnya sengan s.a.w. atau yang sejenis..
silahkan baca : http://www.assalafy.org/mahad/?p=479#more-479
Baarokallaahu fiikum.
Posted by pak dodod on 1 September, 2010 at 09:34
Terima kasih, semoga menjadi ilmu yg bermanfaat. Amiin.
Saran buat mas Irfan. Alangkah baiknya bila respon terhadap penanya dijawab dengan tenang dan tidak bernada menyalahkan yang lain. Bukan kah tugas kita saling menasehati, bukannya menjelekkan yg lain. Cukup lah tugas kita sesama muslim dg saling nasihat menasihati, selebihnya hanya Allah yg bisa membuka hati seseorang.
Posted by martoklungsu on 21 August, 2010 at 11:58
MOHON IZIN COPY TANYA JAWAB MAULID NABI : Bukankah itu Bid’ah Hasanah Seperti halnya mobil,mikrofon,dll? Apakah Salah jika Kami Berdzikir, Bershalawat dan Mengenang Jasa-jasa Beliau?
Posted by martoklungsu on 14 August, 2010 at 14:30
wahai ahlul bid’ah camkan hadits Nabi SAW berikut ini :
1. Apabila kamu melihat orang-orang yang ragu dalam agamanya dan ahli bid’ah sesudah aku (Rasulullah SAW) tiada, maka tunjukkan sikap menjauh (bebas) dari mereka. Perbanyaklah lontaran cerca dan kata tentang mereka dan kasusnya. Dustakan mereka, agar mereka tidak makin merusak (citra) Islam. Waspadailah pula orang-orang yang dikhawatirkan meniru-niru bid’ah mereka. Dengan demikian Allah akan mencatat bagimu pahala dan akan meningkatkan derajat kamu di akhirat (HR. Ath-Thahawi).
2. Barangsiapa menipu umatku maka baginya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia.Nabi SAW ditanya, “Ya Rasulullah, apa pengertian tipuan umatmu itu?. Beliau menjawab, “Mengada-adakan amalan bid’ah, lalu melibatkan orang-orang kepadanya.” (HR. Daruquthni).
Posted by irfan maulana on 25 April, 2010 at 23:26
Perlu diketahui…Maulid bukanlah Syariat Islam,tapi Budaya Islam yg baik untuk dilaksanakan,Memang benar Bid’ah dfala urusan Ushuludin(pokok2 agama) adalah sesat,Tapi Bid’ah dalam masalah puru dan duniawi tdk apa2,contohnya jaman skarang menentukan shalat dengan jam,padahal Zaman Rasull tdk aeperti itu krn blm ada jam dinding dll..trus masalah Ilmi tajwid supaya kita membaca Al_Quran dgn benar hal itu pun tdk ada pada zaman Rasululloh….tapi apakah itu Bid’ah yg dhalalah..??tentu tdk saudaraku..!!!!!!!!!Walaupun tdk ada pd Zaman Rasululloh tp itu adalah Hal baru yg sangat baik dan Bermanfaat…
masalah merayakan Maulid bukan berarti orang yg melaksanakannya menganggap bahwa ajaran Rasululloh ada yg kurang/belum disampaikan (jgn berprasangka buruk gk baik saudaraku),fahami dulu tujuan dr Maulid,yg dilakukan dalam Maulid adalah,bershalawat,membaca Al-Quran,bersilaturahim,bersodaqoh..Apakah itu ada dasar Hukumnya dalam Al-Quran dan Hadist..tentu saja ada…
perlu diketahui sudaraku,Umat Islam yg melaksanakan Maulid tdk menganggap Maulid sbg syari’at Islam tp maulid dalah budaya Islam yg perlu dilestarikan krn sangat banyak skali Manfaatnya…
Sudahlah saudaraku jgn selalu memperdebatkan hal2 smacam ini,klw Antum anti Maulid ya silahkan gk ada yg memaksa,jgn merasa paling benar dalam menjalankan Syari’at,gk ada manfaatnya antum menulis artikel seprti ini,coba berfikir lebih bijaksana krn itulah yg dicntohkan Rasululloh dan kebijaksanaan adalah tanda Mukmin sejati,sudahlah jgn membuat hal2 yg bisa `memecah belah Umat Islam……jgn bertingkah seperti Wahabi krn berbahaya bgi persatuan Umat Muslim
@ he..he.. dapat komentar lucu nih wkwkwkwk… sy tampilin..aach..
