طبيب الطب النبوي Dokter Pengobatan Nabawi

Islam, Hukum, Sholat, Tatacara

HUKUM BERDO’A DI DEKAT KUBURAN ROSULULLAH : Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam mendengar seluruh doa dan seruan yang dipanjatkan di dekat kuburan beliau, ataukah shalawat saja?

with 4 comments


Apakah Nabi Mendengar Doa Kita?

Pertanyaan: Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam mendengar seluruh doa dan seruan yang dipanjatkan di dekat kuburan beliau, ataukah shalawat saja? Sebagaimana di dalam hadits, “Barangsiapa bershalawat atasku di sisi kuburanku, niscaya aku mendengarnya…” hingga akhir hadits. Apakah hadits ini shahih, dha’if, atau maudhu’ (palsu) diatasnamakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam?

 

Jawaban:

Secara asal, orang-orang yang telah mati secara umum tidak bisa mendengar seruan dan doa dari manusia yang masih hidup. Hal ini sebagaimana Allah Subhanallahu wa Ta’ala sebutkan (yang artinya),

“… dan engkau tidak bisa memperdengarkan orang yang ada di dalam kubur.” (QS. Fathir: 22)

Dan tidak ada yang shahih dalam hadits yang menunjukkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam mendengar setiap doa atau seruan manusia sehingga terhitung sebagai kekhususan beliau. Yang shahih dari beliau shallallahu ‘alaihi wassalam hanyalah, shalawat dan salam dari orang yang mendoakan shalawat dan salam bagi beliau bisa sampai kepada beliau. Sama saja, orang itu memanjatkan shalawat dan salam di dekat kuburan beliau atau jauh dari kuburan beliau. Hal ini sebagaimana telah shahih dari Ali bin Husain bin Ali (bin Abi Thalib) radhiyallahu ‘anhum, bahwasanya dia melihat seseorang datang ke sebuah celah di dekat kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam. Dia pun memasukinya dan berdoa di dalamnya. Ali bin Husain pun melarangnya dan mengatakan, “Bagaimana jika aku katakan untukmu sebuah hadits yang aku dengar dari ayahku, dari kakekku dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda (artinya),

“Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat berkumpul dan jangan kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Dan bershalawatlah untukku, karena salam dari kalian sampai kepadaku di mana pun kalian berada.” (HR. Abu Ya’la, juga diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullahu di dalam buku Ahkamul Jana’iz)

Adapun hadits yang artinya,

“Tidak ada satu orang pun yang mengucapkan salam kepadaku, kecuali Allah akan mengembalikan ruhku, hingga aku membalas salamnya.” (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullahu)

Hadits ini tidak tegas menyatakan bahwa beliau mendengar salam dari seorang muslim. Tapi, hadits ini mengandung kemungkinan bahwa beliau membalasnya jika ada malaikat yang menyampaikan kepada beliau. Seandainya beliau mendengar salam dari seorang muslim, hal ini tidak berkonsekuensi masuknya doa dan seruan ke dalam hadits ini.

[Dialihbahasakan dari Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’, kumpulan fatwa Komite Tetap Urusan Riset Ilmu Syariat dan Fatwa diketuai Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu no. 4283 soal kedua]

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 04 vol. 01 1432 H – 2011 M, hal. 46-47.

http://fadhlihsan.wordpress.com/2011/06/24/apakah-nabi-mendengar-doa-kita/

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. apakah benar mendoakan keluarga tidak boleh,walaupun didalam rumah,tidak dikuburan ?

    ARif Budiman

    March 15, 2012 at 20:45

  2. Kalau hadits yang ditulis warna merah itu ditakwilkan dengan kemungkinan, bisa juga hadits yang dibawakan anda juga bisa ditakwilakn. Yang dimaksud putus amalnya adalah orang yang mati tadi tidak bisa menambah amal kebaikan atau keburukan, tetapi manfaat doa atau sedekah dari orang lain bisa sampai. Tolong jangan ditolak dulu. Pikirkan satu, dua…tiga kali atu pikir lagi apa yang saya katakan. Masuk akal enggak? He.he

    Abdullah

    March 13, 2012 at 07:11

  3. Haditsnya yang ditulis warna merah sudah jelas, kok masih ditakwilkan malaikat yang menyampaikan. Ini menunjukkan ingin memperkuat hujjahnya sendiri yang kadang musykil dengan pendapat orang lain, bahwa pendapat orang lain itu salah………aneh. Coba pikir sendiri haditsnya tanpa kita mempunyai sesuatu pendapat….Jadi hadits itu bagaimana maksudnya?He..he

    Abdullah

    March 13, 2012 at 07:07

  4. Terus apa solusinya? jikalau alfatiha juga tidak bisa dikrimkan kepada orang yang sudah meninggal contoh seperti saudara dan ortu?

    Adakah ajaran Islam mengajarkan tentang itu..karena semuanya serba bi’dah?

    [ini tidak boleh dan itu tidak boleh..terus apa yang harus dilakukan?]

    apakah MATI dibiarkan saja..tanpa ada doa-doa …tolong pencerahannya

    @ tidak usah membebani diri dengan amalan ibadah yang tidak dicontohkan oleh para salaf. cukup amalkan saja hadits yang Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari hadits Abi Hurairah bahwa Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Apabila anak Adam meninggal maka akan terputus amalnya kecuali tiga hal: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanafaat dan anak shaleh yang selalu mendo’akan kedua orang tuanya”.

    sangat jelas kan.. keluarga tidak akan memberikan manfaat apapun bagi orangtua setelah kematiannya (termasuk mengirim yasin, alfatihah, dll) kecuali si anak yang memintakan ampun baginya atau berdo’a saja..
    Wallaahu ‘alam.

    Hany

    October 25, 2011 at 13:13


Bagaimana menurut Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s