1. …Maulid bukanlah Syariat Islam,tapi Budaya Islam..
Apa seh bedanya… jadi sampeyan menganggap ada bagian budaya yang terpisah dari syaria’at Islam itu sendiri..? Kenapa harus berusah-susah mengamalkan “budaya” sedang syari’at Islam itu sendiri sudah lengkap dan masih banyak yang belum bisa kita laksanakan.
2…Tapi Bid’ah dalam masalah puru dan duniawi tdk apa2..
Apa seh dalil pembagian ushul dan furu’ (sy betulin ya nulisnya bukan PURU)..?
Kalo sampeyan menganggap budaya Maulid termasuk “furu” lalu kenapa bersusahpayah membela yang furu’ daripada yang ushul?
Baca dul, Adakah pembagian Ushul dan Furu’ dalam Islam?
3… fahami dulu tujuan dr Maulid,yg dilakukan dalam Maulid adalah,bershalawat,membaca Al-Quran,bersilaturahim,bersodaqoh..Apakah itu ada dasar Hukumnya dalam Al-Quran dan Hadist..tentu saja ada…
Kamsudnya masalah niat maulid kan baik, beginut? http://kaahil.wordpress.com/2010/04/03/yang-penting-niatnya-kan-baik-bukankah-para-penjahat-juga-jika-ditanya-kenapa-ia-melakukan-kejahatan-itu-niscaya-mereka-mengatakan-bahwa-niat-mereka-baik-untuk-menafkahi-anak-dan-isteri/
4. Sudahlah saudaraku jgn selalu memperdebatkan hal2 smacam ini,klw Antum anti Maulid ya silahkan gk ada yg memaksa..
Apakah tidak boleh kita saling menasehati dalam kebaikan..?http://kaahil.wordpress.com/2010/03/28/mengapa-kalian-malah-sibuk-memperdebatkan-masalah-sunnah-bidah-apakah-kalian-tidak-memikirkan-saudara-saudara-muslim-kalian-yang-sedang-dibantai-amerika-israeldkk-%e2%80%a6%e2%80%9d/
5. …jgn bertingkah seperti Wahabi krn berbahaya bgi persatuan Umat Muslim..
Yuk, berkenalan dengan wahhabi : http://kaahil.wordpress.com/2010/04/23/menelusuri-sejarah-penamaan-wahhabisme-wahabi-wahhabiyah-apakah-wahabi-itu-muhammadiyyah/
he..he.. sayang banget sampeyan nulis komen disini, tapi tidak membawakan dalil secuil pun..
jika Tulisan diatas menurut sampeyan salah, bantahlah dengan cara Ilmiyyah bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah serta memahaminya dengan pemahaman sahabat. Jangan cuma pake perasaan atau semangat tinggi “tanpa dasar” namun tampilkanlah perkataan sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan perkataan ‘ulama ahlul hadits yang mendukung argumen yang “membolehkan” maulid sebagai budaya Islam.
Baarokallaahu fiikum saudaraku Irfan Maulana..
Posted by rajaputih on 14 March, 2010 at 07:03
lalu bagaimana dengan sekolah ??
bukankah itubagian dari perkara agama ??
dan itu artinya juga bagian dari bid’ah yang anda katakan dhalalah !!
@ supaya tidak salah paham, baca dulu atuh kang keterangan tentang Bid’ah yang dimaksud, disini..
BID’AHKAH MOTOR : “Dikit-dikit bid’ah, dikit-dikit bid’ah,” “apa semua yang ada sekarang itu bid’ah?!” “kalau memang maulidan bid’ah, kenapa kamu naik motor, itukan juga bid’ah.”
Posted by abdurrahman on 22 February, 2010 at 22:59
koq masih ada ya, GERAKAN ANTI MAULID,ANTI SHALAWAT dan ANTI TAHLIL?
@ sy jg heran mas, kenapa ya msh ada Gerakan yg berani mengamalkan “bentuk2 ibadah” yg tdk pernah dicontohkan Rosulullah dan para sahabatnya?
Apa yg Beliau ajarkan itu “masih kurang” sehingga qt hrs bersusah payah mengeluarkan waktu,pikiran dan tenaga utk amalan yg sia2 belaka?
Allaahul musta’aan..
Posted by Bambang Nugroho on 3 March, 2010 at 16:13
Maaf Ikut-ikutan Nich…….
Ilmu Agama saya masih cetek Banget……….
Tapi Menurut Saya Amalan Shunah Dari Rosulullah Begitu Banyak,Coba Kita Renungkan Bersama-sama dengan hati yang bersih dan Jujur,Sudah ” BERAPA BANYAK AMALAN DARI RASULULLAH YANG RUTIN KITA KERJAKAN ” saya yakin kalau di urut dan di tulis di selembar kertas tidak ajam pernah penuh……….
Soooo……..Kenapa kita menambah Amalan yang lain-lain……………
Maaf Kalau Tulisan Saya Ini Banyak Salahnya….Mohon Koreksi……
@ Setuju pak Bambang.. mantap.
Posted by Muhammad Tarmizi on 22 February, 2010 at 18:27
Assalamu’alaikum warahmatUllahi wabarokatuh.
Saya seorang murid yang masih meraba-raba mencari kebenaran,
Semua dipaparkan di atas cukup jelas dan bisa diterima, hanya saja masih ada yang mengganjal, saya ingin bertanya:
Ada sebuah percakapan antara ustadz dan muridnya ketika peringatan maulid Nabi,
Murid : Ya Ustadz, kenapa kita melaksanakan peringatan Maulid Nabi, padahal tidak diajarkan Oleha Rasullullah.
Sang ustadz menjawab dengan balik bertanya: Hal apa yang sebaiknya kita lakukan pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW
apakah 1. Berbuat maksiat
2. Berdiam diri
3. Bersholawat dan berzikir sambil mengenang Sirah Nabawi (Semisal dalam bentuk pembacaan berzanji)
Sang murid menjawab jawaban nomor 3 yang baik.
Nah dalam hal menjawab pertanyaan ini maka saya juga berpendapat demikian, karena niat yang dilakukan hanyalah untuk bersholawat dan berzikir pada hari kelahiran Nabi, bukan menambahi ritual ibadah yang diajarkan Rasul tetapi itu termasuk ibadah Ghairu mahdhah. Seperti jika kalian berzikir membaca istighfar ada yang terbiasa 33 kali sehari, ada 99 kali dll, semuanya diterima Allah SWT,
Analoginya misalkan saya berniat setiap saya ulang tahun saya akan berzikir,
Atau misalnya ada seseorang terbiasa membaca Alquran Surah Tertentu setiap pagi,
Kalau misalnya hal tersebut termasuk menambahi ajaran Rasulllullah SAW, berarti yang dimaksud ajaran Rasulllullah SAW hanya ibadah Mahdah.
Mohon kiranya ditanggapi..
Wassalamualaikum Warahmatullahiwabarokatuh
@ Wa’alaikumussalaam Warohmatullaahi Wabarokatuh
1. Niat yang baik saja tidak cukup, kalo dalam masalah Ibadah. karena syarat diterima amalan ada 2, Niat yang ikhlas untuk Allah Ta’ala dan Caranya harus mencontoh Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.
- Kalo cara ibadahnya sdh mencontoh Rosulullah, tapi niatnya tidak ikhlas maka termasuk Riya’ atau syirik.
- Sebaliknya jika niatnya ikhlas dan baik, tapi caranya tidak pernah dituntunkan oleh Rosulullah maka disebut Bid’ah yang terlarang.
jadi harus lengkap keduanya, sebagaimana 2 kalimah syahadat.
Contoh : seseorang shalat kemudian ruku’, apa yang dilakukan :
a. berdiam diri
b. baca do’a yang dituntunkan : Subhaana rabbiyal adhiim..dan yang semisalnya
c. membaca surat Al-Qur’an
d. Bernyanyi
Tolong dijawab?
Apakah boleh membaca surat Al-Qur’an ketika ruku’? bukankah membaca Al-Qur’an adalah amalan yang sangat mulia?
2. Bersholawat dan berzikir sambil mengenang Sirah Nabawi, adalah amalan yang mulia, tetapi caranya pun sudah dituntunkan oleh Beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam ; kapan waktunya, cara berdzikirnya, dll semuanya sudah lengkap dan sempurna diajarkan. Mengapa itu dilakukan hanya pada waktu maulid saja? apakah hari kelahiran itu memiliki “nilai lebih” dibanding hari yang lain? adakah dalilnya?
masih banyak amalan lain yang sudah jelas dituntunkannya, namun kita belum bisa melaksanakannya. Mengapa harus capek-capek mengeluarkan waktu, tenaga dan biaya untuk sesuatu yang sia-sia?
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِـيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengadakan suatu yang baru yang tidak ada dalam urusan agama kami, maka amalan itu tertolak”.
Dalam riwayat Imam Muslim, “Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak atas dasar urusan kami, amalan tersebut tertolak”.
Analogi : sepatu itu baik untuk kaki, namun jika ada orang yang memakainya di kepala? adakah seseorang yang mengajarkan demikian?
3. Apa dalil pembagian Ibadah menjadi Mahdhah dan Ghair mahdhah? letak perbedaannya?
Seorang ulama Malikiyah, Syaikh Tajuddin ‘Umar bin ‘Ali –yang lebih terkenal dengan Al Fakihaniy- mengatakan bahwa maulid adalah bid’ah madzmumah (bid’ah yang tercela). Beliau memiliki kitab tersendiri yang beliau namakan “Al Mawrid fil Kalam ‘ala ‘Amalil Mawlid (Pernyataan mengenai amalan Maulid)”.
Beliau rahimahullah mengatakan, “Aku tidak mengetahui bahwa maulid memiliki dasar dari Al Kitab dan As Sunnah sama sekali. Tidak ada juga dari satu pun ulama yang dijadikan qudwah (teladan) dalam agama menunjukkan bahwa maulid berasal dari pendapat para ulama terdahulu. Bahkan maulid adalah suatu bid’ah yang diada-adakan, yang sangat digemari oleh orang yang senang menghabiskan waktu dengan sia-sia, sangat pula disenangi oleh orang serakah pada makanan. Kalau mau dikatakan maulid masuk di mana dari lima hukum taklifi (yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram), maka yang tepat perayaan maulid bukanlah suatu yang wajib secara ijma’ (kesepakatan para ulama) atau pula bukan sesuatu yang dianjurkan (sunnah). Karena yang namanya sesuatu yang dianjurkan (sunnah) tidak dicela orang yang meninggalkannya. Sedangkan maulid tidaklah dirayakan oleh sahabat, tabi’in dan ulama sepanjang pengetahuan kami. Inilah jawabanku terhadap hal ini. Dan tidak bisa dikatakan merayakan maulid itu mubah karena yang namanya bid’ah dalam agama –berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin- tidak bisa disebut mubah. Jadi, maulid hanya bisa kita katakan terlarang atau haram.” (Al Hawiy Lilfatawa lis Suyuthi, 1/183)
Sekali lagi apakah perkataan Al Fakihaniy di atas ini keliru? Mana kelirunya? Lihatlah saudaraku tercinta, beliau tidak membedakan seperti yang antum katakan, kalau dalam muamalah tidak bid’ah, kalau dalam ibadah baru bid’ah.
Posted by Muhammad Tarmizi on 7 March, 2010 at 02:55
Yaa
Ustadz,,, saya masih bingung dalam beberapa hal1. Niat yang baik saja tidak cukup, kalo dalam masalah Ibadah. karena syarat diterima amalan ada 2, Niat yang ikhlas untuk Allah Ta’ala dan Caranya harus mencontoh Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.
- Kalo cara ibadahnya sdh mencontoh Rosulullah, tapi niatnya tidak ikhlas maka termasuk Riya’ atau syirik.
- Sebaliknya jika niatnya ikhlas dan baik, tapi caranya tidak pernah dituntunkan oleh Rosulullah maka disebut Bid’ah yang terlarang.
jadi harus lengkap keduanya, sebagaimana 2 kalimah syahadat.
@
(Sampai disini saya sependapat….. yang jadi persoalaan bukan setuju atau tidak setuju dengan dalil bid’ah karena semua orang muslim pasti setuju bahwa kita harus menjauhi bid’ah,,, yang jadi persoalan adalah apakah perayaan maulid itu tersebut tergolong bid’ah,,, “perayaan maulid dalam artian membaca Quran, berzikir bersama, bersholawat bersama,belajar agama dan mengenang sejarah nabi,,, bukan dengan acara memandikan kerbau keramat atau melarung sesajen ke laut atau sejenisnya,,,,, Jika ada tambahan seperti itu maka bagian bid’ah itu adalah bagian sesajen dkk tadi dan tentu saja bagian berzikir tetap dihitung ibadah,, karena yang haq dan yang bathil tidak akan tercampur,, ketika manusia mencampurkannya maka Allah tetap memisahkannya ,, Perkara zikir ditimbang Allah sebagai Ibadah dan perkara sesajen dihitung bid’ah dan syirik)
saya pikir sederhana sekali.. mengheningkan cipta pada upacara itu ibadah,,, perayaan 17 agustusan itu ibadah,,mengenang jasa pejuang islam itu ibadah,, apalagi mengenang dan mempelajari Perjuangan Rasullullah…
(Berikut Tulisan Ustadz,,,)
Contoh : seseorang shalat kemudian ruku’, apa yang dilakukan :
a. berdiam diri
b. baca do’a yang dituntunkan : Subhaana rabbiyal adhiim..dan yang semisalnya
c. membaca surat Al-Qur’an
d. Bernyanyi
Tolong dijawab?
Apakah boleh membaca surat Al-Qur’an ketika ruku’? bukankah membaca Al-Qur’an adalah amalan yang sangat mulia?
@
(Saya memilih jawaban B.. karena jawaban yang lain menambahi rukun sholat dan tentu saja termasuk bid’ah atau menambah-nambahi atau mengada-adakan yang tidak diajarkan Rasul. Dan jelas tidak boleh membaca bacaan selain bacaan Sholat, sedangkan peringatan MAulid bukanlah Sholat,, Yaa Ustadz Jika membaca Alquran dilakukan ketika Puasa, ketika berzakat, ketika berhaji apakah termasuk menambahi,, menurut saya disini titik temunya,, kita boleh membaca Alquran, berzikir, Sholawat kapanpun kecuali ketika shalat,, karena Bacaan sholat sudah ada rukunnya)
(Tulisan Ustadz,,)
. Bersholawat dan berzikir sambil mengenang Sirah Nabawi, adalah amalan yang mulia, tetapi caranya pun sudah dituntunkan oleh Beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam ; kapan waktunya, cara berdzikirnya, dll semuanya sudah lengkap dan sempurna diajarkan.
@
(Ya,, bukankah Berzikir, bersholawat yang dilakukan ketika Maulid NAbi merupakan bagian dari kesempurnan itu,,,dengan catatan bukan peringatan maulid Nabi dengan memotong hewan untuk persebahan *bukan untuk hidangan,,,, ***semoga bisa ditangkap maksud saya)
(Tulisan Usadz,,)
Mengapa itu dilakukan hanya pada waktu maulid saja? apakah hari kelahiran itu memiliki “nilai lebih” dibanding hari yang lain? adakah dalilnya?
@… Saya pikir mengingat Hari kelahiran Nabi adalah perbuatan baik dan dan diberi pahala oleh Allah,, misalkan setiap tanggal 1 Januari saya mendoakan sahabat saya karena saya ingat pada tanggal tersebut saya diajarinya ketika sidang sarjana,,
malah saya berpikir berdosa jika kita membenci orang yang memuliakan hari kelahiran Nabi
(Tulisan Ustadz)
masih banyak amalan lain yang sudah jelas dituntunkannya, namun kita belum bisa melaksanakannya. Mengapa harus capek-capek mengeluarkan waktu, tenaga dan biaya untuk sesuatu yang sia-sia?
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِـيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengadakan suatu yang baru yang tidak ada dalam urusan agama kami, maka amalan itu tertolak”.
Dalam riwayat Imam Muslim, “Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak atas dasar urusan kami, amalan tersebut tertolak”.
Analogi : sepatu itu baik untuk kaki, namun jika ada orang yang memakainya di kepala? adakah seseorang yang mengajarkan demikian?
@
Saya sependapat ya ustadz,, sekali lagi yang menjadi persoalaan “saya” adalah apakaah peringatan Maulid termasuk suatu amalan yang tidak atas dasar urusan kami, amalan tersebut tertolak”.
Mengenai analogi sepatu mohon kiranya ustadz lihat lagi,, atau karena saya saja yang kurang tanggap sehingga saya tidak melihat relevansi memakai sepatu di kepala seperti orang memperingati hari kelahiran nabi,,, mohon kiranya dijelaskan atau dicontohkan dengan analogi yang lain,
Ya ustads bukankah seluruh amal muamalah itu termasuk ibadah,, jual beli itu ibadah,, memberi hadiah itu ibadah,, selama dikerjakan dengan cara yang syar’i
(Tulisan ustadz)
3. Apa dalil pembagian Ibadah menjadi Mahdhah dan Ghair mahdhah? letak perbedaannya?
Seorang ulama Malikiyah, Syaikh Tajuddin ‘Umar bin ‘Ali –yang lebih terkenal dengan Al Fakihaniy- mengatakan bahwa maulid adalah bid’ah madzmumah (bid’ah yang tercela). Beliau memiliki kitab tersendiri yang beliau namakan “Al Mawrid fil Kalam ‘ala ‘Amalil Mawlid (Pernyataan mengenai amalan Maulid)”.
Beliau rahimahullah mengatakan, “Aku tidak mengetahui bahwa maulid memiliki dasar dari Al Kitab dan As Sunnah sama sekali. Tidak ada juga dari satu pun ulama yang dijadikan qudwah (teladan) dalam agama menunjukkan bahwa maulid berasal dari pendapat para ulama terdahulu. Bahkan maulid adalah suatu bid’ah yang diada-adakan, yang sangat digemari oleh orang yang senang menghabiskan waktu dengan sia-sia, sangat pula disenangi oleh orang serakah pada makanan. Kalau mau dikatakan maulid masuk di mana dari lima hukum taklifi (yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram), maka yang tepat perayaan maulid bukanlah suatu yang wajib secara ijma’ (kesepakatan para ulama) atau pula bukan sesuatu yang dianjurkan (sunnah). Karena yang namanya sesuatu yang dianjurkan (sunnah) tidak dicela orang yang meninggalkannya. Sedangkan maulid tidaklah dirayakan oleh sahabat, tabi’in dan ulama sepanjang pengetahuan kami. Inilah jawabanku terhadap hal ini. Dan tidak bisa dikatakan merayakan maulid itu mubah karena yang namanya bid’ah dalam agama –berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin- tidak bisa disebut mubah. Jadi, maulid hanya bisa kita katakan terlarang atau haram.” (Al Hawiy Lilfatawa lis Suyuthi, 1/183)
Sekali lagi apakah perkataan Al Fakihaniy di atas ini keliru? Mana kelirunya? Lihatlah saudaraku tercinta, beliau tidak membedakan seperti yang antum katakan, kalau dalam muamalah tidak bid’ah, kalau dalam ibadah baru bid’ah.
@
dan inilah paling membimbangkan saya,, yaa Ustadz ,, InsyaAllah saya orang yang mudah patuh terhadap kesepakatan Ulama,, saya tidak tahu pernyataan tersebut sudah menjadi kesepakatan ulama,, Mudah2an Allah SWT memberikan petunjuk bagi saya dan bagi Kita semua .. Aminn.
@ Pak Tarmizi yang saya hormati,
1. saya tidak akan menjawab semua pertanyaan Bapak diatas, yang jelas sebelum kita mengatakan sesuatu itu bid’ah atau bukan maka terlebih dahulu kita harus mengetahui dan memahami:
a. Makna Ibadah (mana saja yang termasuk ibadah dan bukan) serta syarat diterimanya amalan apa saja
b. Hakikat dan bukti kecintaan kita kepada Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam (caranya, bentuknya, dll)
c. Mengembalikan semua permasalahan dengan dalil dari Qur’an dan Sunnah serta memahaminya harus dengan pemahaman para sahabat, karena merekalah yang paling mengetahui maknanya.
semuanya sudah lengkap dibahas dalam Buku yang ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiah :
http://al-atsariyyah.com/?p=1718
2. membaca Quran, berzikir, bersholawat bersama,belajar agama dan mengenang sejarah nabi adalah perbuatan baik namun semua ada tempat dan waktunya.. semua ada caranya.. dan semua sudah diajarkan oleh Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam.
Adakah diantara para sahabat yang merayakan Maulid Nabi?
Bukankah mereka orang2 yang paling berilmu dan paling bersemangat dalam mengamalkan syariat..
Baca juga :
Dzikir Berjama’ah http://darussalaf.or.id/stories.php?id=41
Shalawat yang Bid’ah http://darussalaf.or.id/stories.php?id=224 dan http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=160
Tahlilan http://darussalaf.or.id/stories.php?id=617
Baarokallaahu fiikum..
Posted by Abubakar on 22 February, 2010 at 10:26
izin di copy ya akh..
@ tafaddhol.. Baarokallaahu fiikum.
Posted by mautauaja on 22 February, 2010 at 05:59
mohon penjelasan asal mula peristiwa maulid-mulud-maulud nabi ini. Klo tidak salah peristiwa ini terkait dengan mempertahankan kota yerussalem dari gempuran richard the lion heart – knight of templar – dll, dimana semangat perang pasukan Shalahuddin jatuh.
Klo dari segi hukum syariat, ini adalah bid’ah. Tapi dari segi mempertahankan semangat supaya kualitas muslim semakin baik atau bangkit, bagaimana?
@ maaf mas, sy baru OL lagi..
1. Pada masa sahabat juga banyak terjadi peperangan, namun tidak ada satupun diantara mereka yang melakukan Perayaan Maulid dengan niat untuk membangkitkan semangat muslimin, justru acara ini dimulai jauh setelah Rosulullah dan para sahabatnya wafat. padahal kita ketahui bahwa para sahabat “ilmunya” jauh lebih tinggi dibanding generasi yang sesudahnya.
Al Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang pertama kali mengadakan peringatan maulid Nabi adalah para raja kerajaan Fathimiyyah -Al ‘Ubaidiyyah yang dinasabkan kepada ‘Ubaidullah bin Maimun Al Qaddah Al Yahudi- mereka berkuasa di Mesir sejak tahun 357 H hingga 567 H. Para raja Fathimiyyah ini beragama Syi’ah Isma’iliyyah Rafidhiyyah. (Al Bidayah Wan Nihayah 11/172). Demikian pula yang dinyatakan oleh Al Miqrizi dalam kitabnya Al Mawaa’izh Wal I’tibar 1/490. (Lihat Ash Shufiyyah karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hal. 43)
atau yang lebih lengkap bisa dibaca disini :
http://antosalafy.wordpress.com/2008/03/05/definisi-dan-sejarah-munculnya-perayaan-maulid/
2. Niat yang baik saja tidak cukup, kalo dalam masalah Ibadah. karena syarat diterima amalan ada 2, Niat yang ikhlas untuk Allah Ta’ala dan Caranya harus mencontoh Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.
- Kalo cara ibadahnya sdh mencontoh Rosulullah, tapi niatnya tidak ikhlas maka termasuk Riya’ atau syirik.
- Sebaliknya jika niatnya ikhlas dan baik, tapi caranya tidak pernah dituntunkan oleh Rosulullah maka disebut Bid’ah yang terlarang.
jadi harus lengkap keduanya, sebagaimana 2 kalimah syahadat.
3. Memuliakan Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah suatu kewajiban, namun CARANYA juga harus seperti yang dicontohkan oleh Beliau ( hal ini dalam masalah ibadah, kalo masalah dunia tidak demikian), mengapa ? karena agama Islam ini sudah sempurna, tidak ada satupun permasalahan ibadah yang luput atau terlupakan oleh Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, melainkan Beliau sudah mengajarkannya.